Trump Batal Serang Iran Lagi, Kali Ini Gara-gara Pangeran Arab
https://parstoday.ir/id/news/world-i190136-trump_batal_serang_iran_lagi_kali_ini_gara_gara_pangeran_arab
Pars Today - Presiden AS Donald Trump, Senin (18/5) malam, untuk kesekian kalinya membatalkan serangan militernya terhadap Iran, kali ini dengan alasan para pemimpin Arab memintanya dengan alasan "negosiasi yang serius".
(last modified 2026-05-19T07:49:47+00:00 )
May 19, 2026 14:48 Asia/Jakarta
  • Presiden AS Donald Trump
    Presiden AS Donald Trump

Pars Today - Presiden AS Donald Trump, Senin (18/5) malam, untuk kesekian kalinya membatalkan serangan militernya terhadap Iran, kali ini dengan alasan para pemimpin Arab memintanya dengan alasan "negosiasi yang serius".

Dilansir Pars Today, 19 Mei 2026, Trump menulis di Truth Social bahwa Emir Qatar, Putra Mahkota Saudi, dan Presiden UAE memintanya untuk menunda "serangan militer yang kami rencanakan" terhadap Iran yang dijadwalkan Selasa (19/5).

Menurut Trump, mereka meyakinkannya bahwa negosiasi serius sedang berlangsung dan "kesepakatan akan tercapai" yang sangat dapat diterima AS dan semua negara di Timur Tengah dan sekitarnya.

Trump mengklaim bahwa kesepakatan potensial itu akan mencakup "TIDAK ADA SENJATA NUKLIR UNTUK IRAN!".

"Ini adalah perkembangan yang sangat positif," kata Trump kepada wartawan, seraya mengakui bahwa ada "periode waktu" ketika para pejabat AS mengira kesepakatan sudah dekat, "tapi ini sedikit berbeda".

Ia juga memerintahkan Pentagon untuk "tetap siap melancarkan serangan skala penuh terhadap Iran, dalam sekejap," jika kesepakatan yang dapat diterima tidak tercapai.

Kronologi "Bolak-balik" Trump: Dari Ultimatum ke Penundaan

Ini adalah kelima kalinya Trump menetapkan tenggat waktu bagi Iran untuk memenuhi tuntutannya, dan kelima kalinya pula ia mundur beberapa jam sebelum tenggat waktu berakhir.

Ultimatum 1-4: Sebelumnya Trump memberi Iran tenggat waktu untuk setuju pada kesepakatan yang mengakhiri perang, membuka Hormuz, dan melucuti program nuklirnya. Setiap kali Iran mengabaikannya, Trump mengundurkan tenggat tanpa aksi militer.

Sekarang (Ultimatum ke-5): Tenggat Selasa. Trump mundur lagi, kali ini mengklaim para pemimpin negara-negara Teluk Persia memintanya menunggu.

Iran sendiri telah berulang kali menyatakan tidak akan bernegosiasi di bawah ancaman, dan tidak akan membahas program nuklirnya dalam putaran ini, karena haknya diakui dalam Traktat Nonproliferasi Nuklir (NPT), yang tidak ditandatangani Israel.

Seorang sumber Pakistan yang mengetahui proses mediasi mengatakan, "Para pihak terus mengubah tiang gawang mereka," dan mengakui bahwa "kita tidak punya banyak waktu".

Sementara itu, Panglima Markas Khatamul Anbiya, Jenderal Ali Abdollahi, memperingatkan bahwa angkatan bersenjata Iran "lebih siap dan lebih kuat dari sebelumnya", dengan jari di pelatuk, siap membalas setiap agresi baru. Dan pernyataan para pemimpin Teluk? Itu hanya dalih. Trump mundur bukan karena mendengar suara akal sehat dari Riyadh atau Abu Dhabi, tetapi karena realitas bahwa tidak ada kemenangan mudah atas Iran. Dan dunia sudah terbiasa dengan ritual "maju-mundur" Trump ini, seperti menonton sandiwara yang sama, dengan aktor yang sama, di panggung yang sama.

Trump bilang: "Mereka minta saya untuk menunda." Tapi yang sebenarnya terjadi: "Saya tidak punya pilihan selain menunda karena tidak ada yang siap mendukung perang lain." Para pangeran itu mungkin memang menelepon, tetapi telepon itu hanya alasan. Alasan kelima dalam satu musim. Ini bukan tentang 'penghormatan terhadap para pemimpin Arab'. Ini tentang Trump yang tidak tahu bagaimana mengakhiri kekacauan yang ia mulai sendiri dan setiap tenggat yang lewat adalah pengakuan diam-diam atas ketidakmampuannya.(Sail)