Perundingan Putaran Kelima Krisis Suriah Dimulai di Astana
-
dialog Astana
Astana, ibukota Kazakhstan kembali menjadi tuan rumah putaran kelima perundingan antara pemerintah Suriah dan kelompok oposisi, yang dimediasi oleh Iran, Rusia, dan Turki.
Putaran terakhir dimulai di Astana pada Selasa dengan diskusi trilateral di antara para moderator.
Anuar Zhainakov, sekretaris pers Kementerian Luar Negeri Kazakhstan, mengkonfirmasikan kepada AFP bahwa para delegasi dari pemerintah Suriah dan kelompok militan anti-Damaskus sebelumnya tiba di Astana.
Perundingan tersebut akan berlangsung dua hari dan dalam rangka mewujudkan hasil putaran perundingan sebelumnya pada bulan Mei, di mana para peserta sepakat menciptakan empat zona de-eskalasi di negara Arab yang dilanda kekerasan tersebut.
Lebih dari 2,5 juta orang diyakini tinggal di empat zona tersebut.
Militer Suriah secara sepihak mengumumkan penghentian pertempuran hingga tengah malam 6 Juli di salah satu zona yang membentang dari provinsi selatan Daraa, Quneitra dan Sweida.
Wilayah-wilayah lainnya mencakup provinsi Idlib, sebagian dari provinsi Homs, dan Provinsi Ghouta Timur, yang dikuasai militan dekat Damaskus.
Setelah realisasi penuh, rencana tersebut diperkirakan akan mewajibkan pihak yang bertikai menghentikan pertempuran selama enam bulan.
Atas permintaan Damaskus, Iran telah memberikan dukungan penasehat militer kepada militer Suriah dalam operasi kontraterorisme. Rusia melancarkan kampanye udara di Suriah, dan berkoordinasi dengan Damaskus, sejak September 2015 dalam memaksimalkan perang anti-teror.
Namun Turki berpihak pada kelompok bersenjata selama krisis di Suriah yang dimulai pada tahun 2011.
Ketiga mediator tersebut membantu perwujudan gencatan senjata nasional di Suriah akhir tahun lalu.
Pembicaraan Astana pertama dimulai pada bulan Januari.(MZ)