Dampak Sanksi AS atas Perekonomian Dunia Arab
-
Donald Trump
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, selain Iran, juga menjatuhkan sanksi kepada Turki. Sejumlah temuan di lapangan menunjukkan bahwa sanksi Amerika ternyata tidak hanya berdampak pada Iran dan Turki saja, tapi pada perekonomian sejumlah negara Arab.
Perang dagang yang dilancarkan Presiden Amerika, Donald Trump tidak ada habisnya. Wartawan surat kabar Al Hayat, Joyce Karam menulis, Turki adalah negara ke-11 yang masuk daftar sanksi Donald Trump. 10 negara lainnya adalah Iran, Rusia, Cina, Korea Utara, Pakistan, Suriah, Venezuela, Kuba, Libya dan Kolombia.
Kenyataannya, Donald Trump yang perilaku dan statemen-statemennya secara praktis selalu menjadi sumber kekacauan dalam politik global, menggunakan ekonomi sebagai senjata untuk menekan negara-negara lain.
Turki adalah negara terbaru yang harus berhadapan dengan perang ekonomi dan kebijakan sanksi Donald Trump, sebuah perang yang diprediksi akan semakin sengit dalam beberapa hari ke depan.
Meski akibat sanksi Amerika ini nilai mata uang Turki, Lira mengalami penurunan tajam dan perekonomian negara itu ikut terpapar, namun sejumlah laporan menunjukkan bahwa target perang dagang dan kebijakan sanksi Donald Trump bukan hanya Turki.
Realitasnya, perang dagang yang dilancarkan Trump terhadap Turki telah menyebabkan indeks harga saham di bursa efek beberapa negara Arab, anjlok. Sebagai contoh, saham dua bank utama Qatar, Qatar National Bank, QNB dan Commercial Bank of Qatar, CBQ ikut mengalami penurunan, masing-masing sebesar 4,1 dan 4,7 persen terdampak sanksi Amerika atas Turki.
Sementara di bursa efek Arab Saudi, saham dua bank utama negara itu, Al Ahli atau National Commercial Bank, NCB dan Al Rajhi Bank, juga mengalami penurunan, masing-masing sebesar 3,2 dan 1,3 persen. Di bursa efek Dubai, saham perusahaan pesawat terbang Air Arabia mengalami penurunan 2,9 persen.
Terdampaknya perekonomian negara Arab oleh kebijakan sanksi dan perang ekonomi yang dilancarkan Donald Trump atas Turki, dibandingkan yang lainnya, menjadi bukti bahwa yang dominan dalam sistem ekonomi global saat ini adalah "interdependensi" atau saling ketergantungan ekonomi, dan perekonomian setiap negara bukan saja tidak dapat dipisahkan satu sama lain, bahkan sudah sangat terkoneksi.
Sebagai contoh, Qatar National Bank, QNB adalah pemilik Finans Bank Turki dan Commercial Bank Qatar, CBQ menguasai mayoritas saham Alternatif Bank Turki.
Perang ekonomi yang dilancarkan Donald Trump terhadap Republik Islam Iran, juga berdampak negatif pada perekonomian sebagian negara Arab sekutu Amerika sendiri, Mesir contohnya.
Surat kabar Aljazair, El Khabar beberapa hari setelah keluarnya Amerika dari kesepakatan nuklir Iran, JCPOA menulis, langkah Amerika ini dan diberlakukannya kembali sanksi atas Iran dapat menaikkan harga minyak dunia. Mengingat bahwa Mesir adalah negara pengimpor minyak, maka peningkatan harga minyak dapat membawa dampak negatif bagi perekonomian negara ini.
Kenyataannya adalah, dalam perang ekonomi dan penerapan sanksi terhadap negara lain, Presiden Amerika bahkan tidak memperhatikan kepentingan negara-negara sekutunya sendiri sehingga dampaknya juga dirasakan oleh mereka. Lebih dari itu, langkah Trump menunjukkan arogansi membabi butanya dalam kebijakan luar negeri. (HS)