Memanfaatkan Nikmat Ilahi
-
imam shadiq as
Sufyan Tsauri adalah salah seorang sufi di zaman Imam Shadiq as. Suatu hari dia datang menemui Imam Shadiq as. Begitu dia melihat Imam berpakaian putih berkilau; seputih kulitnya telur dan terang, dia protes kepada Imam dan berkata, “Baju seperti ini tidak pantas menjadi bajumu. Yakni baju ini bukan bajunya orang zuhud dan bertakwa.”
Imam Shadiq as berkata kepadanya, “Dengarkanlah ucapanku dan ingat-ingatlah sehingga membuatmu bahagia dunia dan akhirat. Bila engkau ingin mati karena menjalankan sunnah Rasulullah, bukan di jalan orang-orang yang suka menciptakan bid’ah, aku beritahu bahwa Rasulullah Saw hidup di zaman ketika masyarakat dalam keadaan miskin, tidak punya apa-apa dan semua tempat dalam kondisi paceklik. Tapi, ketika nikmat ilahi di tengah-tengah masyarakat berlimpah, orang yang paling layak untuk memanfaatkan nikmat ilahi adalah orang-orang saleh, bukan orang-orang yang menyimpang dan pendosa. Orang-orang Mukmin dan Muslim adalah orang yang layak memanfaatkan nikmat ilahi, bukan orang-ornag Munafik dan Kafir. Hai Tsauri! Yakinlah bahwa aku dengan kondisiku dan baju yang aku pakai ini telah memenuhi hak yang telah diwajibkan oleh Allah kepadaku dan aku tidak meninggalkan hak Allah sama sekali.”
Pengarahan Imam Shadiq as Kepada Salah Satu Muridnya
Umar bin Muslim salah satu murid Imam Shadiq as tidak ada selama beberapa hari. Imam Shadiq menanyakan keadaannya kepada murid-muridnya yang lain dan berkata, “Di mana Umar bin Muslim?”
Salah satu muridnya berkata, “Saya tahu kabar tentang dia. Dia sekarang meninggalkan pekerjaannya dan meninggalkan segalanya dan pergi ke sebuah tempat untuk beribadah.”
Imam Shadiq as berkata, “Celakalah dia. Apakah dia tidak tahu bahwa meninggalkan pekerjaan dan perdagangan, menyebabkan doanya tidak dikabulkan?”
Kemudian beliau mengatakan, “Ketika dua ayat ini diturunkan, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.”
Sejumlah sahabat Rasulullah Saw menutup pintu-pintu rumahnya dan sibuk beribadah dan berkata, “Kami sibuk beribadah dan bertakwa. Allah [berdasarkan ayat ini] akan menjamin kehidupan kami dari jalan yang tidak kami sangka.”
Rasulullah Saw mengirim pesan untuk mereka dan mendatangkan mereka. Beliau berkata kepada mereka, “Apa yang menyebabkan kalian meninggalkan pekerjaan dan sibuk beribadah?”
Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah! Allah [berdasarkan ayat tersebut] akan menjamin kehidupan kami. Bila kami sibuk beribadah, maka Dia akan menjamin kehidupan kami dari jalan yang tak kami sangka.”
Rasulullah Saw berkata, “Orang yang menjalani cara seperti ini, doanya tidak akan dikabulkan. Bekerjalah dan bertakwalah!”
Ridha Akan Ketentuan Allah
Salah seorang sahabat Imam Shadiq as mendengar bahwa salah seorang putra beliau sakit. Dia datang ke rumah Imam untuk menjenguk putranya. Ketika dia sampai di rumah Imam, dia melihat Imam dalam keadaan sangat sedih duduk di halaman rumahnya. Dia bertanya, “Bagaimana keadaan sang anak?”
Imam Shadiq as menjawab, “Dia sakit dan berbaring di tempat tidur.”
Sahabat ini berkata, “Imam masuk ke dalam rumah. Sebentar kemudian beliau keluar. Saya melihat beliau sepertinya dalam keadaan gembira dan tidak sedih lagi.”
Saya berkata, “Bagaimana keadaan sang anak?”
Imam Shadiq as menjawab, “Anakkku sudah meninggal dunia.”
Saya berkata, “Ketika saya baru datang, Anda sangat sedih. Padahal anak Anda masih hidup. Tapi sekarang Anda tidak sedih.”
Imam Shadiq as menjawab, “Kami, keluarga Nabi Saw, bersedih sebelum kematian menjemput orang yang sakit. Tapi ketika apa yang dikehendaki Allah terjadi, kami ridha atas ketentuan ilahi dan menerima perintah-Nya.”
Sarana Untuk Kemunculan Imam Zaman af
Seseorang bertanya kepada Imam Shadiq as, “Bukannya Ali as kuat dan berkuasa dalam agama Allah?”
Imam Shadiq as menjawab, “Iya.”
Dia bertanya, “Lalu mengapa Imam Ali yang berkuasa atas orang-orang yang tidak beriman atau munafik, tapi tidak membunuh mereka? Apa yang menghalanginya?”
Imam Shadiq as menjawab, “Satu ayat al-Quran yang menghalanginya.”
Dia bertanya, “Ayat yang mana?”
Imam Shadiq as berkata, “Ayat ini ‘Dan bila orang-orang mukmin dan orang-orang kafir berpisah, maka kami akan menyiksa orang-orang Kafir dengan azab yang pedih.”
Kemudian beliau berkata, “Allah telah menyimpan amanat yang beriman di sulbinya orang-orang Kafir dan Munafik dan Ali as tidak akan pernah membunuh ayah-ayah yang amanat-amanat itu ada di sulbinya, sampai amanat itu muncul. Demikian juga dengan Qaim kami Ahlul Bait as [Imam Zaman af] tidak akan muncul sampai amanat-amanat itu muncul.” (Emi Nur Hayati)
Sumber: Sad Pand va Hekayat; Imam Ja’far Shadiq as