Irak telah Melengkapi Lingkaran Trias Politika
-
Barham Salih, Presiden Irak
Dengan terpilihnya presiden dan diperkenalkannya perdana menteri baru Irak, lingkaran trias politika di Irak telah terbentuk sempurna.
Parlemen Irak memilih Barham Salih sebagai presiden baru Selasa malam (02/10) dan presiden baru Irak ini memperkenalkan Adel Abdul Mahdi sebagai Perdana Menteri baru. Sebelumnya, Mohammed al-Halbusi terpilih sebagai kepala baru parlemen Irak. Sejak tahun 2003 hingga sekarang, sesuai dengan kesepakatan partai-partai politik Irak, presiden negara ini diangkat dari para kandidat Kurdi, sementara ketua parlemen berasal dari para calon Ahli Sunnah dan posisi perdana menteri akan dipilih dari kandidat Syiah.
Pemilihan presiden adalah langkah pertama dalam pembentukan pemerintahan baru di Irak. Dengan demikian, dalam langkah pertamanya, Barham Salih memperkenalkan Adel Abdul Mahdi sebagai perdana menteri dan Abdul Mahdi juga harus memperkenalkan kabinet Irak dalam waktu satu bulan.
Pentingnya memilih Barham Salih sebagai presiden baru Irak adalah bahwa ia akan lebih memilih untuk melindungi kepentingan nasional Irak daripada kepentingan sektarian. Barham Salih, diusulkan sebagai kandidat presiden Irak dari Uni Patriotik Kurdistan (PUK) dan tidak mendukung referendum Kurdistan Irak serta menyerukan perlindungan integritas teritorial Irak.
Barham Salih Selasa kemarin, setelah diperkenalkan sebagai presiden baru mengatakan bahwa saya akan mempertahankan persatuan dan kemerdekaan Irak. Dia menekankan bahwa saya akan menjadi presiden Irak, bukan kelompok atau aliran khusus. Dapat dikatakan bahwa salah satu pesan terpenting terpilihnya Barham Salih sebagai presiden baru Irak adalah kekalahan separatis di negara ini.
Pertimbangan penting lainnya bagi Barham Salih sebagai presiden Irak yang baru adalah bahwa ia memiliki hubungan baik dengan orang-orang Arab dan keberhasilannya mengumpulkan suara sebanyak 219 dalam sidang kemarin parlemen Irak membuktikan masalah ini. Berbeda dengan sejumlah tokoh Kurdi, Barham Saleh dipercaya dapat menjamin hak-hak Kurdi di "Irak Kuat", bukan "Irak yang lemah".
Pengenalan Adel Abdul Mahdi sebagai perdana menteri baru Irak juga mengandung pesan penting bahwa tekanan asing untuk menciptakan perselisihan antara kelompok Syiah dan pengenalan perdana menteri yang menentang al-Hashd al-Shaabi di Irak gagal. Karena Adel Abdul Mahdi diperkenalkan lewat Aliansi Sairun (Muqtada Sadr) dan Al-Fath (Hadi al-Amiri).
Meskipun lingkaran trias politika termasuk kepala parlemen, presiden dan perdana menteri di Irak telah selesai dipilih dan kebuntuan yang telah tercipta sejak pemilihan parlemen Mei lalu telah berakhir, tetapi intervensi asing, khususnya Amerika Serikat dalam urusan negeri Irak tidak akan berakhir.
Amerika Serikat sekarang sedang mencoba melakukan intervensi dengan memberi tekanan pada Adel Abdul Mahdi dalam proses pemilihan anggota kabinet Irak yang baru. Sebagaimana Senator Republik dari Partai Republik Marco Rubio pekan lalu menyerukan intervensi AS dalam pemilihan menteri perminyakan pemerintah Irak yang baru.