Pengakuan Washington yang Terlambat: Mengulangi Kegagalan Kebijakan Subversi AS terhadap Iran
https://parstoday.ir/id/news/world-i185346-pengakuan_washington_yang_terlambat_mengulangi_kegagalan_kebijakan_subversi_as_terhadap_iran
Pars Today – Pernyataan Wakil Presiden Amerika Serikat tentang tidak adanya keterlibatan Washington dalam mengubah sistem politik Iran, bersamaan dengan peringatan ke-47 kemenangan Revolusi Islam, kembali menyoroti kegagalan kebijakan subversif AS selama beberapa dekade; pendekatan yang meskipun terjadi pergantian pemerintahan di Gedung Putih, tetap dijalankan dengan berbagai alat namun dengan tujuan yang sama.
(last modified 2026-02-12T12:10:36+00:00 )
Feb 12, 2026 19:08 Asia/Jakarta
  • JD Vance dan Donald Trump
    JD Vance dan Donald Trump

Pars Today – Pernyataan Wakil Presiden Amerika Serikat tentang tidak adanya keterlibatan Washington dalam mengubah sistem politik Iran, bersamaan dengan peringatan ke-47 kemenangan Revolusi Islam, kembali menyoroti kegagalan kebijakan subversif AS selama beberapa dekade; pendekatan yang meskipun terjadi pergantian pemerintahan di Gedung Putih, tetap dijalankan dengan berbagai alat namun dengan tujuan yang sama.

Belakangan ini, publikasi wawancara dengan “JD Vance,” Wakil Presiden AS, mendapatkan sorotan luas. Dalam wawancara itu, Vance menegaskan: "Jika rakyat Iran ingin menggulingkan sistem, itu urusan mereka sendiri, bukan kita; fokus kita adalah mencegah Iran memperoleh senjata nuklir."

 

Pernyataan wakil presiden AS ini muncul di tengah tahun-tahun sebelumnya di mana dukungan terbuka maupun tersembunyi beberapa pejabat AS terhadap aliran oposisi dan kerusuhan internal di Iran selalu menjadi bahan perdebatan.

 

Dari perspektif beberapa pengamat, sikap Vance baru-baru ini dianggap sebagai tanda realisme terhadap kompleksitas internal Iran dan keterbatasan efektivitas kebijakan tekanan eksternal. Sebelumnya, “Antony Blinken,” Menteri Luar Negeri pemerintahan Biden, dengan menyinggung kegagalan pengalaman Amerika dalam mengubah rezim selama dua dekade terakhir, mengakui bahwa kebijakan tersebut "tidak mencapai kesuksesan signifikan." Blinken juga menekankan kompleksitas sosial dan politik Iran serta keberadaan beragam spektrum pemikiran di negara ini.

 

Namun demikian, para analis berpendapat bahwa perubahan retorika resmi tidak berarti berakhirnya tekanan; karena dalam beberapa tahun terakhir, Washington telah memanfaatkan alat-alat seperti sanksi, tekanan diplomatik, isu hak asasi manusia, dan dukungan media terhadap pihak oposisi untuk melakukan tekanan.

 

Dalam kondisi seperti ini, rakyat Iran pada hari Rabu, 11 Februari, bersamaan dengan peringatan ke-47 kemenangan Revolusi Islam, di berbagai kota di seluruh negeri, termasuk ibu kota, sekali lagi menjawab panggilan pemimpin Revolusi Islam dengan mengekspresikan kesetiaan kepada Republik Islam dan menunjukkan tekad serta keteguhan mereka, sehingga membuat musuh kecewa. Di tengah itu, pejabat sipil dan militer berjalan seiring dengan rakyat, memberikan jawaban tegas dan kuat terhadap khayalan para konspirator, menunjukkan kesiapan dan ketahanan. (MF)