Iran Tetap Independen, Apapun Imajinasi Menlu AS
-
Bendera Republik Islam Iran
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat dalam kunjungan ke Kairo, ibukota Mesir kembali melanjutkan kebijakan Iranphobia dan menunjukkan puncak permusuhan dengan Iran demi memajukan kebijakan regional Amerika.
Mike Pompeo, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat hari Kamis (10/01) di Kairo mengatakan bahwa sanksi ekonomi AS terhadap Iran adalah sanksi tersulit yang pernah dijatuhkan kepada Iran dan bahkan lebih sulit bagi Iran untuk berperilaku seperti negara normal. Menlu AS kemudian dalam sebuah tweet yang menunjukkan kemarahan negara itu atas pengaruh Iran dalam keseimbangan regional dan mengklaim bahwa dunia sadar akan luasnya ancaman Iran.
Tuduhan semacam ini yang dibuat oleh Menteri Luar Negeri Amerika Selama selama tur regionalnya bukanlah hal baru dan telah disampaikan berulang kali oleh para pejabat Amerika untuk memajukan kepentingan mereka di wilayah strategis Asia Barat. Iran sebagai negara dan aktor berpengaruh dalam perimbangan regional memiliki pengaruh signifikan pada kawasan dan pengaruh ini demi menciptakan perdamaian dan keamanan global.
Jenis tindakan di Republik Islam Iran di wilayah Asia Barat telah mengganggu perimbangan AS dan sekutu-sekutunya, dan dalam situasi seperti itu, memperkenalkan Iran sebagai ancaman oleh para pejabat pemerintah gemar perang hanya dalam konteks memberikan keuntungan ekonomi dan politik bagi AS dalam bekerjasama dengan rezim-rezim Arab.
Peran Iran di kawasan Asia Barat telah berkontribusi pada perwujudan keamanan dan perdamaian, kegagalan kelompok teroris Daesh di Irak dan Suriah dan semua ini menunjukkan pengaruh konstruktif dan stabilisasi Iran di kawasan itu. Namun, studi tentang sejarah perkembangan di kawasan Asia Barat menunjukkan bahwa kehadiran pasukan asing, termasuk Amerika, dengan berbagai alasan di wilayah ini, hanya menciptakan ketegangan, ketidakamanan dan perselisihan, tidak ada hasil yang lain.
Dalam hal ini, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Jawad Zarif dalam menanggapi pernyataan Menlu AS di Kairo mengatakan bahwa kapan pun dan di mana pun AS campur tangan yang terjadi adalah kekacauan, penindasan dan kemarahan.
Stephen Walt, dosen Hubungan Internasional di Universitas Harvard baru-baru ini di Jurnal Foreign Policy menulis, "Kehadiran Amerika Serikat di kawasan memiliki efek yang hampir sepenuhnya negatif. Sementara munculnya Daesh dan ribuan orang yang terbunuh adalah hasil dari invasi Amerika Serikat ke Irak tahun 2003. .
Selain memperkenalkan Iran sebagai ancaman, Menlu AS saat berbicara di Kairo juga membuka mulut soal imajinasi bohong, dimana selama 40 tahun terakhir pejabat Amerika telah mencoba segala upaya untuk mencapainya, tetapi hanya menemui pintu yang tertutup. "Perubahan perilaku Iran dan transformasi republik Islam menjadi sistem politik yang melayani Amerika Serikat" adalah mimpi yang belum ditafsirkan dalam empat puluh tahun Revolusi Islam dan telah memicu frustrasi Amerika.
Donald Trump, Presiden Amerika Serikat berusaha membujuk Iran dengan berbagai cara untuk bergerak dengan cara yang diinginkan Amerika, tetapi pengalaman 40 tahun sejak Revolusi Islam telah membuktikan bahwa bangsa Iran tidak akan pernah menerima dipermalukan. Menurut Zarif, hari dimana Iran ingin menjadi negara "normal" untuk meniru pemerintah boneka Amerika dan "model hak asasi manusia" Pompeo tidak akan pernah tiba.
Dalam nada yang sama, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatollah al-Udzma Sayid Ali Khamenei tiga bulan lalu dalam pertemuan dengan 100.000 orang Basij di Stadion Azadi di Tehran mengatakan, "Jelas, rakyat Iran dan generasi baru telah memutuskan untuk tidak dipermalukan lagi dan tidak mengikuti kekuatan asing dan musuh; telah memutuskan untuk membawa Iran ke puncak kemuliaan dan martabat serta memiliki kemampuan ini.