Brigjen Bagheri Peringati AS: Coba Menindak Iran, Bakal Mendapat Balasan Keras
https://parstoday.ir/id/news/iran-i80046-brigjen_bagheri_peringati_as_coba_menindak_iran_bakal_mendapat_balasan_keras
Presiden AS Donald Trump terjebak dalam rawa wabah cepat virus Corona di negaranya dan sekarang dengan retorika dan literatur yang mengancam berusaha menyebut Iran sebagai faktor yang menciptakan ketegangan dan krisis di kawasan.
(last modified 2026-06-28T17:50:40+00:00 )
Apr 03, 2020 07:52 Asia/Jakarta

Presiden AS Donald Trump terjebak dalam rawa wabah cepat virus Corona di negaranya dan sekarang dengan retorika dan literatur yang mengancam berusaha menyebut Iran sebagai faktor yang menciptakan ketegangan dan krisis di kawasan.

Dalam catatannya di Twitter, Trump mengklaim, "Menurut informasi dan kepercayaan, Iran bersama kelompok-kelompok afiliasinya merencanakan serangan mendadak terhadap pasukan atau fasilitas AS di Irak. Jika itu terjadi, Iran akan membayar mahal."

Donald Trump, Presiden Amerika Serikat

Trump pada jumpa pers hari Kamis (02/04/2020), masih dalam pernyataan ilusinya mengulangi kembali ancamannya terhadap Iran lalu mengklaim bahwa pukulan hebat terjadi pada ekonomi dan kekuatan militer Iran, dan bahwa Amerika Serikat siap membantu Iran.

Kepala Staf Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran, Mayjen Mohammad Bagheri menanggapi pernyataan ini dengan menyinggung pergerakan militer Amerika Serikat di Irak dan Teluk Persia mengingatkan, "Republik Islam Iran dengan kewaspadaan penuh mengamati perbatasan darat, udara dan laut, dan mengawasi seluruh pergerakan yang ada. Bila Amerika Serikat bersikap tamak, melakukan tindakan atau memandang buruk terhadap keamanan Iran, pasti akan menghadapi reaksi paling kuat."

Terkait strategi keamanan dan dalam menghadapi musuh serta agresor, Iran telah menunjukkan bahwa Iran bukan hanya mempertahankan keamanannya, tetapi bila diperlukan juga memiliki kemampuan untuk melawan unsur-unsur pengganggu stabilitas dan keamanan yang mengganggu di kawasan dan merespons dengan kuat segala agresi.

Amerika Serikat tentu saja tidak lupa bahwa setelah serangan teroris bulan Januari terhadap Qassem Soleimani, Komandan Syahid Pasukan Quds Iran yang mengunjungi Irak atas undangan para pejabat negara ini, Republik Islam Iran memberikan tamparan keras dan Angkatan Udara-Antariksa Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) membombardir pangkalah militer Ain al-Assad, pangkalan militer AS terbesar di Irak dengan serangan rudal.

Republik Islam Iran, berdasarkan kemampuan militernya untuk mencegah dan mempertahankan diri adalah kekuatan yang terbukti dalam konteks bantuan konsultasi militer ke Irak dalam perang melawan kelompok-kelompok teroris dan memainkan peran strategis dalam mengalahkan Daesh (ISIS) di Suriah.

Presiden AS, sementara mengidentifikasi Iran sebagai ancaman, sangat menyadari bahwa masyarakat di kawasan, termasuk warga Irak, menentang intervensi dan kehadiran militer mereka, dan bahwa kehadiran militer AS di Irak melanggar hukum berdasarkan resolusi parlemen Irak.

Intervensi dan pendudukan AS selama 18 tahun di Afghanistan tidak memiliki capaian apa-apa selain perang dan pertumpahan darah dan telah menciptakan pertikaian dan instabilitas.

Dalam catatan kritis terhadap kebijakan Presiden AS, Intercept Analyst menulis bahwa pertanyaannya adalah siapa yang akan mengambil risiko perang di tengah wabah global?

Brigadir Jenderal Ahmad Reza Pourdastan, Kepala Pusat Studi Strategis di Militer Republik Islam Iran seraya menyinggung banyak masalah yang dihadapi Amerika Serikat mengatakan, "Sebelum membuka front baru di Irak, Lebih baik AS membantu warga New York, Florida dan di tempat lain yang tengah berjuang menghadapi virus Corona, sementara pemerintah AS sendiri sudah berputus asa penuh dalam membantu mereka. Langkah-langkah yang dilakukan Amerika di Irak adalah karena gerakan rakyat dan tekanan yang telah dilakukan oleh Front Perlawanan terhadap pasukan AS di Irak dan menargetkan pangkalan-pangkalan AS."

Brigadir Jenderal Ahmad Reza Pourdastan, Kepala Pusat Studi Strategis di Militer Republik Islam Iran

"Jika Amerika Serikat melakukan kesalahan di Irak, balasan terhadap mereka tidak akan terbatas pada geografi Irak dan dapat ditargetkan di mana pun kepentingan Amerika," ungkap Brijgen Pourdastan.

Jelas bahwa Iran berbicara bahasa ancaman terhadap mereka yang melontarkan ancaman. Iran tidak memulai perang, tetapi menurut Mohammad Javad Zarif, Menteri Luar Negeri Iran, "akan mengajari kesopanan kepada mereka yang harus perang".