Sejumlah Negara Turun Tangan Menjelang Kekalahan Daesh di Irak
-
PM Irak, Haider Al-Abadi
Perdana Menteri Irak, Haider Al-Abadi, memperingatkan intervensi asing dalam urusan internal negaranya di saat militer bersiap-siap melancarkan serangan dalam skala besar untuk membebaskan kota Mosul, benteng terakhir kelompok teroris Takfiri Daesh di negara Arab itu.
Pada konferensi pers di kota Kirkuk, Jumat (14/10), Al-Abadi menyatakan heran soal keinginan sejumlah negara "untuk ikut campur dalam urusan internal Irak."
"Mengapa negara-negara ini tidak melakukan intervensi ketika Daesh menduduki negara kami, menghancurkan kota-kota kami, menelantarkan anak-anak pengungsi kami dan menyandera perempuan-perempuan kami?" tanya Al-Abadi.
Pernyataan Al-Abadi itu mengemuka di saat Irak dan Turki sedang terlibat dalam perang verbal soal pengerahan pasukan Turki ke Irak utara tahun lalu tanpa persetujuan Baghdad. Ankara bersikeras akan ambil bagian dalam serangan ofensif ke Mosul, yang langsung direspon tegas oleh Baghdad dengan menilainya sebagai "pelanggaran nyata atas kedaulatannya."
Irak juga mengutuk Arab Saudi karena mendesak Baghdad melarang Unit Mobilisasi Rakyat dalam memerangi teroris Daesh.
Al-Abadi menandaskan bahwa negaranya tidak akan membiarkan seperti interferensi mencurigakan dan tidak dapat diterima itu, seraya menegaskan, "Kami ingin membebaskan wialyah kami dengan tangan kami sendiri, dan negara-negara lain tidak boleh ikut campur dalam urusan internal kami."
Pada bagian lain pernyataannya, Al-Abadi meminta warga Mosul, kota terbesar kedua Irak, untuk menyambut pasukan dalam operasi pembebasan tersebut karena mereka datang "demi melindungi rakyat dan tidak akan menyerang warga sipil."
Perdana Menteri Irak kembali menegaskan bahwa semua pasukan Irak akan dilibatkan dalam operasi pembebasan, dan bahwa hanya koalisi pimpinan AS yang diijinkan mendukung operasi.(MZ)