Apakah Ancaman Tarif Trump Merupakan Tanda Kekuatan atau Pengakuan Kebuntuan?
https://parstoday.ir/id/news/world-i184054-apakah_ancaman_tarif_trump_merupakan_tanda_kekuatan_atau_pengakuan_kebuntuan
Pars Today – Presiden Amerika dalam ungkapan terbaru bernada ancaman, negara-negara yang berinteraksi dengan Iran akan menjadi target.
(last modified 2026-01-19T14:19:49+00:00 )
Jan 13, 2026 18:31 Asia/Jakarta
  • Apakah Ancaman Tarif Trump Merupakan Tanda Kekuatan atau Pengakuan Kebuntuan?

Pars Today – Presiden Amerika dalam ungkapan terbaru bernada ancaman, negara-negara yang berinteraksi dengan Iran akan menjadi target.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dalam pernyataan terbarunya kembali mengancam negara‑negara yang melakukan perdagangan dengan Iran dan berusaha membuat mereka enggan untuk menjalin hubungan dagang dengan Teheran. Ia mengatakan: “Setiap negara yang melakukan transaksi dagang dengan Iran akan dikenai tarif bea masuk sebesar 25 persen untuk setiap transaksi.”

 

Trump kembali mengeluarkan ancaman terhadap mitra dagang Iran, yang menurut laporan tersebut lebih mencerminkan kebijakan lama Washington yang telah berulang kali diuji selama bertahun‑tahun namun tidak mencapai hasil yang diinginkan, daripada sebuah strategi baru.

 

Ancaman penerapan tarif 25 persen terhadap negara‑negara yang berinteraksi ekonomi dengan Iran pada dasarnya merupakan upaya untuk menghidupkan kembali kebijakan tekanan maksimum dengan wajah baru; tekanan yang kali ini tidak hanya ditujukan kepada Teheran, tetapi juga kepada pihak ketiga dan mitra dagang Iran. Pendekatan ini menunjukkan bahwa Amerika Serikat masih berusaha meningkatkan biaya kerja sama dengan Iran melalui perluasan ancaman, serta menciptakan lingkungan ekonomi dan politik yang merugikan bagi Teheran.

 

Dalam kenyataannya, dengan retorika semacam ini Trump menunjukkan bahwa alat utama dalam kebijakan luar negerinya adalah bahasa tekanan dan paksaan. Padahal pengalaman telah membuktikan bahwa bahasa ini lebih banyak memiliki fungsi media dan propaganda daripada efektivitas praktis. Pelaksanaan ancaman semacam itu akan membawa Amerika Serikat ke dalam perselisihan hukum dan perdagangan yang rumit dengan berbagai negara; negara‑negara yang banyak di antaranya tidak hanya memiliki ketergantungan serius pada pasar Iran, tetapi juga tidak bersedia mengorbankan hubungan ekonomi mereka demi keputusan sepihak Washington. Dari sudut pandang ini, ancaman Trump lebih merupakan perang psikologis dan upaya menimbulkan ketakutan di ruang internasional daripada sebuah kebijakan yang dapat dijalankan.

 

Dalam kondisi seperti itu, ancaman baru ini lebih mencerminkan kebingungan strategis Amerika daripada tanda kekuatan. Kebingungan ini bersumber dari ketidakmampuan Washington untuk mengubah perilaku Iran. Dengan mengulang kebijakan masa lalu, Trump pada dasarnya menunjukkan bahwa ia tidak memiliki alat baru untuk menekan, dan terpaksa menyajikan pola lama dengan wajah baru.

