Bloomberg: Sejarah Buktikan AS Kerap Keliru Memahami Dinamika Iran
-
Presiden AS Donald Trump dan Republik Islam Iran
ParsToday - Bloomberg merujuk pada catatan kesalahan Amerika Serikat di masa lalu dan menegaskan bahwa Donald Trump tidak memiliki pemahaman yang memadai tentang Iran dan kompleksitasnya.
Media Amerika Bloomberg dalam laporannya, Jumat, 13 Februari 2026, menyoroti sejarah kesalahan perhitungan pemerintahan Amerika Serikat terhadap Iran selama beberapa dekade terakhir. Laporan ini menekankan bahwa Presiden Donald Trump tampaknya juga tidak memiliki pemahaman yang akurat dan komprehensif tentang Iran.
Melaporkan dari FNA, ParsToday mengutip laporan tersebut yang mengajukan pertanyaan sejauh mana Trump memahami Iran, negara yang dua kali dalam setahun terakhir diancamnya dengan tindakan militer. Bloomberg menegaskan pertanyaan ini bukan kritik personal, melainkan cerminan problem struktural dalam pemahaman para pembuat kebijakan Amerika terhadap kompleksitas Asia Barat. Kelemahan ini telah menghambat pengambilan keputusan Washington setidaknya sejak jatuhnya rezim Pahlavi tahun 1979, bahkan sebelumnya.
Bloomberg merujuk pada pernyataan Trump yang sporadis dan kadang kontradiktif mengenai alasan pengiriman armada kapal perang ke Teluk Persia. Laporan ini menilai wajar jika muncul pertanyaan tentang sejauh mana pemahaman Gedung Putih terhadap situasi Iran. Trump telah menyampaikan beragam tujuan, mulai dari penghentian total program nuklir, pembatasan rudal balistik, hingga penghentian dukungan Iran terhadap kekuatan proksi di kawasan.
Menurut laporan tersebut, sikap kontradiktif semacam ini hanya bisa dianggap sebagai strategi yang berhasil jika merupakan bagian dari pendekatan "gila tapi terukur", sebuah cara yang bertujuan menciptakan kebingungan di pihak lawan sambil menjalankan rencana matang di belakang layar.
Laporan ini juga menyoroti kemampuan Trump dalam menciptakan distraksi politik. Bloomberg menulis bahwa Trump mungkin memperhitungkan bahwa meskipun basis politiknya menentang perang di luar negeri dan sekutu regional khawatir, kemenangan militer cepat biasanya tidak menuai tentangan luas. Namun Bloomberg mengingatkan bahwa kemenangan semacam itu langka. Sekalipun tercapai, pengelolaan konsekuensinya memerlukan pemahaman mendalam tentang kondisi politik dan sosial negara sasaran.
Di bagian lain, Bloomberg menyatakan kepentingan Amerika dan Israel terhadap Iran tidak selalu identik. Meskipun Israel mencapai tingkat kesiapan intelijen tinggi, keruntuhan sebuah rezim adalah proses rumit, mahal, dan tak terduga. Diamnya Perdana Menteri Benjamin Netanyahu atas peningkatan kehadiran militer Amerika di Teluk Persia dinilai sebagai indikasi kehati-hatian. Israel tampaknya tidak menyetujui serangan terbatas simbolis karena berisiko memicu reaksi keras Iran tanpa keuntungan strategis.
Laporan ini merujuk pada pengalaman historis Amerika, mengutip pernyataan Presiden Jimmy Carter tahun 1977 yang menyebut Iran sebagai "pulau stabilitas", penilaian yang dilontarkan tak lama sebelum pecahnya revolusi. Saat itu, badan intelijen Amerika tak hanya gagal mengukur ketidakpuasan domestik, bahkan tak mengetahui secara akurat kondisi kesehatan Shah, meskipun Amerika memiliki kehadiran luas di Iran.
Bloomberg menyimpulkan bahwa pengambilan keputusan tentang Iran tanpa informasi akurat dan pemahaman mendalam tentang dinamika internalnya dapat membawa konsekuensi tak terduga bagi Amerika Serikat. Untuk menghindari pengulangan kesalahan masa lalu, Washington lebih dari apa pun membutuhkan pemahaman yang lebih tepat dan pendekatan yang lebih hati-hati.(sl)