Qatar dan Diplomasi Iran di Kawasan
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i43306-qatar_dan_diplomasi_iran_di_kawasan
Kementerian luar negeri Qatar dalam pernyataan yang disampaikan Kamis dini hari (24/8) menyatakan akan menempatkan kembali duta besarnya di Tehran.
(last modified 2026-04-24T16:42:03+00:00 )
Aug 24, 2017 13:30 Asia/Jakarta

Kementerian luar negeri Qatar dalam pernyataan yang disampaikan Kamis dini hari (24/8) menyatakan akan menempatkan kembali duta besarnya di Tehran.

Kementerian luar negeri Qatar menegaskan, keputusan ini bertujuan untuk mempererat hubungan kedua negara. Sejak Januari tahun lalu, Qatar menarik duta besarnya atas tekanan Riyadh terhadap Doha.

Menteri pertahanan Qatar baru-baru ini mengungkapkan, pasca sanksi lalim Arab Saudi dan sekutunya, Republik Islam Iran membuka zona udaranya untuk maskapai Qatar yang menjadi pembuka akses pertama untuk bernafas bagi Doha. Khalid bin Mohammad Al Attiyah menegaskan, Selain membuka akses zona udaranya untuk maskapai Qatar, Iran juga memasok sejumlah kebutuhan Doha, termasuk pangan.

Arab Saudi yang diikuti Uni Emirat Arab, Bahrain dan Mesir memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar, dan menutup zona udara, darat dan laut untuk Qatar. Keempat negara  ini menuding Doha tidak sejalan dengan kebijakan koalisi Arab yang dipimpin Riyadh.

Pada 23 Juni lalu, Riyadh dan tiga sekutunya menyerahkan sejumlah persyaratan bagi Qatar untuk normalisasi hubungan dengan mereka. Salah satu syarat tersebut adalah pemutusan hubungan diplomatik Doha dengan Iran dan Hizbullah serta kelompok muqawama Palestina.

Tapi tawaran Arab Saudi tersebut tidak ditanggapi Qatar, dan Doha menilainya sebagai pandangan yang tidak logis dan cenderung memaksakan kehendak. Penolakan Qatar ini menunjukkan kegagalan plot AS yang dijalankan Riyadh demi mengucilkan Iran di kawasan.

Qatar  menegaskan sikapnya yang tidak bersedia mengamini dikte Riyadh. Doha selama beberapa bulan terakhir menegaskan bahwa Hamas dan Hizbullah sebagai sebuah kekuatan muqawama yang selama ini berperang dengan musuh, dan Republik Islam Iran sebagai kekuatan Islam di kawasan, merupakan potensi yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan negara-negara regional.

Sikap politik terbaru Qatar ini menunjukkan independensinya dalam menyikapi transformasi regional. Di sisi lain, kebijakan Doha tersebut mengindikasikan kegagalan koalisi baru Arab-AS yang dicanangkan presiden AS, Donald Trump dalam kunjungannya ke Riyadh pada 20 Mei 2017.

Kunjungan Trump dan penandatanganan kontrak militer dengan Raja Salman menyebabkan friksi antara Saudi dan Qatar semakin melebar. Riyadh berupaya menekan Doha supaya memutuskan hubungan dengan Iran, tapi Qatar menolaknya. Sikap Doha tersebut menggagalkan skenario Riyadh untuk membentuk NATO Arab sebagai kekuatan penekan terhadap Iran. Sejumlah negara Arab seperti Qatar, Oman dan Kuwait menjalin hubungan dengan Republik Islam Iran. Fakta ini menunjukkan keberhasilan dilplomasi Iran di kawasan.