Saudi Propagandakan Upaya Normalisasi Hubungan dengan Israel
Arab Saudi, untuk menormalisasi hubungan dengan rezim Zionis Israel, memulai aktivitas propaganda luas yang melibatkan para kolumnis dan jurnalis dari keluarga kerajaan Al Saud.
Stasiun televisi Alalam (27/8) melaporkan, Ehud Yaari, pakar urusan strategi Israel terkait hal ini mengatakan, media-media Saudi sudah memulai aktivitas-aktivitas propaganda yang tidak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah negara-negara Arab, untuk mempersiapkan normalisasi hubungan dengan Israel. Hal ini mendapat perhatian serius dari media-media Israel.
Yaari menyinggung salah satu artikel milik Siham Al Qahtani, seorang kolumnis pedukung normalisasi hubungan Saudi-Israel di surat kabar Al Jazeera dan menuturkan, penulis ini dalam artikelnya menyebutkan bahwa kata-kata di dalam Al Quran tentang Bani Israel tidak meliputi seluruh umat Yahudi, khususnya Yahudi yang ada sekarang.
Selanjutnya, Ehud Yaari mengutip artikel dari Ibrahim Al Matroudi di surat kabar Al Riyadh dan mengatakan, penulis ini dalam artikelnya menulis, kita mengecam orang-orang Yahudi tanpa memperhatikan kemajuan-kemajuan yang mereka raih.
Selain itu, Yaari juga merujuk seorang penulis dan anaslis terkenal Saudi, Ahmed Adnan dan situs stasiun televisi Al Arabiya.
Ia menerangkan, Adnan di situs Al Arabiya, situs analisa berita paling terkenal di Saudi dalam sebuah analisanya mengatakan, kita harus membuka pintu dialog dengan Israel terkait kepentingan-kepentingan kita tanpa perantara dan mediasi.
Seiring dengan upaya Saudi menormalisasi hubungan dengan Israel, Anwar Eshki, mantan Jenderal Saudi dalam wawancara dengan surat kabar Huffington Post, Amerika Serikat menuturkan, dalam kerangka upaya Riyadh untuk memperluas hubungan dengan Tel Aviv dan langkah untuk mempublikasikan serta memajukannya hingga terbentuknya sebuah koalisi, saya berencana untuk kembali mengunjungi wilayah pendudukan Palestina.
Anwar Eshki sebelumnya kepada surat kabar Jerusalem Post, Israel menegaskan, kesamaan kepentingan antara Israel dan Saudi, bukan masalah baru dan dengan syarat menerima draf perdamaian tahun 2002, Riyadh siap untuk membuka Kedutaan Besarnya di Tel Aviv. (HS)