Dari Juru Selamat Teknokrat menjadi manajer yang Putus Asa; Media Prancis: 73 Persen Rakyat Ingin Macron Mundur
-
Presiden Prancis, Emmanuel Macron
Pars Today – Presiden Prancis berada di ambang menjadi presiden paling tidak populer dalam sejarah negara tersebut.
Emmanuel Macron, presiden Prancis telah mencapai titik dalam lanskap politik negara ini yang belum pernah dialami presiden mana pun dalam tujuh dekade terakhir: politisi paling tidak populer dalam sejarah Prancis modern. Namun, mengapa pria yang pernah dijuluki "presiden teknokrat penyelamat" ini menjadi begitu dibenci? Mingguan Prancis Courrier International menulis dalam sebuah artikel: Presiden Prancis kini tak lebih dari sekadar manajer yang putus asa dari sebuah republik yang usang.
Menurut mingguan ini, kepercayaan akan ketidakefektifan Emmanuel Macron terlihat jelas dalam sejumlah kasus: misalnya, sandiwara Macron tidak lagi populer, dan hanya 17 persen rakyat Prancis yang masih mempercayainya, sementara 73 persen menginginkannya mundur.
Artikel tersebut berlanjut: Di sisi lain, bahkan rekan dan sekutu Macron, yang seharusnya mendukungnya, justru menjauhkan diri darinya. Perdana Menteri Prancis Édouard Philippe telah menyerukan pengunduran dirinya.
Courrier Internasional menambahkan: Prancis terbebani utang besar sebesar 3,3 triliun euro. Parlementerisme sedang mengalami krisis dan tiga blok—kiri, moderat, dan kanan dengan Front Nasional—saling menetralkan. Undang-undang baru jarang disahkan. Macron sudah lelah, ia tak lagi menginspirasi kepercayaan. Jika kelumpuhan pemerintah adalah harga yang harus dibayar untuk melawan Front Nasional, maka sudah saatnya untuk mengundurkan diri.
Para pakar politik mengatakan bahwa salah satu alasan utama ketidakpopuleran Macron adalah reformasi ekonomi yang berat, seperti menaikkan usia pensiun dan melonjaknya pengeluaran, yang telah membebani kehidupan sebagian besar rakyat Prancis.
Sementara itu, popularitasnya telah jatuh ke level terendah, yaitu 11 persen, menurut jajak pendapat baru yang diterbitkan pada hari Kamis.
Menurut survei yang dilakukan oleh Virian Institute untuk majalah Prancis Le Figaro, Macron, yang terpilih sebagai presiden pada tahun 2017 dan 2022, mengalami penurunan tingkat penerimaan sebesar lima poin persentase sejak September. Penurunan ini khususnya signifikan di kalangan penduduk berusia di atas 65 tahun (-11 persen) dan pensiunan (-9 persen).
Tingkat popularitas ini setara dengan tingkat terendah yang dicapai oleh François Hollande, mantan presiden Sosialis Prancis (2012-2017), pada November 2016.
"Banyak orang Prancis percaya bahwa Macron secara pribadi bertanggung jawab atas krisis saat ini, karena ia menjerumuskan negara ke dalam kebuntuan politik dengan keputusannya untuk membubarkan Majelis Nasional pada Juni 2024," kata analis politik Bruno Cautrès.
Para pakar politik memperingatkan bahwa jika tingkat penerimaan Presiden Prancis Emmanuel Macron turun di bawah 10 persen, ini akan menjadi pertama kalinya dalam sejarah Prancis seorang presiden mencapai tingkat ketidakpuasan publik seperti itu. (MF)