Munich Sirkus
https://parstoday.ir/id/news/world-i185458-munich_sirkus
ParsToday - Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran menegaskan sangat disesalkan bahwa Konferensi Keamanan Munich, yang biasanya dianggap sebagai acara serius dan kredibel, telah berubah menjadi "Sirkus Munich" dalam membahas isu Iran.
(last modified 2026-02-15T10:03:39+00:00 )
Feb 15, 2026 15:47 Asia/Jakarta
  • Konferensi Keamanan Munich
    Konferensi Keamanan Munich

ParsToday - Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran menegaskan sangat disesalkan bahwa Konferensi Keamanan Munich, yang biasanya dianggap sebagai acara serius dan kredibel, telah berubah menjadi "Sirkus Munich" dalam membahas isu Iran.

Sayid Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran, di media sosial menulis bahwa Uni Eropa tampak bingung. Akar kebingungan ini terletak pada ketidakmampuannya memahami perkembangan yang terjadi di dalam Iran. Arah kebijakan Eropa secara keseluruhan sangat buruk dan mengkhawatirkan.

Menteri Luar Negeri Iran menegaskan bahwa dari perspektif strategis, Uni Eropa yang tidak memiliki tujuan dan telah kehilangan seluruh bobot geopolitiknya di kawasan. Secara spesifik, Jerman menjadi pelopor penyerahan total kebijakan regionalnya kepada rezim Israel.

Araghchi melanjutkan bahwa kelumpuhan dan ketidakberartian Uni Eropa serta Troika Eropa dalam perkembangan terkait negosiasi program nuklir Iran saat ini terlihat dengan jelas.

Menteri Luar Negeri Iran juga menegaskan bahwa Eropa, yang dulu merupakan salah satu pihak utama dalam dialog, kini tak tampak pengaruhnya. Sebaliknya, sahabat-sahabat Iran di kawasan terbukti jauh lebih efektif dan bermanfaat daripada Troika Eropa yang tidak berdaya dan terpinggirkan ini.

Konferensi Keamanan Munich ke-62 di Jerman berlangsung dalam situasi di mana Uni Eropa dan para pemimpin negara Barat sangat bergantung pada Amerika Serikat untuk menyuarakan tuntutan dan rencana mereka.

Uni Eropa, terutama pasca-perang Ukraina, di bidang pertahanan dan keamanan siber lebih dari sebelumnya bergantung pada payung keamanan Amerika. Ketergantungan ini menyebabkan dalam isu-isu kunci seperti Iran, kebijakan Brussels mau tidak mau harus selaras dengan Washington, bahkan jika kebijakan tersebut bertentangan dengan kepentingan ekonomi atau diplomatik Eropa.

Lobi-lobi yang terafiliasi dengan rezim Zionis di negara-negara Eropa, terutama di Jerman, juga memainkan peran efektif dalam pembentukan kebijakan anti-Iran Gedung Putih.

Dari perspektif Iran dan banyak analis independen, Eropa bukan lagi aktor yang "berprinsip", melainkan telah berubah menjadi agen politik Washington dan Tel Aviv. Akibatnya, Eropa kehilangan kemampuan untuk berdialog dengan aktor-aktor independen, terutama Iran, dan gagal memahami perkembangan internal dan regional.

Di tingkat regional dan global, dunia tengah beralih dari sistem unipolar di bawah dominasi Amerika menuju sistem multipolar. Eropa telah kehilangan inisiatif geopolitiknya. Sementara itu, negara-negara kawasan termasuk Iran, Turki, Arab Saudi, Qatar, dan Mesir telah menjadi pengambil keputusan utama dalam berbagai perkembangan.

Di tingkat global, Tiongkok, Rusia, Iran, India, dan Brasil tengah membentuk blok ekonomi dan finansial baru. Sementara itu, Eropa terjerat dalam krisis energi, ekonomi, dan penguatan kelompok sayap kanan ekstremis, sehingga kehilangan kemampuan pengaruhnya.

Republik Islam Iran melalui keanggotaannya di Organisasi Kerja Sama Shanghai, kelompok BRICS, serta kesepakatan bilateral dengan Rusia, Tiongkok, dan negara-negara Teluk Persia, telah memperluas hubungan internasional dan regionalnya, serta berhasil membentuk kerangka baru dalam politik luar negerinya.

Model baru Iran terbentuk berdasarkan "keamanan regional tanpa ketergantungan". Model yang memandang negara-negara tetangga bukan sebagai ancaman, melainkan mitra potensial dalam tatanan yang stabil. Ketika sebuah aktor (seperti Uni Eropa) tidak memiliki kemandirian strategis, ia tidak lagi sekadar mencari solusi, melainkan mencari cara untuk menunjukkan keselarasan dan loyalitas kepada aktor utama (Amerika).

Hal ini menyebabkan konferensi-konferensi seperti Munich, alih-alih menjadi tempat dialog konstruktif, berubah menjadi panggung pernyataan klise dan tidak praktis yang tak berdampak pada realitas lapangan. Dari sudut pandang Iran, acara semacam itu menemukan sifatnya yang teatrikal dan menghibur.(sl)