Penderitaan Anak-anak Yaman Akibat Agresi Saudi
Juru bicara Kementerian Kesehatan Yaman, Abdul Hakim al-Kuhlani mengatakan bahwa berdasarkan laporan UNICEF, setiap sepuluh menit seorang anak Yaman kehilangan nyawanya dalam serangan Arab Saudi.
Ia menyampaikan hal itu dalam pesannya untuk memperingati Hari Kesehatan Dunia, yang jatuh pada 7 April.
Arab Saudi melakukan agresi ke Yaman sejak 26 Maret 2015. Perang ini dianggap asimetris karena Saudi adalah negara terkaya Arab dan memiliki anggaran militer terbesar setelah Amerika Serikat serta Cina, sementara Yaman adalah negara termiskin Arab di Timur Tengah. Yaman bahkan sangat bergantung pada bantuan asing untuk menjamin berbagai sektor ekonominya.
Senjata-senjata modern yang diborong Saudi dari negara-negara Barat dipakai untuk menyerang Yaman dalam tiga tahun terakhir. Anak-anak Yaman menjadi korban terbesar perang asimetris yang dikobarkan Saudi.
Anak-anak Yaman secara langsung dan tidak langsung terkena imbas serangan Saudi. Mereka kehilangan nyawanya atau terluka sebagai salah satu dampak langsung dari agresi ini. Menurut laporan UNICEF, setiap sepuluh menit, satu anak di Yaman tewas. Sepertiga dari korban tewas serangan Saudi di Yaman adalah anak-anak.
Dampak lain agresi Saudi adalah gizi buruk akut dan penyebaran berbagai jenis penyakit di kalangan anak-anak. Lebih dari 1,7 juta anak Yaman mengalami gizi buruk di mana lebih dari 460 ribu dari mereka menderita gizi buruk akut. Mereka terancam meninggal dunia jika tidak memperoleh bantuan kemanusiaan.
Selain itu, hampir empat juta anak Yaman menderita berbagai jenis penyakit dan infeksi saluran pernafasan. Lebih dari 1,1 juta anak Yaman juga menjadi pengungsi di negerinya sendiri. Sekitar 19 juta warga Yaman membutuhkan bantuan kemanusiaan di mana setengah dari mereka adalah anak-anak.
Jutaan orang Yaman tidak bisa mengakses pendidikan sebagai dampak langsung serangan Saudi bagi anak-anak. Hal ini akan memberikan dampak negatif yang besar bagi masa depan anak-anak Yaman.
Agresi brutal itu juga memiliki dampak tidak langsung bagi anak-anak Yaman. Ribuan dari mereka kehilangan ayah dan ibu atau kedua orang tuanya dan ini sangat membebani kondisi psikologis anak-anak. Kondisi ini akan berdampak jangka panjang bahkan setelah perang usai.
Para psikolog percaya bahwa anak-anak yang menyaksikan konflik akan memiliki emosi yang tidak stabil, karena trauma masa konflik akan selalu menghantui mereka. Anak-anak Yaman diyakini akan mengalami kondisi itu bahkan setelah perang berakhir.
Dengan memperhatikan kondisi itu, dapat dikatakan bahwa anak-anak Yaman telah menjadi korban utama brutalitas Arab Saudi. Padahal, salah satu pasal utama konvensi internasional menyebutkan bahwa dalam konflik bersenjata, warga sipil harus dipisahkan dari komunitas militer.
Para pejabat Saudi telah melakukan kejahatan perang dengan menargetkan anak-anak dalam serangan mereka ke Yaman. (RM)