AS Pengobar Krisis di Timur Tengah
https://parstoday.ir/id/news/iran-i65346-as_pengobar_krisis_di_timur_tengah
Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Mohammad Javad Zarif mengatakan, Amerika Serikat dan sekutunya bertanggung jawab atas penderitaan dan krisis di kawasan Timur Tengah mulai dari Saddam Hussein hingga kelompok teroris Daesh, dan bukannya Republik Islam Iran.
(last modified 2026-03-29T09:39:21+00:00 )
Des 14, 2018 16:44 Asia/Jakarta
  • Tentara AS di Irak
    Tentara AS di Irak

Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Mohammad Javad Zarif mengatakan, Amerika Serikat dan sekutunya bertanggung jawab atas penderitaan dan krisis di kawasan Timur Tengah mulai dari Saddam Hussein hingga kelompok teroris Daesh, dan bukannya Republik Islam Iran.

Zarif Kamis sore (13/12) seraya menjelaskan bahwa Amerika dan sekutunya harus mengakhiri omong kosong munafiknya terkait rudal dan kebijakan regional Iran mengingatkan, "AS dan sekutunya menjual senjata ratusan miliar dolar kepada algojo rakyat Yaman."

 

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dan Utusan khusus kemenlu AS untuk isu Iran, Brian Hook hari Rabu (12/12) usai sidang Dewan Keamanan PBB terkait resolusi 2231 menjadikan program rudal dan aktivitas regional Iran sebagai basis klaim anti Tehran mereka.

Mohammad Javad Zarif

 

Dua petinggi AS ini menganggap program rudal Iran melanggar resolusi 2231 Dewan Keamanan dan kemudian menyatakan kehadiran serta peran Iran di kawasan merusak.

 

Brian Hook mengklaim, seluruh ancaman terhadap perdamaian dan keamanan muncul dari Iran dan program rudal negara ini merupakan kekhawatiran paling serius yang harus diselesaikan Dewan Keamanan.

 

Agitasi anti Iran petinggi Amerika dilancarkan ketika puncak dari permusuhan Washington terhadap bangsa Iran mengkristal di era pemerintahan Donald Trump. Dan apa yang tengah berlangsung di hari-hari ini adalah pemutarbalikan realita di kawasan.

 

Berbagai bukti dan statemen pengamat, bahkan sejumlah elit politik AS dengan baik dapat dipahami bahwa pihak yang menjadi ancaman bagi kawasan dan dunia bukan Iran tapi justru AS dan sekutunya di kawasan Asia Barat.

 

Di kondisi seperti ini, menjadikan program rudal Iran sebagai alasan sebuah koridor untuk memajukan kebijakan arogan dan unilateral pemerintahan Donald Trump. Pendekatan seperti ini justru menjadi ancaman serius bagi perdamaian dan keamanan global.

 

Dukungan terhadap rezim Sadam Hussein di Irak dan kemudian agresi militer ke Baghdad untuk menumbangkan rezim ini serta dibarengi dengan pembentukan kelompok teroris dengan ideologi Wahabi Saudi menjadi cikal bakal kendala di kawasan baik di masa lalu, maupun untuk saat ini.

 

Amerika dan sejumlah negara Barat lainnya bertanggung jawab atas proses ini dan bahkan ketika kita menyaksikan perang di Yaman, maka tanggung jawab tersebut semakin besar.

 

Amerika ketika menjadikan program rudal Iran sebagai sumber untuk memajukan rencana Iranphobia di kawasan, rudal Iran tidak pernah menarget nyawa warga sipil di kawasan Timur Tengah. Dalam hal ini, perang di Irak, Suriah dan Yaman mendorong senjata Amerika membanjiri kawasan dan rakyat tak berdosa dibantai dengan senjata-senjata tersebut.

 

Laporan yang dirilis lembaga SIPRI menunjukkan antara tahun 2013 hingga 2017, Amerika menjamin 61 persen impor senjata Arab Saudi. Inggris dan Perancis juga menempati posisi berikutnya. Koran New York Times cetakan AS baru-baru ini melaporkan, banyak warga sipil Yaman tewas akibat serangan bom AS dan Inggris ke pasar-pasar dan acara pernikahan di negara Arab miskin ini.

 

Selain itu, ribuan warga Irak dan Suriah tewas akibat senjata AS yang diberikan kepada kelompok teroris Daesh. Kelompok teroris ini berkembang di bawah dukungan Arab Saudi dan ideologi Wahabi dan kini setelah mengalami kekalahan di Irak dan Suriah mulai pindah ke Afghanistan.

 

Medea Benjamin, aktivis anti perang di AS berulang kali merespon klaim anti Iran Washington dan menekankan, "Bicaralah terkait negara seperti Arab Saudi, negara Arab ini menjadi ancaman terbesar bagi masyarakat internasional."

 

Senator Lindsey Graham di artikelnya yang dimuat Koran Wall Street Journal menulis, kebijakan Arab Saudi dan Putra Mahkota Mohammad bin Salman pemicu instabilitas di kawasan Timur Tengah.

 

Mengingat realita ini, apa yang digulirkan petinggi AS dalam beberapa hari ini terkait Iran, menurut menlu Iran adalah statemen munafik dan tidak relevan. (MF)