Tiran dan Sanafir Resmi Diserahkan kepada Arab Saudi
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i40212-tiran_dan_sanafir_resmi_diserahkan_kepada_arab_saudi
Sejumlah sumber pemerintah Mesir menyatakan bahwa kesepakatan terkait penentuan perbatasan maritim antara Mesir dan Arab Saudi memasuki fase implementasi dengan kesepakatan presiden Mesir.
(last modified 2026-01-04T09:54:16+00:00 )
Jun 28, 2017 19:49 Asia/Jakarta

Sejumlah sumber pemerintah Mesir menyatakan bahwa kesepakatan terkait penentuan perbatasan maritim antara Mesir dan Arab Saudi memasuki fase implementasi dengan kesepakatan presiden Mesir.

Koran Masry al-Youm mengutip sumber pemerintah menulis, setelah kesepakatan Presiden Abdel Fattah el-Sisi terkait penyerahan dua pulau, Tiran dan Sanafir kepada Arab Saudi, bendera negara ini dalam waktu dekat dan tanpa upacara resmi akan berkibar di dua pulau tersebut.

El sisi baru-baru ini menyepakati penentuan garis perbatasan laut antara Arab Saudi dan Mesir serta penyerahan pulau Tiran dan Sanafir kepada Riyadh. Di sisi lain, penentangan rakyat terhadap kesepakatan ini dan penyerahan sebagian wilayah Mesir kepada Arab Saudi masih terus berlanjut.

Keputusan presiden Mesir ini melanggar butir 151 undang-undang dasar negara ini yang menyebutkan bahwa seluruh kesepakatan yang berkaitan dengan kedaulatan negara harus diratifikasi melalui referendum.

Tak diragukan lagi pemanfaatan Arab Saudi atas paket bantuan ekonomi sebagai alat untuk memaksa Mesir mengiringi kebijakan ambisiusnya di kawasan telah menyiksa opini publik Mesir atas hubungan tuan dan budak ini. Poin yang patut direnungkan dalam hal ini adalah ketundukan Mesir terhadap Arab Saudi di era el-Sisi tidak hanya terbatas pada isu penyerahan dua pulau tersebut. Sikap Mesir mengiringi Arab Saudi dan sekutunya di Dewan Kerja Sama Teluk Persia (P-GCC) di barisan anti Qatar juga menguak sikap el-Sisi yang mengekor kebijakan Arab Saudi terkait transformasi regional.

Manuver hina di perilaku Mesir terhadap Arab Saudi muncul di era el-Sisi, padahal kedua negara ini sebelumnya merupakan rival lama untuk memperebutkan kepemimpinan di dunia Arab. Mesir termasuk negara besar di kawasan, namun negara ini sejak lama telah kehilangan posisinya sebagai kekuatan besar dan pemimpin regional. Sebab utamanya adalah kendala ekonomi yang dihadapi negara ini di mana pemerintahan el-Sisi turut andil dalam memperparah krisis ekonomi Mesir.

Seiring dengan berkuasanya el-Sisi di Mesir, kebutuhan ekonomi negara ini dan kecenderungan politik Arab Saudi khususnya penentangannya terhadap Ikhwanul Muslimin serta upaya Riyadh mencegah rusaknya perimbangan kekuatan regional mendorong kedua negara berencana memperkuat hubungan mereka. Di atmosfer seperti ini, ketika kudeta di Mesir pimpinan el-Sisi meletus pada tahun 2013, Arab Saudi merupakan negara pertama yang mengakui secara resmi kudeta militer terhadap Mohammad Morsi dan mengucapkan selamat atas berkuasanya pemerintahan baru di Kairo.

Hal ini mengindikasikan pemanfaatan Al Saud atas transformasi internal Mesir demi ketamakan ekspansionis dan sepihaknya di negara ini serta melemahkan Mesir guna mencoret Kairo sebagai rival utamanya di kawasan dan mempersiapkan kesatuan barunya di pentas politik dunia Arab.

Sejatinya kesatuan baru ini dan ketamakan wilayah dan ekspansionis Arab Saudi di dunia Arab yang menorehkan kebencian dan kritik luas di antara opini publik negara-negara ini terhadap Al Saud dan mendorong mayoritas negara Arab, bahkan Qatar menolak kebijakan yang didektikan Riyadh.

Di sisi lain kebijakan ekspansionis Arab Saudi di negara-negara Arab mendapat perlawanan dari rakyat negara tersebut dan resistensi rakyat Yaman dalam hal ini menjadi teladan. Disebutkan bahwa Arab Saudi sangat tamak terhadap Yaman dan perang yang dikobarkan Al Saud terhadap Sanaa dapat dicermati dalam koridor ini.

Arab Saudi yang telah mencaplok tiga provinsi Yaman, Asir, Najran dan Jizan, selama beberapa tahun terakhir secara praktis menganeksasi ketiga provinsi tersebut dan memasukkannya ke dalam wilayah Riyadh. Arab Saudi ternyata tidak puas hanya dengan mencaplok Jizan, Najran dan Asir, bahkan selama beberapa tahun terkahir negara ini menebar banyak konspirasi untuk menduduki Hadhramaut.

Oleh karena itu, ketamakan Arab Saudi di Mesir juga tidak akan terbatas dengan merebut dua pulau Tiran dan Sanafir, Riyadh pastinya akan meminta wilayah Mesir lebih banyak. Di kondisi seperti ini, rakyat Mesir berharap pejabat negara mereka melawan ekspansi Arab Saudi, namun secara tak terduga mereka menyaksikan penjualan sebagian wilayah mereka oleh el-Sisi, di mana tindakan pengkhianatan ini menyulut gelombang protes baru anti pemerintah di Mesir.

Dalam hal ini, Abdul Bari al-Atwan, redaktur Koran al-Rai al-Youm dan pengamat Arab terkait isu penyerahan dua pulau Tiran dan Sanafir serta skenario yang dapat diprediksikan dalam kasus ini menekankan bahwa keputusan tersebut membuat Presiden Abdel Fattah el-Sisi berada dalam konfrontasi langsung dengan rakyat dan ia akan menghadapi kendala serius. (MF)