Fokus Irak pada Makar Potensial AS Pasca Daesh
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i40506-fokus_irak_pada_makar_potensial_as_pasca_daesh
Kelompok teroris Takfiri Daesh sedang menghembuskan nafas terakhirnya di Irak menyusul semakin dekatnya operasi pembersihan Mosul dengan garis finish-nya. Namun fokus elit politik di Irak saat ini sedang terpatri pada potensi makar baru Amerika Serikat pasca Daesh.
(last modified 2026-08-01T18:06:35+00:00 )
Jul 04, 2017 15:52 Asia/Jakarta

Kelompok teroris Takfiri Daesh sedang menghembuskan nafas terakhirnya di Irak menyusul semakin dekatnya operasi pembersihan Mosul dengan garis finish-nya. Namun fokus elit politik di Irak saat ini sedang terpatri pada potensi makar baru Amerika Serikat pasca Daesh.

Mengemukanya isu soal pentingnya upaya untuk mempertahankan pasukan Amerika Serikat di Irak dengan berbagai macam status termasuk sebagai kekuatan anti-Daesh, merupakan di antara potensi makar baru yang dalam beberapa pekan terakhir direaksi negatif oleh para pejabat Irak.

Dalam hal ini, Ammar Al-Hakim, Ketua Dewan Tinggi Islam Irak, menekankan bahwa setelah kekalahan Daesh, tidak boleh ada pasukan atau pangkalan asing yang tetap berdiri di Irak.

Pendudukan Daesh di Mosul berakhir pada 29 Juni 2017, menyusul perebutan kembali Masjid Al-Nuri, tempat diumumkannya khilafah kelompok ini oleh gembongnya Abu Bakr Al-Baghdadi. Pasukan Irak saat ini sedang memburu sisa-sisa teroris Daesh yang masih berkeliaran di kota tua Mosul. 

Yang pasti, militer dan pasukan relawan rakyat atau Hashd Al-Shaabi, memainkan peran utama dalam mengalahkan Daesh dan pada hakikatnya Irak hanya mengandalkan kapasitas dalam negeri untuk menggapai kemenangan besar tersebut.

Kemenangan itu tercapai di saat para pejabat Amerika Serikat gemar berkoar bahwa diperlukan waktu sangat lama untuk mengalahkan Daesh di Irak. Pernyataan seperti itu dikemukakan bersamaan dengan pelanggaran Amerika Serikat dalam pemberantasan Daesh yang mengungkap niat buruk Washington untuk mencegah kekalahan telak Daesh dan mengelola kelompok-kelompok teroris itu demi tujuan dan target Amerika Serikat di Irak.

Dalam hal ini, Naser Qandil, seorang analis Lebanon dalam wawancara dengan koran al-Bina' terbitan Lebanon menjelaskan masa depan Irak pasca pemberantasan Daesh di Mosul. Menurutnya, dengan musnahnya Daesh, maka tidak ada alasan lagi bagi AS untuk tetap berada di Irak dan Suriah, misi koalisi anti-Daesh juga akan berakhir, sementara pemberantasan terorisme akan bergulir secara berbeda yang sudah tidak lagi memerlukan kehadiran pasukan militer di kedua negara tersebut.

Dengan kondisi Irak saat ini, AS sudah tidak memiliki kekuatan bargaining atau justifikasi lagi. Dan tidak diragukan lagi, Washington akan menggelindingkan makar baru di Irak agar pasukannya tetap dapat dipertahankan di negara itu. Intervensi dalam urusan dalam negeri Irak, merupakan di antara potensi kuat upaya Amerika Serikat pada periode pasca Daesh.

Sejarah membuktikan bahwa politik pendudukan dan intervensi Amerika Serikat tidak membawa kemakmuran atau stabilitas untuk Irak. Sebaliknya, destruksi, fitnah, pembunuhan dan terorisme di Irak justru semakin meningkat. Rakyat Irak tidak pernah aman, bahkan dari aksi atau operasi koalisi anti-Daesh besutan Amerika Serikat. Ratusan warga sipil Irak tewas dan banyak sarana infrastuktur Irak yang hancur dalam serangan koalisi tersebut. Bahkan hal ini telah diakui oleh pihak Amerika Serikat sendiri. 

Acuan Amerika Serikat untuk tetap hadir di Irak tidak lain adalah penguasaan dan kontrol atas sumber-sumber minyak di negara itu.(MZ)