Saudi Menolak Kesepakatan Abad, Tatik Atau Strategi?
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i60572-saudi_menolak_kesepakatan_abad_tatik_atau_strategi
Selama beberapa hari terakhir tersebar berita soal Arab Saudi menarik dukungannya terhadap Kesepakatan Abad.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Aug 04, 2018 15:03 Asia/Jakarta
  • dari kiri: Netanyahu, MBS dan Abbas
    dari kiri: Netanyahu, MBS dan Abbas

Selama beberapa hari terakhir tersebar berita soal Arab Saudi menarik dukungannya terhadap Kesepakatan Abad.

Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz dalam pertemuannya dengan Ketua Otorita Ramallah, Mahmoud Abbas, memberikan jaminan bahwa Riyadh tidak akan mendukung Kesepakatan Abad. Ini merupakan sikap Raja Salman sementara Arab Saudi adalah salah satu aktor paling penting dalam proses implementasi Kesepakatan Abad. Pemerintahan Trump sangat mengandalkan dukungan Saudi untuk makar tersebut.

 

Pertanyaannya adalah apa alasan di balik keputusan terbaru Raja Salman untuk tidak mendukung Kesepakatan Abad tersebut? Apakah ini taktis atau strategi?

 

Mengevaluasi pola perilaku Arab Saudi pasca kekuasaan Raja Salman pada Januari 2015 menunjukkan bahwa pemerintah Saudi tidak menganggap Palestina sebagai prioritas penting dalam kebijakan luar negerinya, namun melihatnya sebagai masalah marginal. Putra Mahkota Saudi, Muhammad bin Salman (MBS), secara resmi mengakui eksistensi Israel dalam kunjunganya ke Amerika Serikat dan membela kedaulatan rezim Zionis, bahkan secara eksplisit menilai Palestina sebagai faktor utama berlanjutnya konflik Israel-Palestina.

Mahmoud Abbas

 

Pemerintah Saudi bahkan belum menanggapi soal relokasi Kedutaan AS dari Tel Aviv ke al-Quds, dan berdasarkan sejumlah laporan, relokasi tersebut berpijak pada kesepakatan Washington dengan Riyadh. Langkah-langkah itu dilakukan di saat di dunia Arab, salah satu sumber legitimasi pemerintah yang terpenting, adalah tingkat dukungan mereka untuk Palestina dan tujuannya.

 

Sikap dan kebijakan pemerintah Saudi sejak tahun 2015 dan seterusnya telah berkontribusi pada derasnya kritik terhadap Al Saud dan bahkan melemahnya posisi regional rezim Arab Saudi dalam kaitannya dengan masalah Palestina, yang kini diperburuk dengan perang Yaman. Langkah-langkah tersebut akan lebih dinisbatkan kepada Raja Salman ketimbang kepada putranya, MBS.

 

Koran Rai al-Youm menulis, Salman bin Abdulaziz, Raja Arab Saudi, dengan menarik kembali berkas Palestina dari tangan putranya, berusaha mengembalikan kredibilitas Al Saud yang telah tercabik-cabik.

 

Namun sikap tersebut hanya sekadar taktik, dan bukan strategi, karena ada hubungan yang tidak dapat diputus antara kekuasaan di Arab Saudi dan peran Amerika Serikat. Raja Salman, yang berkuasa pada 2015, berencana untuk menyerahkan kekuasaannya dari keluarga Abdulaziz ke keluarga Salman dan menjadi titik balik baru dalam kehidupan politik Arab Saudi.

 

Muhammad bin Salman (MBS), adalah pilihan pertama untuk menggantikan ayahnya. MBS mengandalkan dukungan pemerintah AS untuk meraih mahkota kerajaan dan hingga kini telah mengucurkan banyak dana ke kantong orang Amerika, termasuk kontrak senilai 400 miliar USD tahun lalu.

 

Mundurnya Raja Salman dari dukungan terhadap Kesepakatan Abad akan menimbulkan perselisihan antara raja dan putra mahkota dan ini akan merugikan rencana Salman dalam mentransfer kekuasaan dari keluarga Abdulaziz ke keluarga Salman. Oleh karena itu, tampaknya sikap terbaru Salman soal Kesepakatan Abad, hanya bersifat sementara , dan taktik untuk mencegah penguatan sentimen anti-Saudi di Timur Tengah.(MZ)