Iran: "Negosiasi Jalan, Rudal-Hormuz Opsi"
-
Bendera Republik Islam Iran dan rudal
ParsToday - Dengan meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, Tehran meskipun melanjutkan negosiasi, menegaskan bahwa semua opsi masih terbuka.
Melaporkan dari ParsToday, Senin, 16 Februari 2026, dengan meningkatnya ketegangan antara Iran dan AS serta meningkatnya tingkat ancaman militer Washington, Tehran meskipun melanjutkan negosiasi, menegaskan bahwa semua opsi, dari rudal hingga penutupan Selat Hormuz, masih terbuka.
Letnan Jenderal Sayid Abdolrahim Mousavi, Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran, pada 1 Februari merujuk pada ancaman musuh dan mengatakan, "Kesalahan sekecil apa pun akan membuka tangan kami untuk bertindak, dan dunia akan menyaksikan wajah berbeda dari Iran yang kuat. Saat itu, tak ada seorang Amerika pun yang akan aman, dan api kawasan akan membakar Amerika serta para pengikutnya."
Sayid Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran, juga pada 16 Februari merujuk pada kedatangannya di Jenewa dengan membawa inisiatif nyata untuk mencapai kesepakatan yang adil dan berimbang, menegaskan, "Apa yang sama sekali tidak dalam agenda adalah takluk terhadap ancaman."
Sikap Iran yang melanjutkan negosiasi tetapi tetap membuka semua opsi dapat dipahami sebagai kombinasi dari penangkalan militer, pembentukan pengaruh geopolitik, dan manajemen ruang diplomatik. Pernyataan ini pada dasarnya adalah pesan berlapis kepada berbagai aktor: kepada rakyat Iran untuk kohesi internal, kepada Amerika untuk mengukur tekad dan biaya, serta kepada aktor regional dan pasar energi untuk mengingatkan sensitivitas keseimbangan di Teluk Persia.
Lapisan pertama adalah penangkalan militer. Penyebutan "rudal" dalam literatur resmi berarti penekanan pada kemampuan domestik di bidang rudal dan drone yang selama beberapa tahun terakhir didefinisikan sebagai pilar utama doktrin pertahanan. Kemampuan ini, meskipun memiliki kegunaan militer luar biasa, fungsi utamanya adalah menciptakan ketidakpastian bagi pihak lawan dan meningkatkan biaya setiap tindakan militer langsung.
Dalam kerangka doktrin penangkalan, demonstrasi kapasitas respons balasan yang cepat dan multi-level dapat mengubah kalkulasi lawan dan mengarahkan situasi menuju manajemen krisis. Dalam Perang 12 Hari rezim Zionis melawan Iran, Tehran menunjukkan bahwa beberapa rudal hipersonik "Fattah" dan "Khaibar Shekan" mampu menghancurkan pusat penelitian militer, kilang minyak, dan infrastruktur ekonomi Israel.
Meskipun baru-baru ini Letnan Jenderal Mousavi, dalam menyatakan perubahan doktrin militer Iran, mengatakan, "Setelah Perang 12 Hari dan kelanjutan tindakan licik Amerika-Zionis, kami merevisi doktrin pertahanan negara dan mengubahnya menjadi doktrin ofensif angkatan bersenjata, berdasarkan pendekatan operasi kilat dan luas, dengan mengadopsi strategi militer yang tidak konvensional dan menghancurkan. Berdasarkan ini, tindakan kami akan cepat, tegas, dan di luar perhitungan Amerika."
Lapisan kedua adalah pengaruh geopolitik, yang ditonjolkan dengan penyebutan Selat Hormuz. Jalur ini adalah salah satu arteri energi terpenting dunia, dan setiap ancaman terhadap keamanannya memiliki konsekuensi langsung bagi pasar minyak, asuransi pelayaran, dan keamanan pasokan global. Penyebutan titik sensitif ini lebih merupakan alat tawar-menawar dan pengingat "kemampuan pengaruh tidak langsung" daripada indikasi niat untuk bertindak. Dalam lingkungan di mana keamanan energi sangat bergantung pada stabilitas Teluk Persia, bahkan peningkatan risiko persepsi dapat menggeser harga dan meningkatkan tekanan politik di tingkat internasional.
Oleh karena itu, jika situasi menjadi sulit bagi Iran, ada opsi bahwa jalur pertukaran dan transit barang bagi negara-negara dunia juga akan berlangsung dengan kesulitan, dan hal ini dapat diwujudkan dengan menutup Selat Hormuz. Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran, dengan memiliki rudal pantai-ke-laut dan menggunakan taktik tiga serangkai "rudal anti-kapal, ranjau laut, kapal patroli", dapat melaksanakan hal ini.
Lapisan ketiga adalah manajemen simultan medan dan diplomasi. Penekanan pada kelanjutan negosiasi di samping mengemukakan opsi-opsi keras adalah upaya untuk menjaga saluran komunikasi tanpa melepaskan pengaruh. Pendekatan ini menunjukkan Tehran berusaha di satu sisi membuka pintu dialog untuk mencegah akumulasi ketegangan, dan di sisi lain dengan menonjolkan opsi-opsi mahal, memperkuat posisi tawarnya. Dalam kerangka seperti ini, bahasa ancaman belum tentu indikasi keinginan untuk konfrontasi, tetapi merupakan bagian dari "bahasa kekuatan" dalam negosiasi yang sulit.
Secara keseluruhan, sikap Iran dapat dipahami sebagai upaya membangun "payung penangkalan multidimensi" sambil tetap membuka jalur diplomasi. Pesan utamanya adalah: negosiasi bermakna ketika biaya kegagalannya nyata bagi semua pihak. Pada saat yang sama, sikap Tehran mengandung pesan bahwa Iran siap sepenuhnya merespons semua skenario yang mungkin terjadi dari musuh, terutama Amerika dan rezim Zionis.(sl)