Ketika Kekuasaan Trump Membungkam Ilmu Pengetahuan di Harvard
https://parstoday.ir/id/news/world-i185408-ketika_kekuasaan_trump_membungkam_ilmu_pengetahuan_di_harvard
ParsToday - Kisah Universitas Harvard di bawah tekanan Trump dan Pentagon mengingatkan bahwa bahkan lembaga ilmiah paling bergengsi pun dapat menjadi sasaran ambisi politik dan ekonomi Presiden Amerika Serikat.
(last modified 2026-02-14T09:28:05+00:00 )
Feb 14, 2026 16:12 Asia/Jakarta
  • Protes di Universitas Harvard
    Protes di Universitas Harvard

ParsToday - Kisah Universitas Harvard di bawah tekanan Trump dan Pentagon mengingatkan bahwa bahkan lembaga ilmiah paling bergengsi pun dapat menjadi sasaran ambisi politik dan ekonomi Presiden Amerika Serikat.

Manuver pemerintahan Donald Trump terhadap institusi ilmiah dan akademis dalam beberapa bulan terakhir mencapai titik yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Melaporkan dari Nournews, ParsToday, Sabtu, 14 Februari 2026, menulis bahwa apa yang terjadi sebagai kampanye terhadap universitas dan kalangan elit, khususnya Harvard, melampaui sekadar perselisihan politik biasa. Tindakan ini dinilai sebagai serangan sistematis terhadap independensi ilmiah dan kebebasan penelitian. Pemerintah Trump, dengan menggunakan anggaran federal sebagai alat, berupaya memaksa universitas untuk tunduk pada tuntutan politik dan ideologisnya.

Tekanan Finansial yang Belum Pernah Terjadi

Contoh terbaru dari tekanan ini adalah keputusan Pentagon di bawah pimpinan Pete Hegseth, Menteri Pertahanan AS, untuk menghentikan semua program pelatihan militer, beasiswa, dan kontrak kerja sama dengan Universitas Harvard. Hegseth menyebut Universitas Harvard sebagai "pusat kegiatan kebencian terhadap Amerika" dan menyatakan bahwa kehadiran militer di universitas tersebut tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.

Menurut laporan Associated Press, langkah ini menunjukkan eskalasi signifikan dalam konflik berkepanjangan antara pemerintahan Trump dan universitas terkait tuntutan Gedung Putih untuk reformasi. Tindakan ini merupakan kelanjutan dari kampanye luas di mana pemerintahan Trump menuntut ganti rugi satu miliar dolar dari Harvard atas tuduhan antisemitisme.

Tuntutan ini diajukan setelah sebelumnya pemerintahan Trump membekukan dana universitas karena ketidaksejalanannya dengan kebijakan pemerintah. Seorang hakim federal menyatakan tindakan pemerintah tersebut ilegal dan melanggar kebebasan berekspresi universitas, serta menggambarkannya sebagai kedok untuk tujuan lain. Meskipun demikian, pemerintah AS mengabaikan putusan pengadilan dan melanjutkan kampanye tekanannya.

Dalam hal ini, Stephen Walt, profesor Universitas Harvard, menulis dalam Foreign Policy, "Apakah kita pada akhirnya menyaksikan negara-negara yang hingga baru-baru ini dianggap sebagai teman dan sekutu dekat Amerika kini mulai melakukan penyeimbangan terhadap Amerika yang 'nakal'? Jika pergeseran ini benar-benar terjadi, maka harus dianggap sebagai transformasi fundamental dalam tatanan dunia. Transformasi yang, jika terwujud, lebih dari segalanya merupakan produk dari kesempitan strategis pemerintahan Trump dan kecenderungan agresif seorang presiden yang perilaku dan keputusannya semakin tidak dapat diprediksi."

Pola Penindasan dan Ancaman terhadap Kebebasan Akademik

Analisis menunjukkan bahwa perlakuan ini tidak hanya terjadi pada Universitas Harvard. Universitas Columbia terpaksa membayar sejumlah uang kepada pemerintah untuk memulihkan pendanaannya, sementara Universitas Brown juga harus berkompromi dengan program pengembangan tenaga kerja. Dalam skala yang lebih luas, Departemen Kehakiman AS telah meluncurkan investigasi terhadap puluhan universitas. Saksi dari departemen tersebut mengungkapkan bahwa mereka diperintahkan untuk hanya menargetkan universitas di negara bagian yang dikuasai Demokrat, sementara kasus-kasus di negara bagian Republik tidak ditindaklanjuti.

Senator Bernie Sanders dalam laporannya menyatakan bahwa pemerintahan Trump dalam berbagai kasus telah melakukan "pelanggaran atau potensi pelanggaran" terhadap Amandemen Pertama Konstitusi (kebebasan berekspresi). Berdasarkan laporan ini, pengadilan telah memperingatkan bahwa pemerintah AS sedang membersihkan pandangan kiri dan sosialis dari universitas serta bergerak menuju masyarakat yang otoriter.

Konsekuensi Nyata: Eksodus Elit dan Stagnasi Ilmiah

Ancaman pemerintahan Trump telah membawa konsekuensi langsung dan merusak bagi sistem ilmiah Amerika. Ketidakpastian akibat pemotongan dana penelitian federal memaksa universitas-universitas besar mengurangi penerimaan mahasiswa doktoral. Universitas Chicago, Harvard, Yale, dan Columbia secara drastis mengurangi penerimaan program doktor mereka. Universitas Duke terpaksa melakukan pemutusan hubungan kerja dan menutup gedung-gedung penelitian untuk menutupi defisit anggaran akibat kebijakan federal.

Sementara itu, eksodus elit ilmiah dari lembaga federal semakin cepat. Laporan menunjukkan bahwa di lembaga-lembaga federal, persentase signifikan staf bergelar doktor telah meninggalkan pekerjaan mereka selama setahun terakhir. Institut Kesehatan Nasional kehilangan lebih dari seribu peneliti doktoral. Penurunan tajam pendaftaran mahasiswa internasional juga menjadi peringatan bagi masa depan daya saing ilmiah Amerika.

Apa yang terjadi di Amerika saat ini melampaui sekadar kritik terhadap kebijakan universitas. Pemerintahan Trump, dengan semangat ekspansionis dan menggunakan instrumen keuangan, telah menargetkan independensi institusi ilmiah dan menantang secara serius kebebasan berekspresi dan penelitian.

Tindakan seperti pemotongan dana tanpa proses hukum, tuntutan finansial besar-besaran, dan ancaman terhadap peneliti menunjukkan pola terorganisir untuk menundukkan universitas pada ideologi negara. Konsekuensinya akan terlihat dalam waktu dekat berupa penurunan inovasi dan eksodus ilmuwan.(sl)