Berlanjutnya Serangan Sia-Sia Saudi ke Yaman
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i51831-berlanjutnya_serangan_sia_sia_saudi_ke_yaman
Dalam serangan terbaru jet tempur Arab Saudi ke Yaman, 18 warga sipil tewas termasuk perempuan dan anak-anak. Serangan di wilayah al-Aqiq di kota Kataf itu, menewaskan 18 warga sipil Yaman termasuk beberapa perempuan dan anak-anak. Di antara para korban juga terdapat tim regu penyelamat.
(last modified 2026-07-29T04:05:44+00:00 )
Feb 18, 2018 14:42 Asia/Jakarta

Dalam serangan terbaru jet tempur Arab Saudi ke Yaman, 18 warga sipil tewas termasuk perempuan dan anak-anak. Serangan di wilayah al-Aqiq di kota Kataf itu, menewaskan 18 warga sipil Yaman termasuk beberapa perempuan dan anak-anak. Di antara para korban juga terdapat tim regu penyelamat.

Berlanjutnya kejahatan Arab Saudi di Yaman telah menimbulkan berbagai reaksi dan protes terhadap opini publik. Dalam hal ini, komite ahli PBB baru-baru ini menyampaikan laporan kepada Dewan Keamanan, selain menyebutkan penghancuran total infrastruktur akibat kejahatan perang koalisi pimpinan Saudi, juga memperingatkan konsekuensi munculnya krisis kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya di negara tersebut.

Laporan oleh komite ahli PBB itu mengemuka di saat kejahatan terorganisir dari koalisi Saudi terjadi dengan memanfaatkan celah dalam resolusi Dewan Keamanan PBB, dan juga menyusul kepasifan PBB. Pada hakikatnya, Dewan Keamanan PBB dengan posisi dan resolusi yang ambigu, telah memberi kesempatan bagi koalisi besutan Arab Saudi untuk melanjutkan perang melawan Yaman dan menyeret negara itu hingga ke ambang krisis kemanusiaan yang mengerikan.

Serangan Arab Saudi

Yang paling penting, dalam banyak kasus, tekanan oleh Arab Saudi dan sekutunya telah menyebabkan kegagalan dalam perilisan laporan PBB terkait tragedi Yaman dan dalam kasus lain, menyepelekan krisis kemanusiaan Yaman serta dalam rangka menutupi dimensi kejahatan perang koalisi Arab Saudi.

Alasan utama kegagalan Dewan Keamanan PBB dalam menangani krisis Yaman sangat jelas. Amerika Serikat, Inggris, Perancis adalah anggota tetap Dewan Keamanan PBB, juga mengekspor senjata ke Arab Saudi, UEA dan anggota koalisi lainnya yang memanfaatkan berlanjutnya perang dan bahkan mengintensifkannya.

Barat, selain mengeruk keuntungan besar dari penjualan senjata, juga menguji banyak senjata baru mereka dalam perang di Yaman. Namun terungkapnya fakta dukungan Barat dan tujuannya dalam perang Yaman telah menuai kecaman global.

Sementara itu, koalisi Saudi gagal menaklukkan Yaman meski mendapat bantuan militer luas dari Barat. Masalah tersebut telah mendorong koalisi Saudi dan para pendukungnya menggunakan berbagai intrik untuk mengalihkan opini publik dan juga menutupi kegagalan koalisi. Dalam situasi tersebut, dunia menyaksikan berbagai kebohongan dan tuduhan palsu terhadap Iran dari Arab Saudi dan Barat di Dewan Keamanan PBB, yang dinilai para analis politik sebagai "propaganda".

Dalam kerangka skenario terbaru, Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB mengulangi klaim soal pengiriman rudal balistik dari Iran ke Yaman dalam sebuah memo di New York Times. Inggris juga telah menyusun sebuah rancangan resolusi untuk mengecam Iran di Dewan Keamanan dengan bantuan Amerika Serikat dan Perancis.

Ternyata perang yang dikobarkan Saudi mendapat perlawanan gigih dari rakyat Yaman dan Arab Saudi bertekuk lutut serta Riyadh gagal meraih setiap ambisinya. Seluruh perkembangan saat ini di Yaman menunjukkan bahwa petinggi Arab Saudi terjebak dan berusaha keluar dari kubangan yang mereka buat di Yaman.

Serangan Arab Saudi

Di kondisi seperti ini, jika agresi militer Arab Saudi ke Yaman terus berlanjut, Riyadh dipastikan akan menelan kekalahan paling pahit. Wajar jika seluruh peristiwa yang telah ditorehkan oleh resistensi heroik rakyat Yaman menekankan realita ini bahwa Arab Saudi sejak melancarkan perang proksi di Yaman telah tercatat sebagai pecundang dan terjebak di kubangan yang mereka buat sendiri.

Untuk menutupi dan jika mampu keluar dari kegagalan yang dihadapi, Arab Saudi dengan bantuan Barat, berusaha melimpahkan kesalahan kepada Republik Islam Iran, yang dituding mendukung Yaman. Dengan demikian mereka berharap dapat sedikit menjaga kredibilitas mereka yang sudah tercabik-cabik di Yaman, karena kegagalan menumpas perlawanan gigih rakyat di negara paling miskin di kawasan. (MZ)