Sochi dan Tiga Agenda Penting Pasca Daesh
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i47113-sochi_dan_tiga_agenda_penting_pasca_daesh
Para pemimpin tiga negara Iran, Rusia dan Turki, pada Rabu (22/11/2017) bertemu di kota Sochi, Rusia, membahas transformasi regional pasca Daesh, dan tampaknya dalam perundingan tersebut akan ditetapkan beberapa agenda penting.
(last modified 2026-06-20T17:21:50+00:00 )
Nov 22, 2017 12:01 Asia/Jakarta

Para pemimpin tiga negara Iran, Rusia dan Turki, pada Rabu (22/11/2017) bertemu di kota Sochi, Rusia, membahas transformasi regional pasca Daesh, dan tampaknya dalam perundingan tersebut akan ditetapkan beberapa agenda penting.

Pada tahap awal, para pemimpin ketiga negara yang sebelumnya telah bertemu dan berdialog di Astana serta menyusun kerangka dialog intra-Suriah untuk menyelesaikan krisis negara tersebut, harus memastikan bahwa dialog nasional Suriah dilakukan tanpa intervensi asing dan berjalan dengan sebaik-baiknya serta mempersiapkan pembentukan pemerintahan rekonsiliasi nasional.

Tidak diragukan bahwa berlanjutnya perselisihan politik di negara-negara regional termasuk di Suriah, akan kembali membuka peluang bagi para teroris untuk kembali bangkit dan terjun ke medan militer dan politik.

kemenangan Suriah

Di sisi lain, ketiga negara harus saling membahu untuk menghapus alasan bagi para pemain trans-regional serta mencegah Washington, Paris dan London mengimplementasikan intervensi mereka menggulirkan kekerasan dan bentrokan baru di kawasan.

Hingga saat ini, opini publik dunia masih berhadapan dengan pertanyaan ini bahwa mengapa Amerika Serikat dalam pertempuran Raqqa, mengamankan para pemimpin Daesh dan atau tentang pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa Gedung Putih yang mempersiapkan pembentukan Daesh pasca perang Irak pada tahun 2003? Mengapa sehari sebelum pemberantasan total Daesh, Gedung Putih kembali mengusung usulan kecaman terhadap pemerintah Suriah dan mengapa Amerika Serikat tidak berada di medan pertempuran langsung melawan teroris?

Adapun agenda ketiga adalah pencegahan kekerasan rezim-rezim despotik Arab di kawasan. Riyadh, Uni Emirat Arab, Bahrain dan Kuwait yang aman dari gelombang “Arab Spring” dan berinvestasi pada Daesh dalam upaya menggunakannya sebagai sarana untuk melawan revolusi rakyat, sekarang telah menyaksikan kekalahan telak para teroris. Negara-negara tersebut sekarang sangat mengkhawatirkan transformasi politik dalam negeri.

Gejolak internal di Riyadh yang berujung pada penangkapan luas oposisi, menunjukkan betapa rentannya Arab Saudi di hadapan dominasi politik. Oleh karena itu, Riyadh berupaya keras untuk menciptakan gejolak baru seperti krisis dengan Qatar atau Lebanon, demi menanggulangi krisisnya di dalam negeri.

Iran, Rusia dan Turki dalam perundingan di Sochi dan juga dalam dialog-dialog mendatang, harus mencegah rezim-rezim haus perang menggulirkan krisis dan instabilitas baru di kawasan untuk mengembalikan para teroris.

Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa para teroris baik di Irak, Afghanistan, Libya, maupun Suriah, selalu mengupayakan perang di dalam maupun luar negeri. Oleh karena itu, ketika api perang semakin berkobar, para teroris juga memiliki harapan untuk menyusup di medan maupun panggung politik.

kondisi Suriah pasca Daesh

Namun tentunya bantuan rekonstruksi negara-negara yang dilanda perang, kembalinya para pengungsi dan penggalangan bantuan dunia untuk membangun negara-negara yang menderita kerugian besar akibat Daesh, serta pelestarian demokrasi, merupakan bab baru yang harus diperhatikan dalam perundingan di Sochi.