Faktor Pemicu Konflik Baru Irak
Irak kembali menghadapi tantangan keamanan baru setelah periode tenang yang singkat.
Tantangan keamanan Irak saat ini dipicu oleh tiga masalah utama yaitu: provokasi aktor politik semacam Hoshyar Zebari terhadap Al-Hashd Al-Shaabi dan reaksi lamban Partai Demokratik Kurdi terhadapnya, aksi protes pendukung Al-Hashd Al-Shaabi di Baghdad dan pembakaran bendera Kurdistan Irak yang dibalas pembakaran bendera Irak di Erbil, serta tewasnya delapan warga sipil Irak.
Rangkaian insiden tersebut terjadi di saat Irak menghadapi gelombang baru serangan kelompok teroris Daesh dan kubu perlawanan berhasil melancarkan pukulan keras terhadap kelompok teroris ini selama beberapa bulan terakhir. Sekarang yang menjadi pertanyaan, mengapa muncul konflik politik baru setelah kondisi tensi ketegangan relatif reda ?
Faktor pertama berkaitan dengan lemahnya identitas nasional Irak. Struktur demografis Irak diciptakan oleh penjajah Inggris pada tahun 1930-an dengan menekankan pada struktur sektarian dalam komposisi politiknya. Kelompok politik di Irak fokus pada identitas etnis Kurdi dan Arab, serta identitas agama Syiah dan Sunni daripada identitas nasional Irak.
Faktor ini pula yang menjadikan pertahanan di tingkat daerah lebih diutamakan daripada pertahanan tingkat nasional. Oleh karena itu, terjadi aksi pembakaran bendera Kurdistan di Baghdad dan bendera Irak di Erbil. Pada saat yang sama, insiden keamanan berubah menjadi konflik nasional antara Arab dan Kurdi, seperti yang sekarang terjadi di daerah Rajiyan.
Faktor kedua mengenai sepak terjang para tokoh politik Irak yang tidak menggunakan pengalaman politiknya untuk mempromosikan kohesi sosial dan integrasi nasional Irak setelah tidak menjabat lagi. Pernyataan provokatif Zebari tentang Al-Hashd Al-Shaabi memperuncing masalah sektarian di Irak. Padahal, dia pernah menjabat sebagai menteri luar negeri Irak di era Perdana Menteri Nouri al-Maliki dan menteri keuangan Irak di masa Perdana Menteri Haider al-Abadi.
Faktor ketiga berkaitan dengan pandangan beberapa tokoh politik Irak yang memandang negatif Al-Hashd Al-Shaabi yang telah berperan signifikan dalam menumpas kelompok teroris Daesh dan menjaga keutuhan wilayah Irak.
Faktor keempat lemahnya kelompok politik Irak dalam mengendalikan para politisinya. Partai Demokratik Kurdi lamban menyikapi statemen Zebari yang menyulut perpecahan nasional Irak.
Irak saat ini membutuhkan persatuan nasional yang lebih kuat melebihi sebelumnya dengan mengedepankan kepentingan nasional di atas kepentingan pribadi maupun kelompoknya masing-masing.(PH)