Berlanjutnya Kerja Sama Tehran-Caracas; Simbol Perlawanan Melawan Tekanan AS
https://parstoday.ir/id/news/world-i184332-berlanjutnya_kerja_sama_tehran_caracas_simbol_perlawanan_melawan_tekanan_as
Pars Today – Presiden sementara Venezuela menegaskan bahwa Caracas akan melanjutkan hubungan dengan Iran.
(last modified 2026-01-19T11:00:57+00:00 )
Jan 19, 2026 17:59 Asia/Jakarta
  • Delcy Rodríguez, presiden sementara Venezuela
    Delcy Rodríguez, presiden sementara Venezuela

Pars Today – Presiden sementara Venezuela menegaskan bahwa Caracas akan melanjutkan hubungan dengan Iran.

Menurut laporan Pars Today, Delcy Rodríguez, presiden sementara Venezuela, dengan menekankan bahwa Venezuela berhak menjalin hubungan dengan seluruh negara, termasuk Iran, Tiongkok, dan Rusia, menegaskan bahwa Venezuela akan terus mempertahankan hubungan dengan Tehran.

 

Pernyataan presiden sementara Venezuela ini disampaikan setelah sebelumnya Esmail Baghaei, juru bicara Kementerian Luar Negeri Republik Islam Iran, juga menegaskan kelanjutan hubungan Caracas dengan Tehran dan menyatakan bahwa hubungan Iran dengan Venezuela selalu didasarkan pada saling menghormati dan kepentingan bersama, serta diharapkan dapat terus berlanjut.

 

Beberapa minggu setelah serangan militer Amerika Serikat terhadap Venezuela dan penculikan Nicolás Maduro, presiden negara tersebut, sikap para pejabat Caracas memasuki tahap yang lebih tegas dan bermakna. Dalam konteks ini pula penegasan Rodríguez, presiden sementara Venezuela, mengenai kelanjutan hubungan negaranya dengan Iran harus dipahami—terutama mengingat pernyataan tersebut disampaikan ketika situasi politik Venezuela masih berada di bawah pengaruh intervensi langsung militer Washington dan upaya Amerika Serikat untuk memaksakan kehendaknya atas struktur kekuasaan di Caracas.

 

Pentingnya pernyataan ini menjadi berlipat ganda ketika kita meninjaunya dalam konteks pertentangan terbuka dengan tuntutan Donald Trump dan kebijakan tekanan maksimum Amerika Serikat. Pemerintah AS, yang dalam beberapa tahun terakhir menjadikan sanksi, ancaman, dan intervensi sebagai alat utama diplomasi terhadap Venezuela, kini melalui tindakan militer langsung dan penculikan presiden sah negara tersebut, berupaya mendefinisikan ulang arah politik masa depan Caracas. Namun demikian, penegasan presiden sementara Venezuela mengenai kelanjutan hubungan dengan Iran menyampaikan pesan yang jelas dan tanpa tedeng aling‑aling kepada Washington: tekanan, ancaman, bahkan tindakan militer sekalipun tidak dapat memaksa Venezuela untuk mundur.

Pada kenyataannya, keberlanjutan kerja sama dengan Republik Islam Iran pada periode ini bukan sekadar sebuah pilihan diplomatik, melainkan telah berubah menjadi simbol pembangkangan sadar terhadap tatanan yang dipaksakan oleh Amerika Serikat. Dengan sikap ini, Caracas menunjukkan bahwa mereka tidak bersedia mengorbankan kedaulatan nasional demi memenuhi kehendak Gedung Putih, dan bahwa penentuan arah hubungan luar negeri adalah hak mutlak mereka sendiri. Pendekatan ini, terutama setelah penculikan Nicolás Maduro, memperoleh makna yang lebih mendalam dan telah menjadi bagian dari wacana perlawanan politik terhadap unilateralisme Amerika Serikat.

 

Dalam cakupan yang lebih luas, hubungan Venezuela dengan Iran memiliki dimensi politik yang penting. Kedua negara selama bertahun‑tahun menghadapi sanksi luas, tekanan diplomatik, dan upaya untuk mengubah struktur kekuasaan dari luar. Pengalaman bersama ini telah menjadi dasar bagi terbentuknya konvergensi politik antara Tehran dan Caracas; sebuah konvergensi yang berupaya menawarkan narasi baru tentang tatanan internasional—tatanan di mana negara‑negara tidak harus mencari persetujuan Washington demi memperoleh legitimasi dan kelangsungan, dan dapat membentuk aliansi independen berdasarkan kepentingan bersama. Dari sudut pandang ini, penegasan atas kelanjutan hubungan dengan Iran merupakan bentuk redefinisi kedaulatan nasional; kedaulatan yang menolak intervensi asing dan membangun kebijakan luar negeri berdasarkan independensi dan multilateralitas.

 

Dalam dimensi ekonomi, keterhubungan Tehran–Caracas juga merupakan respons pragmatis terhadap realitas ekonomi yang ada. Kedua negara menghadapi keterbatasan serius dalam mengakses pasar keuangan global, teknologi maju, dan rantai pasokan internasional. Oleh karena itu, kerja sama di bidang‑bidang seperti energi, transportasi, pertanian, dan perdagangan barter memungkinkan Venezuela mengurangi sebagian tekanan ekonomi dan menemukan jalur alternatif untuk memenuhi kebutuhannya.

 

Melampaui aspek ekonomi dan politik bilateral, penegasan atas kelanjutan hubungan dengan Iran membawa pesan yang lebih luas bagi komunitas internasional. Dengan memilih jalur yang independen, Caracas menyatakan bahwa kebijakan luar negeri tidak dapat didikte melalui ancaman, sanksi, atau tindakan militer. Sikap ini sejalan dengan prinsip‑prinsip dasar hukum internasional dan asas non‑intervensi dalam urusan internal negara‑negara lain—prinsip yang dalam beberapa tahun terakhir, khususnya terhadap Venezuela, telah berulang kali diabaikan oleh pemerintah Amerika Serikat. Dengan mempertahankan haknya untuk memilih mitra internasional, Venezuela berupaya menunjukkan bahwa masih ada ruang untuk melawan unilateralisme.

 

Pada akhirnya, penegasan presiden sementara Venezuela mengenai kelanjutan hubungan dengan Iran harus dipandang sebagai keputusan yang sah, sadar, dan berlandaskan kepentingan nasional; sebuah keputusan yang bukan sekadar respons sementara terhadap tekanan Amerika Serikat, melainkan bagian dari strategi besar Caracas untuk menjaga kemandirian politik, membangun kembali kapasitas ekonomi, dan mendefinisikan ulang posisinya dalam tatanan global. (MF)