Dari Peringatan IEA hingga Krisis Tersembunyi di Balik Harga Minyak
https://parstoday.ir/id/news/world-i188868-dari_peringatan_iea_hingga_krisis_tersembunyi_di_balik_harga_minyak
Pars Today - Dunia kehilangan 550 juta barel minyak Teluk dalam 50 hari. Harga mungkin tampak stabil, tetapi di balik layar, krisis energi terbesar dalam sejarah sedang mengintai.
(last modified 2026-04-23T14:38:31+00:00 )
Apr 23, 2026 21:37 Asia/Jakarta
  • Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol
    Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol

Pars Today - Dunia kehilangan 550 juta barel minyak Teluk dalam 50 hari. Harga mungkin tampak stabil, tetapi di balik layar, krisis energi terbesar dalam sejarah sedang mengintai.

Peringatan IEA: Ancaman Keamanan Energi Terbesar dalam Sejarah

Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, memperingatkan bahwa perang terhadap Iran dan penutupan Selat Hormuz telah menciptakan ancaman keamanan energi terbesar dalam sejarah.

Dalam wawancara dengan CNBC di Singapura, Birol menyatakan bahwa pasar telah kehilangan 13 juta barel per hari pasokan minyak dan mengalami gangguan besar pada komoditas kritis. Sebelum perang, rata-rata 20 juta barel minyak dan produk olahan melewati Selat Hormuz setiap hari. Jalur ini sekarang secara efektif berada di bawah "blokade ganda", baik Iran maupun AS tidak mengizinkan kapal masuk atau keluar.

Bentrokan di Eropa: Risiko Pasokan Bahan Bakar Pesawat

Birol juga memperingatkan tentang risiko pasokan bahan bakar jet yang semakin meningkat di Eropa. Kawasan itu sebelumnya sangat bergantung pada kilang-kilang Asia Barat untuk 75 persen kebutuhan bahan bakar jet mereka, dan pasokan ini kini pada dasarnya menjadi nol.

Eropa sedang berusaha mengamankan pasokan alternatif dari Amerika Serikat dan Nigeria, tetapi jika gangguan berlanjut, pemerintah mungkin perlu mempertimbangkan langkah-langkah untuk membatasi perjalanan udara.

Solusi: Buka Selat Hormuz

IEA telah menyetujui pelepasan 400 juta barel minyak dari cadangan darurat pada bulan Maret untuk mengurangi dampak guncangan pasokan. Namun, Birol menggarisbawahi bahwa ini hanya solusi sementara.

"Obatnya adalah membuka Selat Hormuz," tegasnya .

The Economist: Ketenangan Pasar Menipu

Majalah The Economist menggambarkan ketenangan harga minyak saat ini sebagai "sangat menyesatkan".

Setelah Menteri Luar Negeri Iran menyatakan bahwa Selat Hormuz "sepenuhnya terbuka" pada 17 April, harga minyak Brent turun sekitar 10 persen menjadi 90 dolar per barel. Namun, hanya beberapa jam kemudian, Iran kembali menutup selat tersebut, menyebabkan harga melonjak sekitar 5 persen pada sesi perdagangan berikutnya.

Meskipun harga minyak Brent masih bertahan di dekat 100 dolar per barel pada 22 April, dunia telah kehilangan sekitar 550 juta barel minyak Teluk dalam 50 hari perang, hampir 2 persen dari output global tahun lalu.

Bahkan jika Selat Hormuz dibuka hari ini, akan diperlukan waktu berbulan-bulan bagi produksi minyak Teluk, pengiriman, dan produksi kilang untuk pulih sepenuhnya.

Asia Paling Terdampak, Eropa Mulai Merasakan

Tekanan terbesar dari krisis ini pertama kali dirasakan di Asia, karena kawasan itu adalah tujuan utama ekspor minyak Teluk Persia. Beberapa kilang Asia telah mengurangi tingkat operasi mereka karena kekurangan minyak mentah.

Harga spot untuk bensin, solar, dan bahan bakar jet di pasar regional telah meningkat tajam:

Bensin mendekati 120 dolar per barel

Solar mencapai 175 dolar per barel

Bahan bakar jet menyentuh 200 dolar per barel

Sementara itu, Eropa juga mulai mengalami kesulitan dalam mengisi kembali cadangan gas untuk persiapan musim dingin. Harga tetap tinggi meskipun permintaan musiman untuk pemanas menurun. Beberapa negara Eropa bahkan mungkin diizinkan untuk menurunkan target pengisian penyimpanan gas mereka hingga 75 persen untuk mengurangi tekanan harga.

Ketenangan di permukaan menyembunyikan pusaran di kedalaman. Dunia kehilangan 550 juta barel minyak dalam waktu kurang dari dua bulan, dan cadangan pelampung yang melindungi kita dari kejutan pasokan sekarang telah habis.

Asia, yang paling bergantung pada minyak Teluk, sedang berdarah lebih dulu. Namun Eropa, yang sekarang masih disubsidi oleh pemerintahnya, akan segera merasakan pukulan ketika mereka mulai mengisi cadangan gas untuk musim dingin.

Pembukaan Selat Hormuz bukan lagi sekadar solusi diplomatik. Ini adalah kebutuhan eksistensial bagi ekonomi global. Tanpanya, dunia sedang berjalan menuju jurang, dan waktu hampir habis.(sl)