Metaruptions dan Krisis Cara Pandang terhadap Masa Depan
Oleh: Purkon Hidayat, Praktisi Futures Studies, Dosen Tamu Kajian Asia Tenggara Universitas Tehran
Barangkali Anda pernah mendengar adagium terkenal dari filsuf Yunani, "Manusia tak pernah menginjak sungai yang sama dua kali". Ungkapan Heraclitus ribuan tahun silam ini menegaskan bahwa dunia selalu berubah. Air sungai mengalir, dan manusia pun ikut bergerak. Kini, masalah zaman kita bukan karena dunia bergerak terlalu cepat, melainkan karena cara pandang terhadap masa depan belum ikut bergerak.
Kegelisahan inilah yang tercermin dalam laporan Compass edisi khusus November 2025 yang mengusung judul besar "What Makes a Futurist?". Dunia digambarkan berada dalam fase peralihan: tatanan lama belum runtuh sepenuhnya, tetapi tak lagi memberi orientasi. Ketidakpastian bukan gangguan sementara, melainkan kondisi struktural. Persoalan utamanya bukan dunia yang semakin tak pasti, melainkan asumsi lama yang masih kita gunakan untuk memahaminya mengenai stabilitas, linieritas, dan keterkendalian.
Dalam konteks inilah istilah metaruptions mengemuka. Bahkan Disruptive Futures Institute yang digawangi Roger Spitz menyebut tahun 2026 sebagai awal dimulainya metaruptions.Terma ini dipopulerkan dalam praktik foresight global oleh Dubai Future Foundation sebagai bahasa kerja untuk menamai kegelisahan ketika kosakata lama tentang disrupsi tak lagi memadai. Metaruptions menandai perubahan pada cara krisis bekerja: tidak lagi sektoral dan episodik, tetapi hadir serempak, lintas bidang, dan saling memperkuat.
Di luar kritik saya terhadap epistemic lag dalam konseptualisasinya, yang menarik dari metaruptions adalah kemampuannya mendiagnosis dengan cukup tajam kompleksitas masalah global saat ini. Namun sebagai diagnosis, ia belum cukup menjadi pegangan. Pertanyaan yang lebih mendasar justru muncul: jika peta lama tidak lagi bekerja, bagaimana seharusnya kita memahami dan mengorientasikan diri terhadap masa depan?
Di sinilah krisis cara mengetahui masa depan muncul. Ketika prediksi dianggap mustahil, respons sering berhenti pada kesiapsiagaan dan adaptasi. Semua penting, tetapi tanpa orientasi, kecepatan berubah menjadi reaktivitas.
Dalam konteks Indonesia, metaruptions hadir sebagai pengalaman nyata. Banjir berulang, krisis ekologis, transisi energi, disrupsi digital, dan polarisasi demokrasi adalah gejala dari cara pandang masa depan yang terfragmentasi. Indonesia tidak kekurangan data, tetapi kerap mengalami ketidaksinkronan antara pengetahuan jangka panjang dan keputusan jangka pendek.
Implikasinya terasa dalam arsitektur kebijakan. Instrumen perencanaan nasional masih bertumpu pada logika linier dan indikator jangka pendek. Padahal era metaruptions menuntut kapasitas antisipatif: menyelaraskan jenis pengetahuan dengan jenis keputusan, serta membuka ruang penyesuaian dini agar kebijakan tetap relevan.
Pada akhirnya, metaruptions membawa kita pada pertanyaan makna. Viktor Frankl dalam "Man’s Search for Meaning" mengingatkan bahwa manusia bertahan bukan karena menguasai situasi, tetapi karena menemukan makna. Dengan nada seirama, tapi lebih tajam, Mulla Sadra dalam magnum opusnya "Al-Asfar al-Arba‘ah" menegaskan bahwa perubahan sejati bersifat substansial, yang mengubah cara kita menjadi. Maka, membaca metaruptions secara tajam berarti menyadari bahwa yang dituntut bukan sekadar aksi antisipatif dengan kelincahan merespons, melainkan keberanian untuk bertransformasi dalam mengubah tujuan, nilai, dan kesadaran yang menopang keputusan.
Jika Heraclitus mengingatkan bahwa dunia selalu mengalir, maka Frankl dan Mulla Sadra membantu kita memahami bagaimana agar tidak hanyut. Di era metaruptions, tantangan terbesar kita bukan menahan arus perubahan, melainkan menemukan makna dan menata arah di dalam arus itu sendiri, agar masa depan tidak sekadar datang, tetapi secara sadar kita bentuk bersama.