Resolusi DK-PBB soal Afghanistan; Upaya Kendalikan Situasi
https://parstoday.ir/id/news/world-i103950-resolusi_dk_pbb_soal_afghanistan_upaya_kendalikan_situasi
Dewan Keamanan PBB (DK-PBB) di sidangnya hari Senin (30/8/2021) meratifikasi resolusi terkait Afghanistan di mana resolusi tersebut meminta Taliban komitmen menjaga keamanan bagi warga Afghanistan dan asing yang ingin keluar dari negara ini.
(last modified 2026-04-13T11:36:12+00:00 )
Aug 31, 2021 11:48 Asia/Jakarta
  • Dewan Keamanan PBB
    Dewan Keamanan PBB

Dewan Keamanan PBB (DK-PBB) di sidangnya hari Senin (30/8/2021) meratifikasi resolusi terkait Afghanistan di mana resolusi tersebut meminta Taliban komitmen menjaga keamanan bagi warga Afghanistan dan asing yang ingin keluar dari negara ini.

Resolusi tersebut juga menuntut peningkatan upaya untuk memberi bantuan kemanusiaan ke Afghanistan. Resolusi ini diratifikasi dengan 13 suara setuju dan 2  abstain. Resolusi ini diusulkan oleh Amerika Serikat dan didukung oleh Prancis dan Inggris. Sementara Cina dan Rusia memberi suara abstain terhadap resolusi ini.

Sepertinya tujuan Dewan Keamanan merilis resolusi terbaru soal Afghanistan adalah mengoordinasi secepatnya kondisi di negara yang dilanda krisis ini, di mana mengingat penarikan pasukan AS dan Barat serta kini posisi Taliban yang menguasai Kabul dan bandara udara internasional, Afghanistan dalam kondisi sensitif.

Meski demikian di tubuh Dewan Keamanan sendiri terpecah terkait mekanisme menyikapi Afghanistan dan Taliban. Sekaitan dengan ini, negara-negara Barat menginginkan pendekatan represi terhadap Taliban untuk memaksa milisi ini menunaikan komitmen dan janjinya. Dalam hal ini, Presiden Prancis, Emmanuel Macron mengonfirmasi rencana London dan Paris untuk mengajukan draf resolusi ke Dewan Keamanan untuk membentuk zona aman di Kabul di bawah pengawasan PBB. Ia menyebut rencana ini mencakup operasi kemanusiaan dan represi terhadap Taliban.

Insiden Serangan Bom di Bandara Udara Kabul

Sementara dua anggota tetap Dewan yakni Rusia dan Cina menginginkan peningkatan interaksi dengan Taliban dan kerja sama dengan milisi ini selama Taliban komitmen dengan janjinya. Faktanya Moskow dan Beijing, menerima kekuasaan Taliban di Afghanistan sebagai fakta yang tidak dapat ditolak dan mengingat sikap serta pertemuan dengan petinggi Taliban, kedua negara ini menerima kekuasaan Taliban di Afghanistan dalam bentuk defacto. Meski Rusia sampai saat ini menolak mengakui secara resmi kekuasaan Taliban, namun Cina, mengingat potensi ekonomi Afghanistan, menyaksikan kehadirannya di negara ini menjanjikan serta memilih menjalin hubungan dengan Taliban serta di sisi lain, Taliban menekankan peran Beijing di bidang rekonstruksi Afghanistan.

Sebaliknya Barat pimpinan AS di bidang ini mengambil pendekatan negatif dan paling tidak untuk saat ini mereka menekankan untuk tidak mengakui secara resmi Taliban.

Sekaitan dengan ini Kepala Kebijaka Luar Negeri Uni Eropa, Josep Borrell mengungkapkan bahwa Uni Eropa terpaksa berinteraksi dengan Taliban untuk mengevakuasi warganya, staf Afghanistan serta kelurganya, namun ini bukan berarti pengakuan secara resmi terhadap milisi ini.

Meski demikian transformasi mendatang dan langkah Taliban kedepan bagi kekuasaan dan pembentukan pemerintah baru serta sikap potensial damainya meningkatkan peluang Barat untuk mengakui kedaulatan Taliban di Afghanistan sebagai sebuah fakta yang tidak dapat ditolak.

Koran Washington Post menulis, sejumlah petinggi Amerika mengatakan bahwa pengakuan resmi terhadap pemerintahan Taliban oleh Presiden Joe Biden sepertinya tidak akan berjalan lama, Biden menyadari masalah ini bahwa pengakuan resmi Taliban di Afghanistan dapat membantu kembalinya diplomat AS ke Afghanistan.

Kini dengan keluarnya militer AS secara resmi pada 31 Agustus yang secara praktis sama halnya dengan pelarian Washington dari Afghanistan, dimulai ufuk baru bukan saja di sejarah negara ini, tapi juga di tingkat internasional.

Pengamat asal Rusia, Vladimir Mozhegov mengatakan, "Dunia satu kutub di Afghanistan telah berakhir, dan kita menghadapi babak baru. Insiden Kabul bukan dimensi tunggal dan ada potensi kemunculan Taliban di Asia akan memantik peristiwa lebih besar."

Ketika Taliban menguasai Kabul, ada ketidakpastian besar tentang masa depannya. Instabilitas luas di Afghanistan dan berkuasanya kelompok teroris seperti Daesh (ISIS) atau al-Qaeda dapat membuat kondisi negara ini semakin parah. Sebelumnya, bentrokan di Afghanistan antara pasukan Barat dan Taliban, namun kini ketika Taliban berkuasa, mengingat unjuk kekuatan Daesh di insiden ledakan di Bandara Udara Kabul, potensi aktivitas lebih luas kelompok teroris ini dan berlanjutnya instabilitas serta kerusuhan di Afghanistan semakin besar. (MF)