Ambisi Saudi dan Tragedi Kemanusiaan Yaman
Kementerian HAM Yaman dalam sebuah pernyataan Sabtu (11/3/2017), mengecam serangan mengerikan terhadap warga sipil Yaman di pasar al-Khunah, Provinsi Hudaidah, dan mendesak pembentukan komite internasional untuk menyelidiki kasus itu.
Pada Jumat malam, jet-jet tempur Arab Saudi menyerang pasar al-Khunah yang menyebabkan 26 warga sipil Yaman tewas dan terluka.
Kementerian HAM Yaman menegaskan bahwa kami mengecam kejahatan dan aksi teror yang dipimpin Saudi dengan menggunakan berbagai jenis senjata terlarang untuk menargetkan warga sipil dan instansi-instansi sipil di Yaman.
Wakil Sekjen PBB untuk Urusan Kemanusiaan, Stephen O'Brien mengatakan, Yaman menghadapi tragedi kemanusiaan terbesar dan dua pertiga dari penduduk – 18,8 juta jiwa – membutuhkan bantuan.
Saudi dengan dukungan Amerika Serikat serta negara-negara Barat dan Arab sekutu Riyadh, melancarkan serangan militer ke Yaman sejak Maret 2015. Mereka bahkan memberlakukan blokade darat, laut, dan udara terhadap Yaman dengan alasan mengembalikan kekuasaan Abd Rabbuh Mansur Hadi, sekutu dekat rezim Al Saud.
Arab Saudi sejauh ini berkali-kali menggempur sekolah, rumah sakit, pemukiman penduduk, jalan raya, dan pasar. Agresi brutal ini menewaskan lebih dari 11 ribu warga, melukai puluhan ribu lainnya, dan menyebabkan jutaan warga Yaman mengungsi.
PBB sudah sering menegaskan bahwa agresi Saudi ke Yaman terutama serangan terhadap lembaga-lembaga publik adalah pelanggaran nyata terhadap hukum internasional dan tidak dapat diterima.
PBB hanya bersikap pasif terkait krisis Yaman dan tidak mengambil tindakan efektif untuk menghentikan kejahatan rezim Al Saud. Mereka hanya sebatas menyatakan keprihatinan dan memperingatkan tentang terjadinya tragedi kemanusiaan di Yaman.
Padahal, PBB dapat membawa kasus kejahatan Al Saud melalui sekjen organisasi itu atau Dewan Keamanan ke Mahkamah Pidana Internasional (ICC). Mahkamah juga dapat mengeluarkan putusan hukum berdasarkan bukti-bukti yang diterima dari PBB dan lembaga-lembaga internasional lainnya.
PBB sayangnya belum mengambil tindakan apapun terhadap Riyadh dan mantan Sekjen PBB Ban Ki-moon bahkan terpaksa harus menghapus nama Saudi dari daftar negara pelanggar hak-hak anak.
Sikap pasif PBB telah membuat Saudi leluasa melakukan kejahatan apapun di Yaman. Ketidakpedulian Dewan Keamanan juga sama seperti memberi lampu hijau kepada Saudi untuk mengabaikan semua aturan hukum internasional dan menambah daftar kejahatannya di Yaman.
Arab Saudi kian mengintensifkan serangan di Yaman untuk menutupi kegagalan-kegagalan mereka dalam mencapai tujuan agresi. Perlu dicatat bahwa ambisi politik tidak bisa dicapai dengan agresi militer dan pembantaian warga sipil. Aksi ini hanya akan memperburuk krisis dan kekacauan.
Menargetkan pemukiman penduduk dan lembaga-lembaga publik merupakan indikasi dari kegagalan misi militer Arab Saudi di Yaman. (RM)