Kemunculan dan Kehancuran Daesh
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i47043-kemunculan_dan_kehancuran_daesh
Eksistensi kelompok Daesh sebagai sebuah organisasi teroris dapat dikatakan telah berakhir menyusul pembebasan kota al-Bukamal di selatan Suriah dan kota al-Rawah di Provinsi Anbar, Irak.
(last modified 2026-06-20T17:21:50+00:00 )
Nov 21, 2017 11:08 Asia/Jakarta

Eksistensi kelompok Daesh sebagai sebuah organisasi teroris dapat dikatakan telah berakhir menyusul pembebasan kota al-Bukamal di selatan Suriah dan kota al-Rawah di Provinsi Anbar, Irak.

Munculnya kelompok teroris Daesh di Irak kembali pada tahun 2006. Abu Omar al-Baghdadi secara resmi memimpin kelompok tersebut dan ia mengarahkan kelompok teroris ini sampai tahun 2010.

Pasca kematian Abu Omar pada 2010, Abu Bakr al-Baghdadi mengambil alih kepemimpinan Daesh. Dengan dimulainya krisis Suriah, kelompok Daesh juga memilih Suriah sebagai daerah baru operasi mereka.

Krisis Suriah dan dukungan para pemain asing kepada kelompok teroris telah menyebabkan terbentuknya sejumlah besar kelompok teroris, di mana Front al-Nusra adalah salah satu dari mereka yang muncul pada tahun 2011.

Dengan berlanjutnya krisis Suriah dan terbentuknya sebuah perang habis-habisan antara pemerintah Damaskus dan kelompok-kelompok teroris pada 2013, Negara Islam Irak dan Front al-Nusra bersatu dan kemudian muncullah Daesh di bawah kepemimpinan Abu Bakr al-Baghdadi.

Kajian tentang bagaimana pembentukan dan pengembangan Daesh menunjukkan bahwa kelompok teroris ini tidak akan terbentuk dan berkembang jika tanpa dukungan kekuatan-kekuatan regional dan trans-regional.

Amerika Serikat adalah salah satu kekuatan penting pendukung Daesh, yang telah memainkan peran utama dalam pembentukan kelompok ini. AS tidak hanya menyediakan ruang untuk kehadiran dan penyebaran Daesh di Irak, tapi beberapa pejabat dan mantan pejabat Baghdad mengatakan bahwa Washington secara langsung telah membentuk Daesh.

Kegembiraan pasukan Irak setelah mengalahkan kelompok teroris Daesh.

Presiden AS Donald Trump, selama kampanye pemilu presiden tahun 2016 secara resmi menyatakan bahwa kebijakan pemerintah AS telah melahirkan Daesh.

Mantan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton dalam bukunya Hard Choices juga secara eksplisit mengakui bahwa Daesh dibentuk oleh AS dan sekutunya dengan memanfaatkan kevakuman yang ada di Timur Tengah. Washington memandang Daesh sebagai instrumen untuk mengejar kebijakan Timur Tengah Paman Sam.

Meski AS membentuk apa yang disebut koalisi internasional anti-Daesh pada tahun 2014, namun koalisi ini – yang melibatkan kekuatan-kekuatan utama militer dunia – tidak memainkan peran serius dalam menghancurkan Daesh.

Pemerintah AS terus mendukung Daesh bahkan pada hari-hari terakhir kehidupan kelompok teroris ini di Suriah. Dalam hal ini, Kementerian Pertahanan Rusia mengumumkan pekan lalu bahwa pasukan AS menolak untuk melakukan operasi udara terhadap teroris Daesh, yang sedang mundur dari kota al-Bukamal. Ini menunjukkan bahwa koalisi Amerika secara langsung mendukung kelompok teroris Daesh.

Faktanya sekarang adalah imperium Daesh telah runtuh. Fatwa Marja' Besar Syiah Irak, Ayatullah Sayid Ali Sistani, pembentukan al-Hashd al-Shaabi di Irak, dan juga tekad serius Republik Islam Iran, Rusia, Suriah dan kubu perlawanan termasuk Hizbullah Lebanon, telah memberikan kontribusi paling besar dalam kehancuran Daesh.

Tentu saja, serangan para teroris Daesh di beberapa negara Eropa juga menyebabkan setidaknya ada pengurangan dukungan kepada kelompok teroris itu, meskipun negara-negara Barat tidak serius dan bersikap mendua dalam perang kontra-terorisme.

Poin terakhir adalah bahwa meskipun struktur militer Daesh telah hancur dan runtuh, tapi kegiatan kelompok ini tentu saja akan terus berlanjut dengan bentuk yang berbeda, terutama melalui operasi teror, seperti yang mereka lakukan di Irak sebelum menduduki Mosul pada Juni 2014. (RM)