Iran Aktualita 29 September 2018
-
Pertemuan Rahbar dengan para atlet Iran peraih medali di Asian Games 2018 Jakarta-Palembang.
Sejumlah tema yang diulas dalam program "Iran Aktualita" kali ini adalah Iran janji beri hukuman berat kepada pelaku teror Ahvaz, Presiden Rouhani sampaikan pidato di Sidang Majelis Umum PBB, Mayjed Jafari sebut dunia sedang bersatu melawan Amerika, dan Iran anggap AS sebagai pemicu utama kenaikan harga minyak di pasar dunia.
Iran Janji Beri Hukuman Berat kepada Pelaku Teror Ahvaz
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei menyebut serangan terhadap warga sipil sebagai aksi pengecut dan menekankan, "Kami pasti akan memberi hukuman berat kepada para pelaku serangan teror di Ahvaz."
Dalam pertemuan dengan para atlet Iran peraih medali di Asian Games 2018 Indonesia pada 24 September 2018 di Tehran, Ayatullah Khamenei mengatakan, berdasarkan laporan, serangan pengecut ini dilakukan oleh anasir yang ketika terjepit di Suriah dan Irak, mereka diselamatkan oleh Amerika Serikat dan mendapat bantuan dana dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA).
"Insiden pahit ini kembali menunjukkan bahwa bangsa Iran memiliki banyak musuh dalam meraih kemajuan," kata Rahbar.
Sebanyak 25 orang, termasuk wanita dan anak-anak meninggal dunia dan 69 lainnya terluka dalam serangan teror di Ahvaz pada 22 September. Serangan ini terjadi selama parade militer yang diadakan untuk memperingati Pekan Pertahanan Suci. Kelompok teroris Al Ahwaz yang berafiliasi dengan Arab Saudi, menyatakan bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Jelas bahwa tekad serius untuk menanggapi ancaman akan mengarah pada terciptanya keamanan kolektif di wilayah Timur Tengah. Sekarang, seperti apa nasib yang menanti para teroris dan pendukung mereka di Ahwaz, ucapan Rahbar sudah jelas dan tidak butuh tafsir apapun.
Di bagian lain sambutannya, Ayatullah Khamenei menjelaskan alasan penolakan Iran untuk bertanding dengan delegasi rezim Zionis Israel dengan mengingatkan bahwa Republik Islam sejak awal revolusi tidak mengakui Israel dan rezim Apartheid Afrika Selatan. Rezim Apartheid telah tumbang dan rezim penjajah Zionis pasti akan menyusul.
Rahbar menyebut prestasi putra-putri Iran peraih medali dalam kompetisi internasional sebagai sumber kebanggan rakyat pecinta kebebasan dan pemicu kemarahan kubu arogan. "Kubu arogan dunia geram atas setiap kemenangan bangas Iran di bidang apapun. Oleh karena itu, kalian sejatinya kemenangan bangsa dan kekalahan kubu musuh Iran," tegas Ayatullah Khamenei.
Presiden Republik Islam Iran, Hassan Rouhani di sidang Majelis Umum PBB ke-73 di New York mengkritik sepak terjang AS di arena internasional, dengan mengatakan bahwa kebijakan keliru pemerintah AS mengenai Iran akan kembali gagal.
Presiden Iran Sampaikan Pidato di Sidang Majelis Umum PBB
Presiden Republik Islam Iran, Hassan Rouhani di Sidang Majelis Umum PBB ke-73 di New York mengkritik sepak terjang Amerika Serikat di arena internasional, dengan mengatakan bahwa kebijakan keliru pemerintah AS mengenai Iran akan kembali gagal.
Dia juga menyinggung propaganda buruk para pejabat AS mengenai perundingan dengan Iran. "Atas parameter apa Tehran menandatangani kontrak baru dengan pemerintah pengingkar janji," kritik presiden Iran dalam pidatonya.
Menurut Rouhani, segala bentuk dialog harus menjaga kelanjutan resolusi 2231 Dewan Keamanan PBB, sebab berkaitan dengan nasib seluruh negara. "Sungguh ironis bahwa pemerintah AS bahkan tidak menyembunyikan rencananya untuk menggulingkan pemerintah yang sama yang diundangnya untuk berbicara," pungkasnya.
"Pendekatan Republik Islam Iran dalam kebijakan luar negeri didasarkan pada multilateralisme dan kepatuhan terhadap prinsip-prinsip hukum internasional yang diakui. Penghormatan kami terhadap Traktat Non-Proliferasi (NPT) dan Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA), menggambarkan manifestasi yang jelas dari pendekatan ini," ujar presiden Iran.