 

Terlebih lagi, ancaman ini muncul ketika Amerika sendiri menghadapi tantangan ekonomi dan politik domestik yang beragam. Kenaikan biaya hidup, dampak kebijakan tarif sebelumnya, serta perbedaan serius dalam struktur pemerintahan Amerika telah membuat banyak analis menilai bahwa sikap semacam ini adalah upaya untuk mengalihkan perhatian publik dan menampilkan citra kekuasaan di arena luar negeri. Pada kenyataannya, dengan menonjolkan ancaman eksternal, Trump berusaha menutupi kelemahan internal dan menampilkan dirinya sebagai politikus tegas; sebuah gambaran yang lebih merupakan produk kebutuhan politik domestik daripada cerminan realitas.

 

Dalam menghadapi retorika tersebut, posisi Republik Islam Iran digambarkan memiliki konsistensi dan kejelasan lebih besar. Teheran berulang kali menekankan bahwa ancaman dan tekanan tidak akan membuka jalan bagi dialog, melainkan justru memperdalam ketidakpercayaan. Berdasarkan pengalaman masa lalu, Iran memahami bahwa politik tekanan tidak menghasilkan hasil nyata, bahkan menempatkan pihak lawan dalam posisi lemah. Para pejabat Iran berulang kali menyatakan bahwa Iran tidak mencari eskalasi ketegangan, tetapi juga tidak akan mundur menghadapi ancaman.

 

Sesungguhnya, ancaman Trump terhadap sekutu dan mitra dagang Iran dianggap sebagai tanda ketidakmampuan Amerika Serikat untuk memengaruhi Iran secara langsung. Ketika Washington tidak dapat memaksa Teheran untuk menyerah, ia berusaha memperluas lingkaran tekanan ke sekitar Iran. Namun kebijakan ini juga menghadapi batasan serius. Banyak negara, khususnya di Asia dan kawasan Asia Barat, telah menyimpulkan bahwa kepatuhan mutlak terhadap kebijakan Amerika tidak selalu menjamin kepentingan nasional mereka. Seperti yang ditegaskan oleh Liu Pengyu, juru bicara Kedutaan Besar Tiongkok di Washington, Beijing menentang setiap bentuk sanksi sepihak dan ilegal, dan akan mengambil langkah yang diperlukan untuk melindungi hak serta kepentingan sahnya.

 

Pada kenyataannya, sikap Iran menunjukkan bahwa negara ini siap untuk berinteraksi secara logis dan penuh hormat, tetapi tidak menerima negosiasi di bawah tekanan. Seyed Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran, berulang kali menekankan bahwa Teheran siap mempertimbangkan solusi politik, dengan syarat lingkungan ancaman dan paksaan dihapuskan.

 

Dalam kondisi seperti ini, retorika baru Trump terhadap sekutu Iran harus dipandang dalam kerangka kebuntuan strategis Amerika Serikat terhadap Teheran. Setelah bertahun‑tahun melakukan sanksi, ancaman, dan tekanan, Washington masih belum berhasil mencapai tujuannya. Oleh karena itu, ancaman terhadap negara‑negara pihak ketiga lebih menyerupai upaya menjaga penampilan daripada sebuah kebijakan nyata yang dapat dijalankan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa politik tekanan maksimum tidak hanya gagal, tetapi juga telah mencapai titik kelelahan.

 

Sebaliknya, Iran dengan menonjolkan logika perlawanan dan penekanan pada diplomasi bermartabat, berusaha menampilkan kegagalan Amerika secara nyata. Semakin Washington menggunakan bahasa ancaman, semakin besar pula motivasi Iran dan mitranya untuk menemukan jalur alternatif kerja sama dan mengurangi ketergantungan pada sistem ekonomi yang didominasi Amerika.

 

Pada akhirnya, dapat dikatakan bahwa retorika Trump yang kembali diarahkan terhadap sekutu Iran lebih menegaskan kenyataan bahwa kebijakan berbasis ancaman Amerika telah mencapai titik jenuh. Baik ancaman tarif 25 persen maupun retorika keras tidak mampu mengubah perhitungan, karena dunia saat ini lebih dari sebelumnya telah menyadari bahwa tekanan tidak dapat menggantikan solusi. (MF)