Menulis Tanpa AI
Khusnul Yaqin, Guru Besar Ekotoksikologi Perairan, Universitas Hasanuddin
AI memang membuat tulisan menjadi lebih cepat rampung. Bagi para pemburu kecepatan, AI menjadi mesin sulap abra kadabra yang ditunggu-tunggu. Tetapi, coba amati, rasakan, serta renungi secara saksama dan mendalam. Tulisan ciptaan AI adalah karya yang kehilangan ruhnya. Sentuhan renungan panjang terhadap suatu gagasan akan menipis, untuk tidak menyebutnya sirna sama sekali.
Terlalu sering mengandalkan AI dalam menulis, sebagaimana kini dimantrakan sekaligus diajarkan oleh sebagian pengajar di universitas, akan membuat manusia kehilangan daya imajinasinya dalam mengelola dan mengukirkan kata-kata, baik pada wahana digital maupun hard copy. Padahal, tulisan merupakan sidik jari jiwa penulis. Sidik jari jiwa dalam tulisan itulah yang paling menarik. Ia berasal dari atom demi atom yang muncul dari relung jiwa sang penulis. Dari situlah para pembaca tidak hanya menikmati gagasan, tetapi juga merasakan kehadiran jiwa penulisnya.
Membaca karya tulis Imam Khomeini akan sangat berbeda dengan membaca tulisan Frithjof Schuon. Hal ini karena sidik jari jiwa dua penulis itu berbeda, meskipun keduanya sama- sama filsuf. Ketika sebuah tulisan diproduksi oleh AI, sidik jari itu musnah. Yang tersisa hanyalah untaian kata demi kata yang diproduksi mesin.
Bagi mereka yang tidak terbiasa membaca, karya tulis AI mungkin terasa ajaib karena gagasannya sering berada di luar cara berpikir yang lazim. Namun, bagi mereka yang gemar membaca, tulisan produksi AI seperti sayur asam tanpa garam, bahkan tanpa asam.Oleh karena itu, biasakanlah menulis tanpa AI.
Gali lebih dalam isi pikiranmu, lalu tumpahkan ke dalam tulisan dengan menari-narikan jari jemarimu di atas keyboard gadgetmu.Lalu, dengan cara apa gagasan ditumpuk dan digali dari pikiran? Jawaban empirisnya tentu dengan membaca, baik membaca teks maupun membaca konteks. Setelah itu, gagasan hasil bacaan sebaiknya diperam dengan zikir yang panjang. Pemeraman ini akan semakin memperhalus gagasan sekaligus memolesnya dengan sidik jari jiwa. Dari sinilah kita dapat memahami mengapa kaum mistikus sering memberi resep agar zikir diulang berkali-kali, bahkan hingga 1.000, 10.000 kali, dan seterusnya.
Zikir ini, selain memeram gagasan yang akan dipanen dari alam semesta (universe), juga akan memperkayanya dengan gelombang elektromagnetik antara inti atom dan orbitalnya yang memenuhi jiwa kita sedemikian rupa, sehingga gagasan itu dapat dengan mudah direcall setiap saat. Maka, tetaplah menulis dengan menarikan jari jemarimu di atas keyboard gadgetmu, agar sidik jari jiwamu dan gagasanmu terus menyemai dalam jiwa para pembaca tulisanmu. Jangan buru-buru, apalagi hanya untuk memburu rente. Suatu karya tulis memang butuh perenungan panjang sebelum ditulis.