Rouhani lebih lanjut mengatakan, berdasarkan 12 laporan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Iran sejauh ini telah memenuhi semua komitmennya. Namun, AS sejak awal tidak pernah setia pada kewajibannya. Belakangan, pemerintahan saat ini bahkan secara terbuka melanggar komitmennya dan keluar dari perjanjian tersebut.
Selain itu, jelasnya, Amerika juga menekan negara lain untuk melanggar kesepakatan nuklir. Dan yang lebih berbahaya, AS mengancam semua negara dan organisasi internasional dengan sanksi jika mereka mematuhi resolusi 2231 Dewan Keamanan.
"Kami menghargai upaya masyarakat internasional, Uni Eropa, Rusia, dan Cina dalam mendukung penerapan JCPOA dan mempertimbangkan realisasi penuh dari butir-butir yang termaktub di dalamnya sebagai prasyarat untuk mempertahankan prestasi diplomasi yang signifikan ini," tandas Rouhani.
Dunia Sedang Bersatu Melawan Amerika
Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (Pasdaran) mengatakan, kaum tertindas dan penuntut kebebasan dunia saat ini tengah bersatu untuk melawan Amerika Serikat. Mayor Jenderal Mohammad Ali Jafari pada Rabu (26/9/2018) menuturkan, kebijakan AS dan sekutunya menyebabkan terciptanya kekacauan, kematian, dan kehancuran di kawasan.
"Kejahatan langsung dan tidak langsung Amerika dan negara-negara pendukungnya di Palestina, Suriah, Irak dan Iran sampai kapan pun tidak akan pernah dilupakan oleh rakyat negara-negara tersebut," tambahnya.
Komandan Pasdaran itu menekankan bahwa salah satu konsep terpenting kebudayaan bangsa Iran adalah kekuatan yang disertai dengan sikap anti-penindasan. "Selama penindasan dan ketidakadilan kubu imperialis di bawah dominasi Amerika masih berlanjut, maka kebijakan Iran terhadap negara itu tidak akan pernah berubah," pungkasnya.
Menurut Jafari, rakyat Yaman setiap hari menyaksikan pengulangan kejahatan Amerika dan sekutunya serta penumpahan darah laki-laki, perempuan dan anak-anak tertindas negara itu.
Dana Anak-Anak PBB (UNICEF) dalam sebuah laporan pada Kamis (27/9/2018) menyatakan sekitar 400.000 anak-anak Yaman menderita gizi buruk akut. Menurut UNICEF, lebih dari 500.000 anak-anak Yaman terbunuh atau cacat seumur hidup sejak dimulainya serangan Arab Saudi ke negara itu.
AS Pemicu Utama Kenaikan Harga Minyak
Menteri Perminyakan Iran, Bijan Namdar Zanganeh menilai kebijakan mengganggu yang diterapkan Amerika Serikat adalah alasan utama kenaikan harga minyak dunia dan fluktuasi produk ini di pasar global. Dalam sebuah pernyataan pada Rabu, (26/9/2018), Zanganeh menambahkan, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dengan seluruh kemampuan dan kapasitasnya berusaha menciptakan stabilitas di pasar minyak dunia.
Menurutnya, Presiden AS Donald Trump berupaya menurunkan kuota ekspor minyak Iran secara signifikan tanpa menaikkan harga minyak di pasar global dan hal ini tidak akan pernah terjadi. Zanganeh menegaskan, untuk mencegah kenaikan harga minyak dan menjaga stabilitas pasar, maka Amerika harus menghentikan intervensi tidak tepat dan memicu ketegangan di wilayah Asia Barat.
"Saat ini tidak ada satu pun produsen minyak dunia yang mampu memproduksi lebih dari volume yang ada sekarang," tegasnya.
Tahap pertama sanksi AS terhadap Iran diberlakukan pada 7 Agustus 2018, yang mengundang kecaman internasional. Tahap kedua sanksi yang menargetkan sektor minyak dan perbankan, akan dimulai pada 4 November mendatang.
Para pelaku pasar minyak memprediksi bahwa sanksi AS terhadap ekspor minyak Iran bisa menaikkan harga minyak menjadi 150 dolar per barel. Pengamat pasar minyak, Pierre Andurand mengatakan, "Surplus OPEC sekarang telah mencapai level terendah dalam sejarah, ini akan menjadi sebuah tantangan besar dan harga minyak akan naik menjadi 150 dolar per barel dalam dua tahun ke depan.” (RM)