Akhir Daesh dan Pelajaran Berharga Buat Irak
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i40996-akhir_daesh_dan_pelajaran_berharga_buat_irak
Bulan Juni 2014 bagi rakyat Irak mengingatkan satu peristiwa pahit.
(last modified 2026-08-01T18:06:35+00:00 )
Jul 13, 2017 14:44 Asia/Jakarta

Bulan Juni 2014 bagi rakyat Irak mengingatkan satu peristiwa pahit.

Teroris Daesh pada Juni 2014 memasuki Mosul, ibukota provinsi Nainawa di Irak. Peristiwa ini terjadi pasca pemilu legislatif di negara ini dan faksi-faksi politik tengah berbeda pendapat soal pengangkatan Nouri Maliki sebagai perdana menteri untuk yang ketiga kalinya. Sejatinya, Daesh memasuki Irak dengan bantuan anasir dalam negeri, khususnya anasir partai Baath yang telah dibubarkan serta dukungan negara-negara yang menentang pemerintahan Syiah Irak. Namun kita tidak boleh lupa bahwa munculnya Daesh di Irak telah disemai dengan agresi Amerika ke negara ini pada 2003. Tahun 2014 anasir dalam negeri membiarkan Daesh memasuki sebagian wilayah Irak dan mendudukinya.

Sejak hari pertama kehadiran Daesh di Irak membuktikan para pendukungnya salah strategi terkait substansi kelompok teroris ini. Karena dari satu sisi, kejahatan Daesh menunjukkan kelanjutan dukungan terhadap kelompok ini telah melukai opini publik dunia dan membongkar kedok para pendukungnya. Di sisi lain, keinginan untuk memperluas kekuasaannya membuat Daesh berusaha menduduki kawasan Kurdistan, Irak. Keinginan yang tidak sesuai dengan kebijakan para pendukung kelompok ini, terutama Amerika.

Dengan demikian, hanya dalam tiga bulan pasca munculnya Daesh di Irak, koalisi internasional anti Daesh yang dipimpin Amerika dengan partisipasi sekitar 60 negara terbentuk. Dengan kata lain, sekitar sepertiga negara-negara di dunia termasuk kekuatan-kekuatan besar dunia dan regional berada dalam koalisi ini. Tapi yang lucu adalah kehancuran Daesh di Irak terjadi 36 bulan setelah terbentuknya koalisi internasional dan itupun bukan oleh mereka. Pasukan militer dan relawan rakyat Irak yang berhasil menundukkan hantu bernama Daesh. Hal ini menunjukkan kemunculan Daesh di Irak berseiring dengan kepentingan sebagian negara, khususnya Amerika dan sekutu Arabnya. Itulah mengapa penghancuran Daesh tidak pernah ada dalam agenda mereka, kecuali hanya aksi propaganda bahwa mereka menyerang kelompok teroris.

Tidak diragukan lagi bahwa rakyat Irak merupakan korban terbesar atas kehadiran Daesh di negaranya. Kerusakan yang disaksikan rakyat Irak terjadi baik pada jangka pendek maupun jangka panjang. Dampak jangka pendek dari kehadiran Daesh di Irak adalah tewas dan cideranya ribuan orang, jutaan orang mengungsi, kerusakan infrastruktur, hancurnya struktur kehidupan masyarakat dan terjadinya tragedi kemanusiaan. Tapi dampak jangka panjang dari kemunculan Daesh di Irak tidak akan hilang dari ingatan rakyat Irak hingga waktu lama.

Dampak penting dari kehadiran Daesh di Irak adalah terbentuknya budaya Daesh, masalah kejiwaan yang muncul akibat menyaksikan kejahatan Daesh, khususnya terhadap keluarga dekat mereka, anak-anak tanpa orang tua dan putus sekolah, keluarga yang tidak punya sumber pendapatan dan lain-lain.

Daesh bagi faksi-faksi politik, tokoh, pemerintah dan rakyat Irak merupakan pelajaran pahit, tapi besar. Pelajaran pertama dari kehadiran kelompok teroris ini adalah terorisme, khususnya teroris Daesh akan muncul di balik pemerintah yang lemah. Terbentuknya pemerintah yang kuat menjamin keamanan sebuah negara, khususnya Irak. Pelajaran kedua dari kehadiran Daesh di Irak adalah melindungi kedaulatan Irak harus menjadi prioritas pemerintah dan semua faksi politik. Bila tidak demikian, kedaulatan sebuah negara terancam kelompok bersenjata dan teroris.

Pelajaran ketiga yang bisa dipetik dari kehadiran Daesh di Irak adalah persatuan dapat mengalahkan segala ancaman. Sebagaimana perselisihan dapat menjadi sarana bagi munculnya ancaman, bahkan disintegrasi. Pelajaran keempat, kinerja koalisi internasional anti Daesh tidak dapat diandalkan. Keamanan sebuah negara hanya dapat dijamin oleh warga negara tersebut, khususnya militer. Karena negara-negara asing tidak punya komitmen untuk menjamin keamanan negara lain.

Pada akhirnya harus dikatakan bahwa sekalipun kehadiran Daesh secara geografi di Irak sudah berakhir, tapi bila kepentingan kelompok, etnis dan pribadi menjadi prioritas, maka kelompok-kelompok seperti Daesh akan muncul di Irak. Pemerintah Irak harus melihat Irak sebagai satu kesatuan. Karena tidak memperhatikan minoritas seperti Ahli Sunnah, misalnya, dapat menjadi sarana yang dimanfaatkan negara-negara penentang pemerintah Irak dan pengkhianatan anasir dalam negeri.

Faksi-faksi politik dalam negeri yang menjadi oposan harus memahami bahwa menjadikan kelompok-kelompok seperti Daesh untuk melawan pemerintah pusat tidak semata menjadi ancaman pemerintah pusat saja, tapi seluruh Irak. Jelas, Irak hanya dapat bermakna bila seluruh etnis di negara ini hidup berdampingan mulai dari Arab, Kurdi, Turkmen, Izadi dan lain-lain. Ancaman terhadap salah satu etnis berarti ancaman terhadap semua.