Kisah Mengguncang: Pengakuan Tentara Cadangan Israel atas Kengerian di Jalur Gaza
-
Tentara Israel
Pars Today – Sebuah surat kabar Amerika memuat kesaksian-kesaksian yang mengguncang mengenai tindakan pasukan Israel di Gaza, yang menurut laporan tersebut tetap berlanjut meskipun telah diberlakukan gencatan senjata di wilayah tersebut.
Menurut laporan Kantor Berita Mehr yang mengutip Associated Press, kesaksian para tentara Israel mengenai tindakan terhadap warga sipil di Gaza menggambarkan skala luas kekerasan dan dugaan pelanggaran serius terhadap penduduk sipil yang, menurut laporan itu, masih berlangsung meskipun ada kesepakatan gencatan senjata. Sejumlah tentara Israel menggambarkan gencatan senjata tersebut sebagai “lelucon” dan menyatakan bahwa mereka menerima perintah yang mengizinkan penembakan terhadap siapa pun yang mendekati apa yang disebut sebagai “garis kuning”.
“Gencatan senjata hanyalah lelucon”
Salah seorang tentara Israel menceritakan bahwa ia menyaksikan rekan-rekannya merayakan setelah sebuah kendaraan yang membawa warga Palestina di dekat wilayah yang dikuasai militer Israel menjadi sasaran serangan, yang menyebabkan seluruh penumpangnya tewas. Ia menambahkan bahwa kejadian-kejadian seperti itu telah menjadi hal yang biasa sejak gencatan senjata yang rapuh mulai berlaku pada Oktober lalu.
Tiga tentara Israel lainnya mengatakan bahwa terdapat kebingungan terkait penentuan batas yang disebut “garis kuning”. Menurut mereka, sebagian komandan tampak mematuhi kesepakatan secara resmi, tetapi dalam pertemuan tertutup menyatakan keinginan untuk melanjutkan perang.
Seorang tentara lainnya menegaskan bahwa operasi penembakan dan pembunuhan tidak pernah benar-benar berhenti, sehingga menyebut situasi tersebut sebagai gencatan senjata dianggapnya sebagai sebuah lelucon.
Ketidakjelasan mengenai “garis kuning”
Laporan tersebut menyebutkan bahwa setelah kesepakatan mulai diterapkan, militer Israel kembali ditempatkan di dalam zona penyangga yang ditandai oleh garis kuning dan menguasai lebih dari separuh wilayah Jalur Gaza. Menurut laporan itu, penarikan pasukan yang lebih luas direncanakan sesuai kesepakatan, tetapi tanpa jadwal yang jelas. Selain itu, masih terdapat ketidakjelasan mengenai lokasi geografis pasti dari garis tersebut.
Salah seorang tentara mengatakan bahwa pasukan Israel menganggap setiap upaya mendekati garis kuning sebagai ancaman langsung dan akan menembaki orang yang mendekatinya.
Menurut laporan tersebut, sejak gencatan senjata yang diumumkan pada 10 Oktober 2025, tindakan militer Israel di Gaza telah menyebabkan 929 orang tewas dan 2.811 lainnya terluka, dengan puluhan korban berada di sekitar garis kuning.
Seorang tentara lain yang menceritakan pengalamannya selama fase kedua perang di Gaza mengatakan bahwa ia ditempatkan beberapa ratus meter dari garis tersebut dan menyaksikan beberapa orang terbunuh ketika mencoba melintasinya. Ia menambahkan bahwa informasi yang digunakan sebagai dasar serangan tidak selalu akurat, dan terkadang koordinat target ditentukan berdasarkan perkiraan.
Breaking the Silence dalam laporannya menyatakan bahwa aturan keterlibatan militer sangat tidak jelas, dan dalam banyak kasus instruksi yang diberikan adalah menembak orang-orang yang mendekati garis kuning hingga mereka tidak lagi mampu melanjutkan pergerakan.
“Nyawa warga Palestina tidak dianggap berharga”
Seorang tentara Israel lainnya yang bertugas di Gaza selama beberapa minggu setelah gencatan senjata mengatakan bahwa pesan utama yang diterimanya dari para komandan adalah menjaga garis tersebut dengan segala cara. Ia menambahkan bahwa kesan umum yang berkembang adalah bahwa nyawa manusia tidak dianggap berharga.
Ia juga mengatakan bahwa para komandan tidak memberikan penjelasan yang memadai mengenai penentuan posisi garis kuning tersebut.
Menurut tentara itu, pengalaman perang di Gaza meninggalkan dampak psikologis dan emosional yang berat baginya. Ia menambahkan bahwa banyak tentara Israel meyakini negaranya sedang bergerak menuju kehadiran jangka panjang di Gaza, bukan menuju penarikan pasukan dalam waktu dekat.
Dalam konteks yang sama, Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa militer Israel saat ini menguasai sekitar 60 persen wilayah Jalur Gaza dan memiliki rencana untuk memperluas area yang dikuasainya hingga mencapai 70 persen. (MF)