Saudi di Kubangan Perang Yaman
https://parstoday.ir/id/news/west_asia-i80445-saudi_di_kubangan_perang_yaman
ِDinamika perang di Yaman menunjukkan bahwa rezim Al-Saud yang melancarkan agresi militer terhadap negara tetangganya ini sedang terjebak di kubangan yang digalinya sendiri.
(last modified 2026-03-03T08:52:08+00:00 )
Apr 16, 2020 05:15 Asia/Jakarta
  • Pasukan Arab Saudi di Yaman
    Pasukan Arab Saudi di Yaman

ِDinamika perang di Yaman menunjukkan bahwa rezim Al-Saud yang melancarkan agresi militer terhadap negara tetangganya ini sedang terjebak di kubangan yang digalinya sendiri.

Pasalnya, pihak lawan yang ingin ditumpas oleh koalisi agresor pimpinan rezim Al Saud memperlihatkan resistensi yang tinggi dan semakin kuat dari sebelumnya. Di sisi lain terjadi konflik sesama anggota koalisi agresor di Yaman selatan. Selain itu, perang Yaman juga menimbulkan masalah besar bagi perekonomian Arab Saudi.

Tampaknya, rezim Al Saud mulai menyadari bahwa kekuatan ofensif dan defensif dari kubu militer dan Ansarullah Yaman telah meningkat ke titik yang mampu menimbulkan pukulan fatal bagi Riyadh. Serangan militer berulang-ulang terhadap sejumlah target di Arab Saudi, seperti yang terjadi pada musim panas 2019 terhadap Baqiq dan Kharis, telah menyebabkan penghentian produksi minyak Saudi hingga 50 persen.

Oleh karena itu, di satu sisi, Al-Saud terlihat berusaha untuk keluar dari kubangan perang Yaman, dan menyetujui gencatan senjata yang diusulkan Sekretaris Jenderal PBB. Tapi di sisi lain, memandang langkah tersebut sebagai kegagalan Riyadh. Akibatnya, rezim Al Saud mengklaim menerima gencatan senjata, sambil tetap melanjutkan serangan terhadap Yaman.

Dalam hal ini, Mohammad Abdul Salam, Kepala Tim Negosiasi Pemerintah Keselamatan Nasional Yaman di akun Twitternya menulis, "Gencatan senjata sepihak bukan hanya tidak terjadi sama sekali, bahkan para agresor justru mengintensifkan serangan udara mereka."

Masalah lainnya mengenai konflik antara Riyadh dan Abu Dhabi di Yaman selatan yang dimulai sejak musim panas 2019, ketika Uni Emirat Arab mengumumkan penarikan pasukannya. Meskipun rezim Al Saud berupaya meredam konflik dengan mitranya ini melalui perjanjian pada November 2019, tetapi faktanya tidak ada tanda-tanda konflik menurun. Bahkan perselisihan keduanya meningkat seiring naiknya kekuatan Dewan Transisi Selatan yang berafiliasi dengan Uni Emirat Arab di wilayah selatan Yaman.

 

perang Yaman

 

Sumber-sumber lokal Yaman mengabarkan bergabungnya satu brigade pasukan dari kubu Mansur Hadi dengan para milisi Dewan Transisi Selatan di Pulau Saghtari. Pergerakan baru ini mengindikasikan eskalasi konflik antara Al Saud dengan UEA.

Asad Bashara, analis politik menilai kontradiksi kepentingan antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang saling berebut pengaruh di Yaman selatan terlihat jelas di al-Muhra dan al-Saghtari.

Perang yang dikobarkan Arab Saudi di Yaman juga menjadi salah satu pemicu utama defisit anggaran, sekaligus lonjakan belanja militernya sebesar 130 persen dari 2015 hingga 2019. Al-Saud sampai pada kesimpulan bahwa kelanjutan tren kenaikan defisit anggaran ini mengharuskan penataan ulang pengeluaran militer dan perangnya. Tetapi di sisi lain, ambisi perang Putera Mahkota Mohammed bin Salman menggagalkan langkah tersebut. 

Berbagai faktor ini mengindikasikan pendekatan haus perang Arab Saudi di Yaman gagal mencapai hasil yang diharapkan Riyadh. Saat ini, perang Yaman menjadi kubangan yang sulit ditinggalkan Riyadh dengan berbagai kontradiksinya.(PH)