Partner Dalam Harta Kekayaan Orang Lain
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i39438-partner_dalam_harta_kekayaan_orang_lain
Abdurrahman bin Siyabah berkata:
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Jun 14, 2017 07:02 Asia/Jakarta
  • Imam Shadiq as
    Imam Shadiq as

Abdurrahman bin Siyabah berkata:

Ketika ayahku meninggal dunia, salah satu temannya datang ke rumah. Setelah mengucapkan belasungkawa, dia bertanya, “Apakah ayahmu meninggalkan harta kekayaan?” Aku menjawab, "Tidak." Kemudian dia memberikan sebuah kantong kepadaku berisi uang seribu dirham. Dia berkata, “Ambillah uang ini dan jadikan modal dalam perdagangan. Uang ini sebagai amanat yang aku titipkan kepadamu. Gunakan keuntungannya untuk memenuhi kebutuhan hidupmu dan uang itu sendiri kembalikan kepadaku. Aku benar-benar gembira dan pergi menemui ibuku dan menceritakan kejadian yang ada."

Pada suatu malam aku pergi ke rumah salah satu teman ayahku yang lainnya. Dia membelikan aku kain-kain yang bagus dan menyiapkan kios untukku dengan modal yang aku miliki. Di sana aku berdagang.

Kebetulan Allah telah memberikan banyak keuntungan dari pekerjaanku ini sampai ketika tiba musim haji. Aku bermaksud pergi menunaikan ibadah haji. Aku pergi menemui ibuku dan menceritakan keinginanku. Beliau berkata, “Bila engkau punya maksud ini, maka pertama kembalikan amanat orang yang menitipkan uang kepadamu.” Aku menyiapkan uang seribu dirham dan pergi menemuinya. Dia berkata, “Mungkin uang yang aku kasih itu sedikit. Bila engkau mau akan aku tambah.” Aku berkata, “Tidak. Aku ingin pergi ke Mekah dan sekarang aku ingin mengembalikan uang Anda.”

Setelah aku pergi ke Mekah. Saat kembali aku pergi ke Madinah bersama sejumlah orang untuk menemui Imam Shadiq as. Karena aku masih muda, aku duduk di bagian belakang. Setiap orang menanyakan masalah kepada beliau dan beliau menjawabnya. Begitu majlis sudah sepi, Imam Shadiq as memanggilku. Aku maju ke depan dan beliau bertanya, “Engkau ada urusan?”

Aku berkata, “Aku menjadi tebusanmu. Aku adalah Abdurrahman putranya Siyabah. Beliau menanyakan ayahku. Aku berkata, "Dia telah meninggal dunia." Imam Shadiq sedih dan berdoa memohonkan ampun ayahku. Kemudian beliau bertanya, “Apakah ayahmu meninggalkan harta kekayaan?” Aku menjawab, “Dia tidak meninggalkan apa-apa.”

Lalu beliau bertanya, “Lantas bagaimana engkau bisa pergi haji?” Aku menceritakan kepada beliau tentang uang seribu dirham yang diberi oleh teman ayahku. Tapi Imam Shadiq as tidak membolehkan saya untuk menceritakan semuanya. Beliau bertanya, “Apakah engkau telah memberikan uang dia yang seribu dirham itu?”

Aku berkata, “Iya. Telah saya kembalikan kepada pemiliknya.”

Imam Shadiq as bekata, “Bagus! Engkau telah berbuat baik. Sekarang aku akan berpesan kepadamu.”

Aku menjawab, “Silahkan!”

Imam Shadiq as berkata, “Jagalah kejujuran dan kebenaran dan mengembalikan amanat. Bila engkau menjaga pesanku ini maka engkau akan menjadi patner dalam harta keyaan orang lain. Ketika mengatakan kata-kata ini beliau menggabungkan jari-jari tangannya satu sama lain dan berkata, “Engkau akan menjadi patner mereka seperti ini.”

Aku menjaga pesan Imam Shadiq as dan mengamalkannya. Kondisi ekonomiku sedemikan maju sehingga zakatku dalam setahun bisa mencapai tiga ratus dirham”

Nilai Bersabar Ketika Sakit

Imam Shadiq as berkata, “Bila seseorang sakit, maka dua malaikat yang ada di sisinya akan pergi ke langit dan Allah berfirman kepada mereka, “Apa yang kalian tulis tentang hamba-Ku yang sakit?”

