Gelombang Kegagalan Pasukan Koalisi Pimpinan Saudi di Yaman
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i63923-gelombang_kegagalan_pasukan_koalisi_pimpinan_saudi_di_yaman
Kegagalan berturut-turut pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi di al-Hudaydah Yaman berlanjut. Berita terbaru menyebutkan bahwa ratusan pasukan bayaran koalisi pimpinan Arab Saudi tewas di daerah selatan, sekitar 16 km dekat pelabuhan al-Hudaydah.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Nov 07, 2018 14:20 Asia/Jakarta
  • Serangan pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi ke Yaman.
    Serangan pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi ke Yaman.

Kegagalan berturut-turut pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi di al-Hudaydah Yaman berlanjut. Berita terbaru menyebutkan bahwa ratusan pasukan bayaran koalisi pimpinan Arab Saudi tewas di daerah selatan, sekitar 16 km dekat pelabuhan al-Hudaydah.

Perkembangan tersebut menunjukkan babak baru dari kegagalan dan kekalahan pasukan koalisi yang mengagresi Yaman sejak Maret 2015. Juru bicara Angkatan Bersenjata Yaman Yahya Saree, Selasa malam, 6 November 2018 mengumumkan bahwa pasukan bayaran koalisi pimpinan Arab Saudi mengalami kekalahan pahit dalam pertempuran di dekat pelabuhan al-Hudaydah, di mana lebih dari 200 pasukan mereka tewas.

 

Pengerahan luas pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi untuk menduduki pelabuhan al-Hudaydah telah dimulai sejak lima bulan lalu, namun serangan ini mendapat perlawanan sengit dari militer dan pasukan relawan Yaman.

 

Al-Hudaydah adalah sebuah pelabuhan strategis di pantai Laut Merah dan satu-satunya pintu masuk untuk distribusi bantuan kemanusiaan ke Yaman yang diblokade pasukan agresor. 70 persen bantuan bahan makanan dan obat-obatan masuk ke Yaman melalui pelabuhan tersebut.

 

Arab Saudi berusaha menduduki pelabuhan al-Hudaydah dengan harapan bisa menyempurnakan blokadenya terhadap Yaman, yang menyebabkan jutaan rakyat negara ini menderita, kelaparan dan meregang nyawa. Namun transformasi di Yaman menunjukkan bahwa upaya untuk menduduki pelabuhan tersebut gagal. Kegagalan ini adalah kekalahan lain bagi pasukan agresor.

 

Pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi memulai serangan luas ke pelabuhan al-Hudaydah ketika pihak-pihak dan kalangan internasional memperingatkan memburuknya kondisi kemanusiaan di Yaman. Meski diperingatkan, namun mereka tidak mempedulikannya dan tetap menggelar operasi luas di pelabuhan al-Hudaydah untuk mendudukinya.

 

Militer dan pasukan relawan Yaman melakukan perlawanan keras terhadap serangan tersebut dan hingga sekarang berhasil menggagalkan operasi pasukan agresor. Meski di berbagai medan perang, pasukan koalisi yang didukung Amerika Serikat dan sekutunya ini mengalami kekalahan, namun mereka menyebarkan propaganda tentang kemenangan di medan tempur untuk menutupi kekalahan dan kegagalan itu.

Juru bicara Gerakan Rakyat Yaman Mohammad Abdussalam, Ansarullah pada hari Selasa, 6 November 2018 merespon klaim pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi tentang kemenangan mereka di al-Hudaydah. Dia dalam tweetnya menulis, musuh telah kalah dari sisi semangat, militer, politik dan moral. Mereka, lanjutnya, mengalami ilusi, oleh karena itu, mereka menutupi kekalahannya dengan kebohongan dan menyebarkannya.

 

Arab Saudi membentuk koalisi yang terdiri dari rezim-rezim reaksioner Arab pada tahun 2015. Mereka kemudian memulai serangan militer ke Yaman dan melancarkan perang proxy ke negara tetangganya ini dengan dukungan AS. Salah satu tujuan dari agresi militer itu adalah untuk menundukkan rakyat Yaman dan memaksakan kebijakan ekspansionismenya di negara ini. Serangan militer tersebut telah menewaskan belasan ribu warga Yaman dan meluluhlantakkan infrastruktur negara ini.  

 

Selama agresi militer lebih dari 3,5 tahun ini, rakyat Yaman melakukan perlawananan gigih. Mereka mempertahankan negara hingga titik darah penghabisan dan tidak bersedia untuk tunduk kepada pasukan agresor. Akibat perlawanan tersebut, kini pasukan agresor berpikir untuk bisa keluar dari lobang rawa yang mereka gali sendiri.

 

Dengan melancarkan serangan dengan sandi "Badai Mematikan" ke Yaman pada Maret 2015, rezim Al Saud berkhayal akan bisa menduduki negara ini dalam waktu satu bulan, namun faktanya, perang berlanjut hingga sekarang dan telah berubah menjadi perang habis-habisan. Kini mereka berpikir untuk bisa keluar dari perang ini secara terhormat.

 

Pekan lalu, kita mendengar perubahan posisi pejabat Amerika Serikat dalam menyikapi perang di Yaman. Pendukung agresi militer pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi ke Yaman itu menyerukan penghentian perang. Seruan ini disampaikan setelah pasukan koalisi gagal mencapai ambisinya meskipun telah bertahun-tahun membantai rakyat Yaman.

 

Seruan Amerika tersebut tentunya merupakan upaya untuk membantu pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi keluar dari perang Yaman secara terhormat. Pastinya posisi pejabat AS tersebut juga diambil melalui koordinasi dengan koalisi agresor ke Yaman. (RA)