Serangan AS ke Suriah, Mengulang Kesalahan Masa Lalu
-
Serangan rudal AS ke Suriah.
Militer Amerika Serikat akhirnya menyerang Suriah setelah klaim dan pernyataan kontroversial para pejabat Gedung Putih selama beberapa hari ini. Militer AS, Inggris dan Perancis melancarkan serangan udara ke wilayah Suriah pada Sabtu dini hari, 14 April 2018. Serangan ini menarget sejumlah posisi di Suriah dengan melibatkan rudal jelajah, Tomahawk. Unit pertahaan udara militer Suriah berhasil menembak jatuh 13 rudal yang ditembakkan militer AS di al-Kiswah, 30 kilometer selatan Damaskus.
Presiden AS Donald Trump menginstruksikan serangan militer ke Suriah dengan dalih serangan kimia di kota Douma, Ghuta Timur. Serangan ini dilancarkan dengan dukungan Inggris dan Perancis.
Sebelumnya, kelompok-kelompok teroris dan pemberontak bersenjata Suriah mengklaim bahwa serangan kimia di kota Douma telah menewaskan sedikitnya 70 orang dan melukai 500 lainnya. Mereka menuding militer Suriah bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Kelompok-kelompok teroris dan pendukungnya memperkenalkan pasukan Suriah sebagai pelaku serangan kimia di Douma ketika hingga sekarang belum ada sumber-sumber independen yang membenarkan klaim dan tuduhan mereka.
Beberapa jam sebelum serangan AS dan sekutunya ke Suriah, para inspektur PBB telah masuk ke Suriah dan belum menyelesaikan penyelidikannya terkait klaim penggunaan senjata kimia di kota Douma.
Dengan kata lain, AS menyerang sebuah negara berdaulat dan anggota PBB seperti Suriah hanya bersandar pada rekaman video berdurasi beberapa menit yang menayangkan sekelompok orang yang sedang mengobati para korban yang tampak terkena gas klorin.
Serangan tersebut juga dilancarkan tanpa mengantongi izin dari Dewan Keamanan PBB sebagai satu-satunya lembaga penjamin perdamaian dan keamanan dunia. Langkah AS dan sekutunya tersebut bertentangan dengan semua Piagam PBB dan semua hukum internasional yang mengakui kedaulatan nasional negara-negara dunia.
Sebenarnya, ini bukan pertama kali AS menyerang sebuah negara berdasarkan informasi keliru dan konspirasi media. 15 tahun lalu, pemerintah Washington di masa itu mengklaim bahwa rezim Saddam Irak memiliki senjata pemusnah massal, dan atas dalih ini, AS menduduki negara berdaulat itu.
Setelah melakukan pencarian jengkal demi jengkal di wilayah Irak, AS tidak menemukan tanda adanya senjata pemusnah massal di negara itu. Menteri Luar Negeri AS Colin Powell di masa itu akhirnya mengakui bahwa pidatonya di sidang bersejarah Dewan Keamanan PBB pada April 2003 adalah sebuah penipuan.
Penipuan dan kebohongan pejabat AS telah menyebabkan kehancuran Irak, terbunuhnya satu juta manusia dan hilangnya tujuh triliun dolar uang pembayar pajak Amerika serta kekacauan di kawasan Asia Barat.
Tahun lalu, dengan klaim serupa seperti sekarang, Trump menginstruksikan serangan rudal ke Suriah sebagai reaksi atas klaim serangan kimia di distrik Khan Shaykhun, namun serangan rudal ini alih-alih mengubah perimbangan kekuatan militer di Suriah, namun pasca serangan tersebut, pasukan Suriah justru mencapai keberhasilan-keberhasilan yang signifikan. Oleh karena itu, serangan militer AS ke Suriah tahun lalu dianggap gagal mencapai tujuannya.
Serangan terbaru AS dan sekutunya ke Suriah juga dinilai sejumlah politisi dan analis sebagai serangan yang tidak akan memiliki banyak pengaruh. Namun tampaknya para pejabat Gedung Putih tidak mau mengambil pelajaran dari kesalahan-kesalahan mereka di masa lalu. (RA)