Pejualan Sistem Kendali Bom AS ke Arab Saudi untuk Perang Yaman
-
Serangan Saudi ke Yaman
Pasca kunjungan terbaru James Mattis, Menteri Pertahanan Amerika Serikat ke Riyadh, disebutkan bahwa Gedung Putih, sedang mempertimbangkan penjualan bom-bom pintar ke Arab Saudi pada tahun ketiga perang yang digelar negara tersebut di Yaman.
Bersamaan dengan peringatan berbagai lembaga hak asasi manusia (HAM) dan organisasi bantuan kemanusiaan yang berafiliasi dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) soal krisis Yaman akibat berlanjutnya serangan rezim Saudi, seorang pejabat Amerika Serikat yang berbicara secara anonim mengatakan, sistem kontrol senilai 390 juta dolar akan diberikan kepada Arab Saudi yang akan membuat bom-bom non-kendali menjadi bom-bom kendali.
Kesiapan Amerika Serikat untuk menjual bom-bom kendali ke Arab Saudi itu diumumkan pada Selasa lalu setelah perundingan Mattis di Riyadh. Jenderal purnawirawan berusia 66 tahun itu mengkhawatirkan kerentanan Arab Saudi dalam menghadapi rudal-rudal militer dan pasukan pejuang Yaman.
Sejak Maret 2015, Arab Saudi dengan lampu hijau dari Amerika Serikat dan Inggris, melancarkan serangan ke Yaman dan kini telah memasuki tahun ketiga. Selama itu, Arab Saudi telah melakukan berbagai jenis kejahatan dalam perang di Yaman. Persernjataan yang digunakan juga disuplai dari Amerika Serikat dan Inggris. Warga sipil khususnya anak-anak dan perempuan menjadi korban utama agresi Arab Saudi ke Yaman.
Bersamaan dengan pelanggaran luar HAM di Yaman, Arab Saudi juga merusak berbagai sarana dan infrastruktur Yaman dan memblokade negara miskin itu sehingga menimbulkan krisis pangan dan kesehatan. Banyak lembaga internasional termasuk yang berafiliasi dengan PBB yang memperingatkan Arab Saudi atas potensi terjadinya tragedi kemanusiaan.
Peringatan terbaru disampaikan oleh juru bicara Organisasi Pangan Dunia (WFP), Emilia Casella, pada Jumat (21/4/2017), dan menyatakan bahwa berbagai wilayah di provinsi Taizz, al-Hudaidah, Lahij, Abin dan Saada disaksikan kondisi mengenaskan menyerupai kelaparan massal dan bahwa akses ke wilayah-wilayah tersebut sangat sulit. Menurut Casella, dari sisi peringkat keamanan pangan internasional, sekitar 6,7 juta warga Yaman berada di peringkat keempat, yaitu hanya satu peringkat di bawah "kelaparan massal."
Laporan WFP ini sejatinya hanya secuil berbagai masalah yang dihadapi rakyat Yaman akibat agresi brutal Arab Saudi, Warga Yaman juga menjadi korban penggunaan senjata terlarang dan inkonvensional seperti bom kluster. Kejahatan Arab Saudi di Yaman bahkan membuat pemerintahan Amerika sebelumnya terpaksa menangguhkan bantuan militernya kepada Arab Saudi akibat tekanan opini publik. Namun sekarang, pemerintahan Presiden AS Donald Trump menjual bom-bom terkendali ke Arab Saudi dengan alasan mencegah pembantaian massal warga Yaman. Sementara perusakan titik mana pun di negara ini dengan menggunakan bom-bom yang sekarang digunakan Arab Saudi, turut berandil besar dalam pembantaian massal terhadap warga Yaman.
Penggunaan segala bentuk senjata di Yaman akan merusak sumber-sumber alam dan infrastruktur negara ini dan hasil dari perusakan tersebut adalah peningkatan kemiskinan, ketidakamanan pangan, kelaparan dan krisis kesehatan yang semuanya akan mengakibatkan kematian bertahap. Pembantaian langsung maupun tidak langsung terhadap warga Yaman adalah kejahatan perang yang terus dilakukan Saudi pada tahun ketiga agresinya ke Yaman. Api perang yang terus dihembuskan oleh pemerintahan-pemerintahan pengklaim pionir di bidang HAM seperti Amerika Serikat dan Inggris.(MZ)