Optimisme Iran Menggagalkan Sanksi Ekonomi AS
-
Iran sudah 40 tahun berada di bawah sanksi AS, tetapi negara ini terus bergerak maju.
Presiden Iran Hassan Rouhani setelah penerapan sanksi tahap kedua Amerika Serikat mengatakan, "Hari ini apa yang dilakukan Amerika hanyalah menekan masyarakat biasa, bukan tekanan untuk orang lain. Tekanan ini ditujukan kepada masyarakat Iran, bangsa-bangsa lain, perusahaan-perusahaan lain, dan pemerintah lainnya. Hari ini kita bukan satu-satunya yang marah terhadap kebijakan AS, tapi perusahaan dan pemerintah Eropa juga marah terhadap kebijakan mereka."
Pada 5 November 2018, Presiden AS Donald Trump mengumumkan tahap kedua sanksi nuklir terhadap Republik Islam Iran. Sanksi ini menargetkan sektor energi, industri dirgantara, sektor perkapalan, dan perbankan Iran. Sanksi ini bermaksud memutuskan kerjasama ekonomi dunia dengan Iran. Washington berharap dapat memaksa Tehran untuk menandatangani kesepakatan baru terkait program nuklir.
Dalam hal ini, Kepala Pusat Studi Politik dan Internasional Kemenlu Iran, Mohammad Kazem Sajjadpour menuturkan Iran tidak akan menerima ancaman AS dan mustahil memaksa Tehran untuk melakukan negosiasi baru melalui penerapan sanksi.
Trump secara sepihak meninggalkan kesepakatan nuklir pada 8 Mei 2018. Dia mengklaim JCPOA hanya memenuhi kepentingan Iran dan merugikan AS, jadi sebuah kesepakatan baru harus ditandatangani.
AS ingin memasukkan isu-isu yang tidak ada kaitannya dengan masalah nuklir melalui sebuah kesepakatan baru. Kehadiran regional dan program misil Iran adalah dua unsur penting pembentuk kekuatan Republik Islam dan AS sedang berusaha untuk mengambil hal itu dengan cara apapun.
Kehadiran efektif di kawasan dan kemampuan misil telah membuat Iran menjadi sebuah kekuatan penentu dalam perimbangan regional. Pada 5 November lalu, Iran menggelar manuver gabungan Pertahanan Udara Velayat-97 di area seluas 500.000 kilometer persegi.
Iran berhasil menguji coba rudal Shalamcheh dan sistem anti-rudal jarak menengah Tabas pada hari kedua manuver Pertahanan Udara Velayat-97 yang digelar di wilayah utara, tengah dan barat Iran. Beberapa rudal dari darat ke udara Shalamcheh ditembakkan dan berhasil menghancurkan target yang berada di udara.
Sistem anti-rudal Tabas milik Angkatan Udara Korps Garda Revolusi Islam Iran (Pasdaran) juga sukses menghancurkan "sasaran musuh." Juru bicara manuver Velayat-97, Sayid Mahmoud Mousavi mengatakan kesuksesan uji coba ini membuktikan kemampuan Angkatan Bersenjata Iran. "Kami telah berhasil memproduksi sistem persenjataan yang sangat canggih dan perangkat keras militer di dalam negeri dengan menggunakan teknologi modern," tambahnya.
Tahap kedua sanksi AS dilaksanakan dengan kampanye luas dan permusuhan negara itu terhadap bangsa Iran sudah dimulai sejak kemenangan Revolusi Islam. Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei dalam sebuah pidato pada 3 November 2018 di Tehran, mengatakan salah satu manuver AS selama 40 tahun ini adalah menggunakan perang ekonomi.
"Jika mereka sekarang berkata sanksi adalah sebuah langkah baru terhadap Iran, sebenarnya mereka sedang menipu diri sendiri atau bangsa Amerika, karena sanksi sudah ada sejak awal kemenangan Revolusi Islam," ujarnya.
Sanksi tentu saja akan mempengaruhi kehidupan masyarakat Iran, tetapi mereka di berbagai periode berhasil melewati masa sulit ini dengan kesabaran dan perlawanan. Persatuan, solidaritas, dan perencanaan yang matang adalah syarat utama untuk melewati sanksi baru Amerika. Trump ingin menciptakan gesekan antara rakyat dan pemerintah Iran, tetapi AS tidak pernah berhasil mencapai tujuan ini selama 40 tahun terakhir.
Pawai 13 Aban tahun ini (Hari Nasional Melawan Arogansi Global) merupakan refleksi dari persatuan rakyat dan sistem Republik Islam, dan para peserta pawai secara tegas menyatakan perlawanan mereka terhadap imperialisme Amerika.
