Araghchi: Jika Ingin Kembali ke JCPOA, AS harus Cabut Sanksi
-
Abbas Araghchi.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi mengatakan jika kebijakan pemerintahan baru AS adalah kembali ke dalam kesepakatan nuklir JCPOA, tentunya mereka harus mencabut sanksi dan mematuhi kesepakatan secara penuh.
Araghchi dalam wawancara dengan televisi CGTN, Rabu (10/2/2021), menanggapi statemen Presiden AS Joe Biden, yang mengatakan bahwa ia tidak akan mencabut sanksi terhadap Iran terlebih dahulu sebelum Iran menghentikan pengayaan uranium.
"Apa yang dia katakan telah dikoreksi oleh sumber lain bahwa yang dimaksud oleh Biden adalah pengayaan di luar JCPOA. Tapi mengenai siapa yang lebih dulu kembali ke JCPOA, saya harus katakan bahwa situasinya cukup jelas. Bukan Iran yang meninggalkan JCPOA, melainkan AS," ujarnya.
Araghchi menjelaskan bahwa AS menghentikan partisipasinya dalam JCPOA. Mereka meninggalkan meja perundingan dan menerapkan kembali sanksi dan bahkan memberlakukan sanksi baru terhadap Iran.
Jadi, lanjutnya, semua orang akan mengatakan AS yang harus kembali lebih dulu. Setelah AS kembali dan mencabut sanksi terhadap Iran, dan kami juga memverifikasi bahwa sanksi benar-benar telah dicabut, kami pun akan segera memenuhi kewajiban JCPOA secara penuh.
"Pada dasarnya, apa yang kami lakukan adalah menutupi kerugian akibat pelanggaran JCPOA oleh AS. Pengurangan komitmen oleh Iran sebenarnya adalah tindakan untuk menutupi kerugian berdasarkan paragraf 36 JCPOA," kata Araghchi.
Presenter CGTN kemudian meminta pendapat Araghchi tentang rencana Presiden Biden untuk memasukkan program rudal Iran dan isu-isu regional lainnya dalam perundingan JCPOA dengan Tehran.
Dia menegaskan bahwa Iran sama sekali tidak menerima hal itu dan JCPOA hanya tentang program nuklir Iran.
"Ketika kami menegosiasikan JCPOA bersama dengan Cina, Rusia, Eropa, dan AS, kami semua sepakat untuk tidak terlibat dalam subjek lain di luar program nuklir Iran," ungkapnya.
Sayangnya, kata Araghchi, JCPOA telah menjadi pengalaman yang sangat buruk bagi rakyat Iran. Ini membuktikan bahwa mereka tidak dapat mempercayai janji negara-negara Barat. (RM)