Survei: 1 dari 3 Warga Israel Butuh Dukungan Kesehatan Mental
-
Tentara Israel
Pars Today - Hasil berbagai survei dan penelitian di Israel menunjukkan bahwa masyarakat Israel mengalami dampak psikologis yang sangat berat akibat efek perang yang dilakukan rezim tersebut selama tiga tahun terakhir.
Dilansir Fars News, 29 Mei 2026, setelah tiga tahun pemboman tanpa henti dan perang (mulai dari genosida Israel di Gaza hingga serangan-serangan berturut-turut rezim ini terhadap Iran, Lebanon, Suriah, dan negara-negara tetangga lainnya), para analis, pengamat, dan berbagai penelitian di dalam Israel menyimpulkan bahwa masyarakat Israel sangat terdampak oleh "trauma" dan kerusakan psikologis akibat perang.
Melansir Al Jazeera, berdasarkan survei terbaru oleh Maccabi Healthcare Services, "sekitar sepertiga warga Israel merasa membutuhkan dukungan profesional berupa psikoterapi."
Data Kesehatan Mental: Angka yang Bicara
Kebutuhan Psikoterapi: Dari temuan survei Maccabi Healthcare Services, ~33% warga Israel merasa butuh dukungan profesional.
PTSD pada Personel Militer: Menurut data Kementerian Perang Israel, Januari 2026, terjadi peningkatan 40% sejak September 2023 dan diproyeksikan mencapai 180% hingga 2028.
Angka Bunuh Diri Militer: laporan Jerusalem Post, Februari 2026, mengalami peningkatan signifikan 78% kasus 2024 terkait operasi tempur di Gaza, Tepi Barat dan Lebanon.
Dampak sosial: Menurut observasi psikoterapis Tuli Flint, terjadi peningkatan kekerasan domestik, depresi, gangguan stres.
Narasi Para Ahli: "Pengkhianatan Institusional"
Tuli Flint, psikoterapis Israel dan veteran perang, menyoroti fenomena yang ia sebut "pengkhianatan institusional":
"Masyarakat telah kehilangan kepercayaan mereka terhadap komunitas, pemerintah, dan institusi-institusi mereka sendiri."
"Ini adalah perasaan yang muncul di antara mereka yang sebelumnya bergantung pada negara untuk perlindungan, tetapi kini merasa dikhianati oleh pihak yang seharusnya melindungi."(Sail)