Mengenal Musuh, Isi Pidato Sayid Hasan Nasrullah di Peringatan Asyura
Sayid Hasan Nasrullah, sekjen Hizbullah Lebanon di pidatonya di peringatan duka Imam Husein di hari Asyura memberikan analisa terkait transformasi saat ini di kawasan dan analisanya yang terpenting adalah urgansitas mengenal musuh.
Seiring dengan laju kehancuran Daesh di Suriah dan Irak, kawasan Timur Tengah diharapkan secara bertahap akan stabil dan tenang, tapi perilaku disintegrasi dan ilegal wilayah otonomi Kurdistan Irak dan dukungan nyata rezim Zionis serta dukungan rahasia sejumlah negara mendorong kawasan kembali dilanda instabilitas dan kekerasan.
Pidato Sayid Hasan Nasrullah di siang hari Asyura dilakukan dengan memperhatikan kondisi terbaru kawasan.
Poin pertama di pidato Sayid Hasan Nasrullah adalah kontinuitas nyata di berbagai titik pidato tersebut. Sayid Hasan Nasrullah saat menganalisa transformasi yang berlaku di Timur Tengah dimulai dari Daesh hingga perilaku disintegrasi wilayah Kurdistan Irak.
Dengan kata lain, pesan sekjen Hizbullah adalah mereka yang membentuk, mendukung dan mengembangkan Daesh serta ketika fenomenan buruk ini mulai mengalami kehancuran, mereka mulai menciptakan krisis baru melalui wilayah Kurdistan Irak. Pihak-pihak yang membentuk dan mendukung Daesh kini mulai aktif memecah belah negara-negara kawasan dan kini tujuan utama mendukung referendum di Kurdistan adalah memecah belah Irak.
Poin kedua di analisa Sayid Hasan Nasrullah adalah empat sisi Wahabi Takfiri, Israel, Amerika Serikat dan sejumlah elit politik yang menjadi pelaksana disintegrasi di kawasan. Empat mata rantai ini kini baik terang-terangan atau tersembunyi terlibat di referendum pemisahan diri Kurdistan dan indeks utamanya adalah kepentingan warga bukan prioritas.
Sayid Hasan Nasrullah menekankan bahwa elit politik Kurdistan saat menggelar referendum pemisahan diri wilayah ini dari Irak hanya mengejar kepentingan pribadi dan bukannya kepentingan rakyat.
Poin ketiga dari pidato Sayid Hasan Nasrullah adalah kelemahan kekuatan militer musuh khususnya Zionis mendorong anasir internal mulai cenderung memecah belah negara-negara Islam dan mereka mendukung perilaku disintegrasi seperti di Kurdistan Irak. Poin ini sangat penting dari sisi bahwa Masoud Barzani, pemimpin Kurdistan memiliki penasehat politik dari Israel.
Poin keempat terkait peringatan sekjen Hizbullah kepada pemerintah Arab Saudi dan sejumlah pemimpin Arab yang mendukung program disintegrasi. Kepada pemimpin Riyadh, Sayid Hasan Nasrullah memperingatkan bahwa Proyek disintegrasi dalam waktu dekat akan merambah Arab Saudi. Saudi memiliki kondisi lebih baik dari negara lain di kawasan untuk proyek disintegrasi.
Isu yang diangkat dari empat poin di analisa pidato Sayid Hasan Nasrullah dan juga diisyaratkan sendiri oleh sekjen Hizbullah di pidatonya adalah pentingnya mengenal musuh. Realitanya adalah di kawasan Timur Tengah "percaya kepada kekuatan asing" masih menjadi landasan sikap sejumlah pemimpin dan elit politik serta kekuatan asing memainkan peran variabel permanen di transformasi Timur Tengah.
Mengingat realita ini, sekjen Hizbullah di pidatonya pada hari Asyura menekankan bahwa seluruh negara kawasan harus mengenal kawan dan lawan mereka serta tidak mengandalkan Amerika, karena pemerintah Washington merupakan faktor utama penderitaan dan kendala di kawasan. (MF)