AS secara sepihak melanggar kesepakatan internasional dan tidak menggubris resolusi-resolusi PBB. Pendekatan Trump terhadap Iran adalah sebuah kebijakan yang tidak hanya menargetkan Tehran, tetapi melecehkan semua aturan hukum internasional dan negara-negara dunia.
Trump ingin memaksakan kehendaknya pada dunia dan memajukan kepentingan AS dengan cara apapun. Dalam kondisi seperti ini, negara-negara dunia harus menentang unilateralisme Paman Sam.
Meski negara-negara lain anggota JCPOA menentang pendekatan Trump dan menolak mengikuti sanksi ekstra-teritorial AS terhadap Iran, namun mereka juga perlu mengambil langkah-langkah praktis. Perancis baru-baru ini berjanji akan terus menentang sanksi AS dan meningkatkan peran mata uang euro di kancah internasional.
Menteri Ekonomi Perancis Bruno Le Maire mengatakan, kehadiran saluran keuangan khusus agar perdagangan dengan Iran tetap berjalan adalah bagian dari upaya Eropa untuk menjamin kedaulatan ekonominya sendiri dengan tujuan membuat euro sekuat dolar.
"Eropa tidak akan mengizinkan AS menjadi polisi perdagangan dunia. Penolakan atas sanksi Iran menunjukkan perlunya Uni Eropa untuk menegaskan kemandirian kami," tegas Le Maire.
Sejumlah negara Uni Eropa dalam sebuah statemen bersama, menekankan keputusan mereka untuk melanjutkan kerjasama dengan Rusia, Cina, dan negara-negara lain dengan tujuan mempertahankan hubungan finansial dengan Iran, dengan mengabaikan sanksi Amrerika.
Rusia sedang meningkatkan upayanya untuk mempercepat adopsi dan integrasi sistem pembayaran internasionalnya, yang dikenal sebagai Sistem Transfer Pesan Keuangan (SPFS). Sistem ini dikembangkan oleh Bank Sentral Rusia yang setara dengan Jaringan Internasional Komunikasi Antar Bank (SWIFT). Pembicaraan sedang berlangsung antara Rusia, Cina, Turki dan Iran.
Rusia memulai pengembangan SPFS pada tahun 2014 setelah AS mengancam akan memutuskan akses Rusia ke SWIFT. Transaksi SPFS pertama berlangsung pada Desember 2017.
Kepala Komite Parlemen Rusia untuk Pasar Keuangan, Anatoly Aksakov mengatakan SPFS sekarang lebih populer daripada SWIFT dan jumlah pengguna sistem Rusia ini melebihi jumlah negara yang menggunakan SWIFT.
"Kami sudah mengadakan pembicaraan dengan Cina, Iran dan Turki, bersama dengan beberapa negara lain untuk menghubungkan sistem kami dengan sistem mereka, Sistem ini harus terintegrasi dengan baik satu sama lain untuk menghindari masalah dengan menggunakan sistem perpesanan keuangan internal negara," kata Aksakov.
Saat ini, Iran terus bergerak untuk mencapai kemajuan di tengah tekanan ekonomi Amerika. Para ilmuwan Iran sedang gencar mengembangkan riset dan memproduksi kebutuhan dalam negeri sebagai cara untuk melewati semua masalah.
Menurut Wakil Komandan Pasdaran Iran, Brigadir Jenderal Hossein Salami, perlawanan dan sikap konsisten bangsa Iran terhadap ancaman dan tekanan telah menghadirkan peluang emas bagi bangsa ini. "Dalam waktu dekat dengan melewati semua masalah ekonomi dan politik, kita akan menyaksikan Iran yang kuat dan kian meredupnya (kekuatan) musuh," ujarnya.
Pengalaman 40 tahun menunjukkan bahwa tidak ada persoalan yang tidak bisa dipecahkan. Dengan tekad rakyat dan pemerintah, bangsa Iran akan mengubah tantangan ini menjadi sebuah kesuksesan.
"Rakyat Iran akan kembali membuat Amerika berputus asa," ujar Menteri Luar Negeri Mohammad Javad Zarif dalam menanggapi sanksi tahap kedua AS.
Ayatullah Khamenei menilai sanksi AS terhadap Iran sebagai hal yang sia-sia. "Melalui sanksi, AS berusaha mengekang ekonomi Iran. Namun, sebagai akibat dari sanksi, gerakan menuju swasembada semakin bergelora di Iran. Rakyat Iran dulu mengimpor produk selama bertahun-tahun, tetapi kini mereka sudah terbiasa untuk memproduksi segalanya," tambahnya.
"Dalam sebuah perspektif yang lebih luas, kekuatan dan hegemoni AS di dunia semakin meredup dan sirna. Amerika hari ini jauh lebih lemah dari Amerika empat dekade lalu," ungkap Ayatullah Khamenei. (RM)