Dimensi Baru Kerja Sama AS dan ISIS di Afghanistan
-
Kelompok Teroris Daesh
Utusan presiden Rusia untuk urusan Afghanistan, Zamir Kabulov Selasa (20/7/2021) di pertemuan Valdai Discussion Club mengatakan, tentara AS dan sekutunya di Afghanistan memiliki hubungan dengan Daesh (ISIS) dan bekerja sama dengan kelompok teroris ini.
Seraya yakin atas kerja sama antara koalisi asing pimpinan AS dan Daesh sejak lama di Afghanistan, ia mengatakan, "Kami memiliki data jelas dari Afghanistan bahwa pasukan asing terlibat kerja sama dengan kelompok teroris Daesh."
Sekaitan dengan ini, Zamir Kabulov mengisyaratkan pada pengepungan sebuah kelompok besar Daesh di utara Afghanistan dan mengatakan, "Teroris ini dipindahkan ke pangkalan militer Bagram menggunakan helikopter tak dikenal dan tanpa tanda, selanjutnya teroris ini tersebar di berbagai wilayah."
Kabulov menjelaskan, kasus kecil seperti ini sangat banyak dan jika kita kumpulkan kasus ini serta kita kaji, maka kita akan sampai pada kesimpulan umum. Maksud dari petinggi Rusia sampai pada kesimpulan adalah Amerika secara sistematis dan dalam koridor rencana umum aktif bekerja sama dan membantu Daesh di Afghanistan.
Faktanya kehadiran militer Amerika di Afghanistan dibarengi dengan pembentukan serta aktivitas luas kelompok teroris Daesh di negara ini dalam beberapa tahun terakhir. Moskow berulang kali memperingatkan bahwa kelompok teroris Daesh untuk meraih tujuannya dai Asia Tengah dan mengobarkan instabilitas di kawasan ini, berencana meningkatkan aktivitasnya di Afghanistan.
Rusia juga memperingatkan kehadiran luas kelompok teroris Daesh di Afghanistan dan mengambil langkah yang diperlukan untuk mencegah aktivitas teroris Daesh terhadap sekutu Rusia di Organisasi Traktat Keamanan Kolektif (CSTO). Di antara langkah yang diambil Moskow adalah memperkuat pangkalan militernya di Tajikistand an Kazakhstan.
Menurut Rusia, Amerika Serikat dan sekutunya di Afghanistan demi kepentingan dan meraih tujuannya telah mempersiapkan beragam bantuan logistik dan persenjataan bagi Daesh di Afghanistan. Mengingat bahaya keamanan akibat langkah ini, Moskow menuntut dimensi langkah ini dikuak dan secepatnya protes ini dihentikan.
Kementerian Luar Negeri Rusia sebelumnya mengumumkan, wilayah utara Afghanistan berubah menjadi tempat persembunyian anasir Daesh. Penguatan Daesh di Afghanistan sangat penting mengingat pendekatan AS mendukung kehadiran fenomena buruk ini di Afghanistan dan bahkan menyalurkan bantuan kepada anasir Daesh untuk memasuki serta bercokol di negara ini.
Jubir Kemenlu Rusia, Maria Zakharova terkait hal ini mengatakan, "Mengingat informasi terpercaya, dapat ditegaskan bahwa ada dukungan terhadap Daesh di Afghanistan oleh Amerika Serikat dan NATO, di mana bantuan tersebut mencakup transportasi Daesh oleh helikopter tak dikenal dan penyediaan senjata mematikan."
Menurut Moskow, Amerika Serikat menyediakan beragam bantuan logistik dan persenjataan bagi Daesh di Afghanistan demi kepentingan dan meraih tujuannya. Amerika Serikat senantiasa berusaha memanfaatkan Daesh sebagai alat melawan musuh regional dan internasionalnya termasuk Republik Islam Iran, Rusia dan Cina.
Memperkuat Daesh di Afghanistan khususnya di sekitar negara-negara Asia Tengah seperti Tajikistan dan Uzbekistan dilakukan untuk menekan Rusia, Cina dan negara-negara tersebut.
Nozar Shafeei, pengamat isu-isu internasional seraya menekankan bahwa Desh dari sisi sosiologis tidak memiliki tempat di Afghanistan mengatakan, Amerika Serikat berusaha memanfaatkan Daesh untuk mengusir Cina dari Afghanistan dan merusak rivalnya ini dari dalam.
Meski Amerika Serikat menginvasi Afghanistan dengan slogan melawan terorisme, namun negara ini sampai kini masih menjadi negara utama yang mengalami kerusakan dan menjadi korban serangan teroris. Amerika sampai saat ini menarik 95 persen tentaranya dari Afghanistan, oleh karena itu, Taliban semakin aktif dan menduduki wilayah baru di negara ini. Bagaimana pun juga kondisi keamanan yang parah di Afghanistan telah mendorong eskalasi aksi-aksi teroris Daesh. Daesh sampai saat ini telah menyebabkan kematian ratusan warga Afgahnistan dengan leakan bom dan berbagai serangannya. (MF)