Emir Qatar: Kami Tetap Berada di Samping Turki
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i60954-emir_qatar_kami_tetap_berada_di_samping_turki
Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani mengatakan, pemerintah Doha akan tetap berdiri di samping saudara-saudaranya di Turki.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Aug 16, 2018 08:14 Asia/Jakarta
  • Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani (kanan) dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.
    Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani (kanan) dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani mengatakan, pemerintah Doha akan tetap berdiri di samping saudara-saudaranya di Turki.

Seperti dilansir kantor berita Anadolu, Sheikh Tamim dalam cuitannya di Twitter pada Rabu malam, 15 Agustus 2018 menuturkan, Qatar akan tetap berada di samping Turki, sebab, pemerintah Ankara telah berada di samping Qatar dan rakyat negara ini.

 

Dia menambahkan, dalam kerangka dialog dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Qatar menginvestasikan 15 miliar dolar di Turki, yang memiliki ekonomi kuat dan produktif.

 

Erdogan mengapresiasi dukungan Emir Qatar dan rakyat negara ini kepada Turki. Dia dalam cuitannya menulis, tidak diragukan lagi, hubungan kuat Turki dan Qatar di berbagai sektor akan ditingkatkan.

 

Nilai tukar lira Turki terpuruk cukup dalam terhadap dolar AS. Pelemahan lira Turki telah terjadi sejak awal tahun ini. Dalam kurun waktu 1 Januari sampai 13 Agustus 2018, lira Turki anjlok hingga sekitar 40 persen.

 

Penyebabnya beragam. Di antaranya tingkat suku bunga acuan yang rendah, tingginya inflasi, defisit transaksi berjalan yang melebar, hingga memburuknya hubungan Turki dengan Amerika Serikat hingga berujung sanksi serta upaya pembalasan dari presiden Turki untuk memboikot produk AS.

 

Erdogan pada hari Selasa, 14 Agustus 2018 mengeluarkan isyarat bahwa Turki akan memboikot barang-barang elektronik AS menyusul keputusan Presiden Donald Trump menaikkan tarif bea masuk aluminium dan baja terhadap negaranya.

 

Di menyerukan rakyat memakai produk elektronik dalam negeri atau buatan Samsung Korea, dan mendesak warga untuk tidak membeli iPhone, salah satu barang elektronik populer dari AS. (RA)