Peneliti Israel Akui: Perang Gagal, Tehran Makin Kuat
-
Kekuatan rudal Iran
Pars Today - Seorang peneliti senior dari Institut Kajian Keamanan Dalam Negeri Israel, dengan mengakui kegagalan perang Amerika dan rezim Zionis terhadap Iran, menekankan bahwa Tel Aviv tidak hanya gagal mencapai tujuannya untuk melemahkan negara ini, tetapi kini terpaksa menghadapi realitas baru bahwa Tehran berada dalam posisi yang lebih kuat, dan pengaruh Israel atas pengambilan keputusan Washington juga telah berkurang.
Melansir Pars Today dari IRNA, 15 Juni 2026, Danny Citrinowicz, peneliti senior Institut Kajian Keamanan Dalam Negeri Israel, dalam sebuah catatan analitis di harian "Israel Hayom" menulis bahwa dengan menelaah posisi Donald Trump, Presiden Amerika, dan Benyamin Netanyahu, Perdana Menteri rezim Zionis, serta proses terbentuknya kesepakatan antara Tehran dan Washington, dapat disimpulkan bahwa operasi yang disebut "Raungan Singa-Singa" terhadap Iran telah gagal dan tidak mencapai tujuannya.
Ia menegaskan bahwa perang ini bukan hanya tidak melemahkan atau mendestabilisasi Iran, tetapi pada akhirnya berujung pada penguatan posisi ekonomi, politik, dan keamanan Tehran.
Analis Israel ini, dengan merujuk pada berkurangnya keinginan Amerika untuk masuk ke konfrontasi militer baru dengan Iran, menekankan bahwa kegagalan kampanye ini lebih dari segalanya mencerminkan kegagalan strategi Israel terhadap Iran yang bertumpu pada penerapan tekanan dan penyelarasan dengan Washington untuk melemahkan negara ini.
Dampak bagi Pengaruh Israel di Washington
Citrinowicz juga menulis bahwa kegagalan ini dapat memiliki konsekuensi penting bagi kemampuan Israel di masa depan untuk memengaruhi kebijakan Amerika tentang Iran, atau memengaruhi kesepakatan potensial antara Tehran dan Washington.
Ia, dengan merujuk pada pencapaian-pencapaian Iran dalam negosiasi yang akan datang, menambahkan, "Tehran sebagai ganti konsesi-konsesi terbatas, termasuk menjaga kelancaran pelayaran di Selat Hormuz, dapat memperoleh manfaat ekonomi yang signifikan, tanpa harus melepaskan aset-aset strategisnya termasuk kemampuan rudal, dukungan terhadap sekutu-sekutu regional, atau hak pengayaan uranium."
Negara-Negara Arab Semakin Dekat dengan Iran
Peneliti Israel ini, dengan merujuk pada pendekatan negara-negara Arab di Teluk Persia, menyatakan bahwa bertentangan dengan harapan Tel Aviv, negara-negara ini tidak hanya tidak menjauh dari Iran, tetapi justru berusaha menjaga dan bahkan memperluas hubungan mereka dengan Tehran; sedemikian rupa sehingga prospek perluasan kesepakatan yang disebut "Perjanjian Abraham" dan normalisasi hubungan dengan Israel juga menghadapi tantangan serius.
Ia mengakui bahwa Israel kini dalam isu Iran berada dalam isolasi yang lebih besar dari sebelumnya, dan merupakan satu-satunya aktor yang masih menekankan pada efektivitas opsi militer untuk menciptakan perubahan mendasar dalam sistem Republik Islam Iran.
Realitas Strategis yang Tidak Bisa Diubah
Citrinowicz selanjutnya mencatat bahwa jika kesepakatan antara Tehran dan Washington terfinalisasi, Israel akan menghadapi realitas strategis yang tidak mungkin mengubahnya; karena pemerintah Amerika tidak menunjukkan keinginan untuk kembali ke konfrontasi militer dengan Iran, dan pendekatan ini mendapat dukungan yang signifikan dalam struktur politik Amerika Serikat.
Ia menekankan bahwa setiap tindakan militer Israel yang oleh Washington dianggap sebagai upaya mengganggu proses kesepakatan, akan memicu reaksi keras dari pemerintah Amerika.
Analis ini di akhir menyimpulkan bahwa perkembangan yang berlangsung bukan hanya akhir dari sebuah kampanye militer, melainkan titik balik strategis yang telah mengungkapkan keterbatasan kekuatan Israel dan memaksa Tel Aviv untuk meninjau kembali asumsi-asumsi dan kebijakan-kebijakan beberapa dekade terakhir terhadap Republik Islam Iran.
Analisis ini sangat langka: pengakuan kegagalan dari dalam lingkaran keamanan Israel sendiri. Yang paling menarik bukan sekadar "perang gagal", itu sudah jelas. Yang luar biasa adalah tiga pengakuan implisit: pertama, bahwa Iran berhasil mempertahankan semua aset strategisnya (rudal, sekutu regional, pengayaan uranium) sambil mendapat manfaat ekonomi; kedua, bahwa negara-negara Arab yang diharapkan Israel akan menjauh dari Iran justru semakin dekat dengan Tehran; dan ketiga, bahwa Amerika sekarang akan marah jika Israel mencoba menyerang lagi. Ini adalah pembalikan total dari asumsi selama puluhan tahun: bahwa Israel bisa bertindak unilateral di kawasan, bahwa negara-negara Arab akan mengikuti kepemimpinan Israel, dan bahwa Amerika akan selalu mendukung tindakan militer Israel. Citrinowicz tidak sedang mengkritik taktik, ia sedang mengumumkan bahwa seluruh paradigma strategis Israel terhadap Iran telah runtuh.(Sail)