Mereka menjawab, “Kami menulis keluhannya.”

Allah berfirman, “Kalian menulisnya atas dasar keadilan. Dia berada di dalam sebuah tahanan dari tahanan-tahanan-Ku.”

Lalu, bila orang yang sakit tidak lagi mengeluh [bertahan dan bersabar], maka Allah berfirman kepada dua malaikat, “Tulislah untuk hambaku semua kebaikan yang dilakukannya saat sehat dan jangan tulis dosa-dosanya sampai ketika aku bebaskan dia dari tahanan-ku [penyakit]."

Tidak Dermawan

Imam Shadiq as berkata, “Amirul Mukminin mengirim kurma sebanyak lima angkutan onta. Lelaki itu tidak pernah meminta kepada siapapun selain kepada Imam Ali as. Ada seseorang di sisi Imam Ali. Dia berkata, “Hai Ali aku tidak melihat orang lelaki tersebut meminta kepadamu. Dari sisi lain, mengapa lima angkutan onta. Satu saja sudah cukup bagi dia.”

Imam Ali berkata, “Orang seperti engkau jangan sampai bertambah di kalangan orang-orang mukmin. Aku memberi dan engkau bersikap kikir. Bila aku membantu seseorang setelah dia menyampaikan permintaannya, maka apa yang aku berikan kepadanya adalah nilai harga dirinya yang telah jatuh dan aku adalah orang yang menyebabkan jatuhnya harga dirinya. Padahal dia meletakkan wajahnya di atas tanah hanya saat beribadah dan menyembah Allah. Barang siapa yang mengetahui bahwa saudara mukminnya membutuhkannya, sementara dia bisa membantunya, tapi tidak mau membantunya, sungguh dia telah berbohong kepada Allah. Karena dia telah memintakan surga untuk saudara seagamanya, tapi dia tidak mau membantu sedikit harta dunia yang tidak bernilai. Betapa banyak kejadian bahwa seorang mukmin berkata dalam doanya, “Allahumma-ghfir lil mukminina wal mukminat.”

Ketika dia memohonkan ampunan untuk saudaranya, yakni dia meminta surga untuknya. Orang seperti ini adalah bohong, karena dalam ucapan dia meminta surga tapi dalam amal dia tidak bersikap kikir dalam harta yang tidak bernilai. Oleh karena itu perbuatannya tidak sama dengan ucapannya.”

Janji Wali Allah

Hisyam bin Hakam menukil bahwa seorang lelaki penduduk gunung datang menemui Imam Shadiq as dan memberikan uang sepuluh ribu dirham kepada beliau dan berkata, “Permintaan saya adalah belikan satu rumah sehingga ketika saya pulang dari haji, maka saya akan tinggal di sana bersama istri dan anaku.” Kemudian dia pergi ke Mekah. Begitu dia kembali, Imam Shadiq mempersilahkan ke rumahnya dan memberikan sebuah surat kepadanya dan berkata, “Aku telah membelikan sebuah rumah untukmu di surga. Tingkat pertama menyambung pada rumahnya Muhammad Musthafa dan tingkat kedua menyambung pada rumahnya Ali Murtadha dan tingkat ketiga menyambung dengan rumahnya Hasan Mujtaba dan tingkat keempat menyambung dengan rumahnya Husein bin Ali as.”

Lelaki gunung saat mendengar ucapan ini, berkata, “Aku menerimanya dan rela.” Imam Shadiq as telah membagikan uang tersebut kepada anak keturunan Imam Hasan dan Imam Husein as yang miskin dan lelaki gunung ini kembali ke daerahnya.

Setelah beberapa lama, lelaki tersebut sakit dan memanggil keluarganya seraya berkata, “Aku tahu apa yang dikatakan oleh Imam Shadiq adalah benar dan ada kenyataannya. Aku mohon surat ini kalian kubur bersamaku.

Belum lama dia meninggal dunia dan suratnya juga dikubur bersamanya. Ketika diziarahi, pada peziarah merasa takjub, karena surat yang telah dikubur bersamanya kini ada di atas kuburannya dan tertulis dengan warna hijau di atasnya, “Allah telah memenuhi apa yang telah dijanjikan oleh wali-Nya; Imam Shadiq as.” (Emi Nur Hayati)

Sumber: Sad Pand va Hekayat; Imam Ja’far Shadiq as