Menghidupkan Kejayaan Inggris di Teluk Persia
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i55432-menghidupkan_kejayaan_inggris_di_teluk_persia
Kementerian Pertahanan Qatar menyatakan bahwa angkatan laut mereka telah melakukan latihan militer gabungan bersama Inggris pada 19 April lalu di perairan Teluk Persia.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Apr 21, 2018 10:17 Asia/Jakarta
  • Inggris pada 6 April lalu meresmikan sebuah pangkalan militer permanen di Bahrain.
    Inggris pada 6 April lalu meresmikan sebuah pangkalan militer permanen di Bahrain.

Kementerian Pertahanan Qatar menyatakan bahwa angkatan laut mereka telah melakukan latihan militer gabungan bersama Inggris pada 19 April lalu di perairan Teluk Persia.

Inggris adalah aktor asing tertua di wilayah Teluk Persia. Kehadiran dan kebijakan Inggris di masa lalu menyisakan banyak persoalan bagi negara-negara regional seperti, penciptaan rezim-rezim boneka di kawasan, pembentukan rezim Zionis Israel, dan sengketa perbatasan di antara negara-negara Arab.

Kerajaan Inggris menjalankan strategi penarikan diri dari Teluk Persia pada dekade 1970-an, namun masih tetap terlibat aktif dalam isu-isu di kawasan.

Dalam beberapa tahun terakhir, Inggris memutuskan untuk kembali ke Teluk Persia dan hal ini ditandai dengan peresmian pangkalan militernya di Bahrain, serta pelaksanaan latihan gabungan dengan negara-negara regional.

Sejalan dengan strategi ini, Inggris mengadopsi langkah-langkah agresif termasuk menggelar latihan militer, mengintervensi urusan negara-negara kawasan, dan menghidupkan kebijakan imperialismenya "pecah dahulu kemudian kuasai."

Inggris dan Qatar telah melakukan empat kali latihan militer selama tahun 2017 dan terakhir kali dilakukan pada 20 September 2017. Latihan gabungan 19 April lalu merupakan manuver militer pertama London dan Doha pada 2018.

Pada dasarnya, Inggris ingin menghidupkan kebijakan tradisionalnya di Teluk Persia yaitu; menyebarkan pengaruh dengan cara menyulut perpecahan internal dan mengadu-doba negara-negara kawasan.

Meskipun London memiliki hubungan dekat dengan para raja Arab di Teluk Persia, namun mereka sama sekali tidak berusaha untuk meredam konflik internal Arab antara Qatar dengan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Mesir.

Kepentingan Inggris sepertinya akan terpenuhi dengan tetap mempertahankan konflik internal Arab sekaligus menjalankan kebijakan "pecah dahulu kemudian kuasai."

Mantan Duta Besar Iran untuk Oman, Ali Akbar Sibaveh mengatakan, "London mengejar kepentingannya di tengah konflik internal Arab baik dari segi ekonomi dan penjualan senjata maupun dari segi infiltrasi dan perluasan pengaruh. Seluruh perkembangan regional bahkan masalah perubahan perilaku Riyadh terjadi dengan skenario Inggris. Jadi, sampai hari ini Inggris-lah aktor utama pemicu konflik di kawasan."

Pelaksanaan latihan militer dengan kekuatan trans-regional dan ketergantungan Arab pada Barat di bidang keamanan, jelas tidak akan membantu memperkuat keamanan Teluk Persia, tetapi justru akan memperluas ketidakamanan dan instabilitas di kawasan.

Kebijakan dan perilaku Inggris dan beberapa negara Barat lainnya berkontribusi langsung dalam kemunculan dan penyebaran terorisme di kawasan. Serangan rudal ke Suriah juga termasuk bagian dari kebijakan tersebut.

Pemerintah Qatar mulai mengandalkan kekuatan Barat untuk keluar dari tekanan akibat pemutusan hubungan diplomatik oleh Arab Saudi Cs, padahal pendekatan seperti ini hanya membuat kepentingan Barat terpenuhi lewat penjualan senjata baru ke Doha. (RM)