Dosen UB Wakili Indonesia di Konferensi Internasional Persatuan Islam di Tehran
Abdullah Assegaf, dosen hubungan internasional Universitas Brawijaya saat ini berada di Tehran untuk menghadiri konferensi persatuan Islam.
Sekretaris Jenderal Forum Dunia untuk Pendekatan Mazhab-Mazhab Islam menilai kerja sama dan interaksi antaruniversitas negara-negara Islam sebagai salah satu cara efektif untuk mendorong pendekatan antarmazhab.
Hujjat al-Islam Dr. Hamid Shahriari, Sekretaris Jenderal Forum Dunia untuk Pendekatan Mazhab-Mazhab Islam dalam pertemuan dengan Dosen Universitas Brawijaya, Abdullah Assegaf menilai kerja sama dan interaksi antaruniversitas negara-negara Islam sebagai salah satu cara efektif untuk mendorong pendekatan antarmazhab. Ia juga menekankan perlunya membentuk gerakan ulama guna mewujudkan persatuan.
Pertemuan tersebut berlangsung di sela-sela Konferensi Internasional Persatuan Islam ke-40. Dalam kesempatan itu, Dr. Shahriari menekankan kapasitas universitas dan pusat-pusat ilmiah negara-negara Islam dalam memperkuat hubungan serta memperluas wacana pendekatan antarmazhab.
Dr. Shahriari mengatakan bahwa kerja sama dan interaksi antaruniversitas negara-negara Islam merupakan salah satu cara efektif untuk mewujudkan pendekatan antarmazhab. Ia menyatakan, “Republik Islam Iran memiliki universitas-universitas yang bereputasi dan dikenal luas, dan kapasitas ini dapat membuka jalan bagi kerja sama ilmiah dan akademik dengan berbagai pusat pendidikan tinggi di negara-negara Islam.”
Menyinggung potensi yang ada untuk mengembangkan hubungan ilmiah antara Iran dan Indonesia, ia menambahkan, “Universitas, selain menjalankan kegiatan ilmiah, juga dapat menyediakan ruang bagi dialog dan interaksi antarmasyarakat Muslim dalam bidang budaya dan sosial, serta membantu kedua negara untuk lebih mengenali potensi bersama yang mereka miliki.”
Sekretaris Jenderal Forum Dunia untuk Pendekatan Mazhab-Mazhab Islam tersebut juga menekankan pentingnya memperkuat komunikasi di antara para ulama dan kalangan intelektual dunia Islam. Ia mengatakan, “Untuk mencapai persatuan, perlu dibentuk sebuah gerakan ulama. Para ulama dan pemikir dunia Islam dapat, melalui komunikasi dan kerja sama yang lebih luas, memperkuat landasan-landasan bersama umat Islam.”
Dalam kelanjutan pertemuan tersebut, Abdullah Assegaf, Dosen Universitas Brawijaya Malang merujuk pada kapasitas universitas-universitas Indonesia dalam mengembangkan hubungan ilmiah dengan Republik Islam Iran. Ia menyatakan, “Universitas-universitas Indonesia memiliki kapasitas yang baik untuk membangun hubungan akademik, khususnya dalam bidang politik dan sosial, dan kapasitas ini dapat dimanfaatkan untuk memperluas kerja sama ilmiah antara kedua negara.”
Ia menjelaskan bahwa salah satu alasan ketertarikannya terhadap Iran adalah peradaban Islam negara tersebut yang kaya dan memiliki akar sejarah yang kuat. Ia menambahkan, “Selama perjalanan saya dan kunjungan ke berbagai universitas di Iran, saya dapat mengenal secara lebih dekat kapasitas ilmiah dan pendidikan yang dimiliki negara ini.”
"Salah satu kesan penting saya dari perbandingan lingkungan akademik Iran dan Indonesia adalah bahwa di Iran terdapat upaya yang lebih besar untuk mengubah ilmu-ilmu teoretis menjadi ilmu yang aplikatif dan praktis. Kapasitas ini dapat menjadi landasan yang baik bagi pertukaran pengalaman dan kerja sama ilmiah antara universitas-universitas kedua negara,” tegasnya.
Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak juga membahas dan bertukar pandangan mengenai berbagai cara untuk mengembangkan kerja sama ilmiah, akademik, dan kebudayaan antara Iran dan Indonesia, serta memanfaatkan kapasitas pusat-pusat ilmiah kedua negara dalam memperkuat hubungan di antara masyarakat Muslim.