Impor Uranium dari Rusia Terancam, Perusahaan AS Minta Keringanan Sanksi
Di tengah eskalasi konflik militer antara Rusia dan Ukraina yang mengarah babak baru sanksi AS terhadap Moskow, perusahaan pembangkit listrik tenaga nuklir AS sedang bernegosiasi dengan Gedung Putih untuk membebaskan impor uranium Rusia dari cakupan sanksi.
Berdasarkan data kantor Informasi Energi AS dan Asosiasi Nuklir Dunia, Amerika Serikat memasok setengah dari uranium yang dibutuhkan oleh pembangkit listrik tenaga nuklirnya dari sejumlah negara dunia, termasuk Rusia.
Sebanyak 22,800.000 pon uranium pada tahun 2020 berasal dari Rusia, Kazakhstan, dan Uzbekistan untuk memasok kebutuhan 20 persen listrik AS.
Reuters hari Selasa (1/3/2022) melaporkan, perusahaan pembangkit listrik tenaga nuklir AS menekan Gedung Putih supaya mengizinkan impor uranium dari Rusia terus berlanjut, meskipun konflik berkembang di Ukraina, karena sumber bahan bakar murah ini membuat harga listrik AS tetap rendah.
Institut Energi Nasional, kelompok bisnis perusahaan tenaga nuklir AS, termasuk Duke Energy Group dan Axelon Group, mendorong Gedung Putih untuk mempertahankan pengecualian impor uranium dari Rusia.
Lobi Institut Energi Nasional AS bertujuan untuk memastikan bahwa uranium tidak ditargetkan dalam sanksi Washington terhadap Moskow.
Australia dan Kanada juga memiliki cadangan uranium yang besar dan kapasitas produksi yang besar, tetapi Rusia adalah salah satu produsen termurah di bidang ini.
Rusia memproduksi uranium dari Rosatom, sebuah BUMN yang diresmikan langsung Presiden Rusia Vladimir Putin pada 2007.(PH)